<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078</id><updated>2012-01-27T11:20:04.689-08:00</updated><title type='text'>Kian Santang</title><subtitle type='html'>Seuweu Imam Ali Siwi Prabu Wangi, Rohaka joang Karbala na aweuhan ruhak Pakuan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-5813675392631168341</id><published>2008-12-18T23:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T23:46:30.048-08:00</updated><title type='text'>Sya'ir di Makam Sultan Malik al-Saleh</title><content type='html'>Seorang teman saya tidak pernah bermimpi mau ke Aceh sejak lahirnya.&lt;br /&gt;Namun setelah peristiwa Tsunami Aceh, dia ingin sekali ke sana melihat bekas-bekas dahsyatnya peristiwa tsunami. Akan tetapi dia selalu diliputi ketakutan terjadi tsunami lagi. Akhirnya awal tahun ini, dia nekad pergi ke sana bersama seorang sepupunya. Tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain bekas-bekas bencana tsunami di pesisir utara Aceh, juga tak ia lewatkan makam Sultan Malik al-Saleh, Sultan Kerajaan Islam pertama di Nusantara, Samudra Pasai,  yang terkenal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Makam Sultan Malik Al-Saleh, ia dapati di nisan makam tertulis sya'ir Imam Ali bin Abi Thalib a s dalam bahasa Arab yang artinya begini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dunia ini fana, tiada kekal, bagaikan sarang laba-laba; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, kau yang menuntut terlalu banyak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memadailah yang kau peroleh selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang umurnya pendek,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun namanya dikenang selamanya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berusia panjang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dilupa orang sesudah matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini bayang-bayang yang cepat berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tamu dimalam hari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi orang yang tidurnya nyenyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekilat cahaya yang bersinar di cakrawala harapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-5813675392631168341?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/5813675392631168341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=5813675392631168341' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5813675392631168341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5813675392631168341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2008/12/syair-di-makam-sultan-malik-al-saleh.html' title='Sya&apos;ir di Makam Sultan Malik al-Saleh'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-5898273787417093482</id><published>2008-12-18T01:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T01:46:03.510-08:00</updated><title type='text'>Guru, digugu hanya ketika diperlukan</title><content type='html'>Syarifah Aliah, teman lamaku yang hampir 20 tahun tidak pernah berjumpa. Dia adalah cucu Habib Usman Alaydarus (alm), ulama sekaligus pendiri Yayasan Assalam Bandung. Tulisannya tentang "guru" begitu menggugah, seolah mewakili jeritan hati para guru yang nasibnya tidak sebaik jasanya, juga menyadarkan orang-orang -seperti aku- yang selama ini tidak mampu (atau tidak mau) membalas kebaikan para guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarifah, aku minta ijin tulisanmu kupampang diblog sederhana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, "Digugu" hanya Ketika Diperlukan&lt;br /&gt;PIKIRAN RAKYAT, Kamis 18 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh SYARIFAH ALIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku &lt;br /&gt;Engkau patriot pahlawan bangsa.&lt;br /&gt;Tanpa tanda jasa…&lt;br /&gt;(Himne Guru karya Sartono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA dua bom atom dijatuhkan di dua kota besar di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, luluh lantaklah kedua kota yang dibanggakan negeri matahari itu. Kedua benda mematikan itu sengaja dikirim pasukan tentara Amerika dibawa pesawat berjenis B-29 yang berangkat dari pangkalan militer bernama Pearl Harbor di pulau O`ahu - Hawaii, sebuah balasan atas serangan Jepang terhadap pangkalan angkatan laut AS itu pada 8 Desember 1941.(http://id.wikipedia.org/wiki/Pearl_Harbor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian puluh detik berikutnya, ribuan mayat yang bergelimpangan, bau amis darah dan daging hangus menyengat hidung, begitu pun semua bangunan rata dengan tanah disertai abu tak henti beterbangan. Api berkobar di mana-mana, membakar segala apa yang terimbas dari bom atom yang berkekuatan mahadahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu sang kaisar, Hirohito, tertegun sejenak meratapi nasib kedua kota yang sangat diandalkannya. Namun, dia cepat beranjak dari lamunan dan segera memerintahkan kepada perdana menterinya untuk segera menghitung, Berapa orang guru yang tersisa dan masih hidup! (www.kebangkitan-indonesia.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kaisar ternyata berpandangan lain dan jauh ke depan. Dalam pikiran sang kaisar, sosok guru lebih berharga dibandingkan dengan aset negara yang lain sekalipun. Guru menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah bangsa. Hirohito memang cermat dalam memahami hal tentang pentingnya guru. Lihatlah Jepang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reposisi atau penataan kembali peran guru di Indonesia dalam dunia pendidikan perlu dilakukan. Ini terutama mengingat guru yang sebetulnya sangat berperan penting dan ikut menentukan kualitas pendidikan, namun pada kenyataannya selalu berada di pinggiran atau termarginalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terungkap dalam diskusi panel bertajuk "Reposisi Guru Dalam Tatanan Pendidikan Nasional Sebagai Infrastruktur Pengembangan Sumber Daya Manusia" di Gedung Guru, Jakarta, Kamis (Kompas, 29 Maret 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat pendidikan Winarno Surakhmad mengatakan, kondisi guru yang &lt;br /&gt;termarginalkan sekarang ini merupakan konsekuensi dari sistem pendidikan nasional yang memang merendahkan guru. Contoh kasus ujian akhir secara nasional yang amat menentukan kelulusan murid. Ini jelas-jelas tidak memercayai guru sebagai pihak yang mengevaluasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, ketika pemerintah mau meningkatkan kualitas pendidikan, yang dilakukan ialah perubahan kurikulum. Kurikulum itu kemudian dijadikan buku pintar untuk guru. Para guru diberi pelatihan agar dapat mengikuti kurikulum. Namun, hasilnya justru guru tidak menjadi lebih pintar dari kurikulum, by design guru malah menjadi bodoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah menjadi suratan takdir jika sosok guru sering diidentikkan dengan kemiskinan dan sebuah profesi pilihan terakhir. Pengebirian nasibnya malah tergambarkan dalam sebuah syair lagu fenomenal yang dilantunkan Iwan Fals yang berjudul "Umar Bakrie". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat sang murid sudah berwara-wiri memakai mobil 2 pintu, guru masih cukup berkutat dengan kendaraan 2 roda saja. Ketika sang murid sudah memiliki alat hiburan Playstation 3, gurunya baru dapat berekreasi mengajak anaknya bermain (play) ke stasiun (station) kereta api saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat guru menyalak sedikit, sang murid yang merasa tidak nyaman buru-buru mengadu kepada sang ibu (orang tuanya) yang diteruskan dengan pengaduan kepada kepala sekolah atau aparat hukum. Saat guru lelah rohani, guru diburu karena akhlaknya tidak lagi layak ditiru. Guru selalu menjadi sorotan walaupun masyarakat tidak tahu apa yang dia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya guru hanya "digugu" saat muridnya butuh nilai saja. Perintah guru akan ditaati kala beliau menjadi pengajarnya saja. Lihatlah guru saat tidak berwenang memberi nilai terhadap muridnya, dipastikan murid tak menghiraukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Guru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, guru TK Assalaam Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-5898273787417093482?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/5898273787417093482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=5898273787417093482' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5898273787417093482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5898273787417093482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2008/12/guru-digugu-hanya-ketika-diperlukan.html' title='Guru, digugu hanya ketika diperlukan'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-4549971791936691519</id><published>2008-02-13T00:00:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T00:17:07.780-08:00</updated><title type='text'>Benturan Peradaban itu antara Barat dengan Iran</title><content type='html'>NUKLIR IRAN DAN BENTURAN PERADABAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJALAH Foreign Affairs musim panas 1993 menerbitkan artikel yang kontroversial. Artikel yang ditulis oleh Samuel P. Huntington berjudul The Clash of Civilization? , dan akhirnya disempurnakan oleh penulisnya menjadi sebuah buku itu mengajukan tesis bahwa Islam akan menjadi seteru Barat di masa depan, pascaruntuhnya polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme, dengan hancurnya negara Uni Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan Islam oleh guru besar ilmu politik dari Universitas Harvard itu? Sangat mungkin jawabannya adalah Iran. Mengingat betapa luasnya wilayah Islam, dan betapa lemahnya posisi tawar umat Islam di kancah internasional hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah tidak logis untuk mengatakan bahwa semua negara Islam, atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah ancaman bagi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila Islam dispesifikasikan hanya menjadi Iran, maka akan menjadi lain ceritanya. Republik Islam Iran memanglah memiliki kekuatan yang perlu diperhitungkan untuk menerima "tantangan " Barat, baik dengan kekuatan fisik dan militer, ataupun terlebih lagi dengan kekuatan akal (rasio) dan produk pemikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang filsafat dan pemikiran, negeri para mullah itu telah banyak memberikan tandingan wacana atas pemikiran para filosof Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Ayatullah Murthadha Muthahhari dengan Masyarakat dan Sejarahnya. Dr. 'Ali Syari'ati dengan Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya. Juga karya monumental Mehdi Ha'iri Yazdi lewat Knowledge by Presence . Untuk yang disebut belakangan ini karyanya bahkan mendapatkan pujian dari William Chittick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUKLIR IRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kekuatan fisik dan militer Iran? Inilah yang akhir-akhir ini mendapat perhatian serius dari masyarakat internasional, berkaitan dengan kegiatan program pengembangan teknologi nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad telah menyatakan keberhasilan negeri Saman Al-Farisi itu dalam proses pengayaan uranium. Sampai pada tingkat telah memenuhi kebutuhan untuk keperluan pembangkit tenaga listrik sebesar 3,5%. Hal itulah yang membuat berang Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan George W. Bush. Washington bersikeras menuduh bahwa Iran akan mengembangkan teknologi nuklirnya sampai pada kemampuan memproduksi senjata nuklir. Sebaliknya Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan perdamaian. Sekadar untuk memenuhi kebutuhan industri dan listrik dalam negeri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden George W. Bush saat memberi sambutan di Universitas John Hopkins, New York, menegaskan bahwa dia (AS) tidak menginginkan Iran memiliki senjata nuklir, kapasitas membuat senjata nuklir, ataupun ilmu pengetahuan cara membuat senjata nuklir. Selain itu negeri Persia tersebut menurut Bush masuk dalam kategori Poros Setan (the evil axis) bersama dengan Kuba dan Korea Utara .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat historis hal ini tentunya dapatlah dimengerti. Di awal berdirinya, Republik Islam Iran telah mampu mempecundangi negara super power itu di mata dunia internasional. Lewat insiden pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran, yang terkenal dengan sebutan krisis sandera, dengan penyanderaan 52 staf diplomatiknya selama 444 hari (November 1979-Januari 1981) sebagai respon masyarakat Iran terhadap perlindungan AS atas Syah Reza Pahlevi, presiden Iran yang digulingkan rakyat lewat Revolusi Islam pimpinan Ayatullah Ruhullah Al- Musawi Al- Khomeini (Imam Khomeini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu didirikan Republik Islam Iran menggantikan monarkhi yang telah berusia 2.500 tahun. Imam Khomeini menyebut AS sabagai Setan Akbar. Ditambah dengan janji Sang Imam, untuk mengekspor revolusi Islam tersebut ke seluruh penjuru dunia. Semua itu tentu saja dibenci oleh AS, karena sangat bertentangan kepentingan politik dan ekonomi internasional AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi Iran yang telah berubah menjadi sebuah Republik Islam, AS segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran, dilakukan oleh Presiden Jimmy Carter (April 1980). Bersamaan itu diperlakukan pula embargo ekonomi sebagai balasan. Hal itu telah menciptakan kesulitan hidup bagi kebanyakan rakyat Republik Islam yang baru saja berdiri. Insiden ini pulalah yang mendorong Presiden Irak (saat itu) Saddam Hussein menginvasi Iran, yang berbuntut pada perang yang menghancurkan kedua negara bertetangga itu selama delapan tahun (1980-1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ekonomi dan politik yang diambil AS ternyata tidak mampu membendung laju perkembangan Republik Islam Iran. Republik baru itu mampu bertahan di bawah kondisi embargo ekonomi. Bahkan tidak saja bertahan, tetapi justru mampu semakin berkembang dengan pesat. Yang bisa dibilang puncaknya adalah pada pengembangan program teknologi nuklir saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ini pun sebenarnya sudah terdeteksi oleh AS, sehingga tatkala Ahmadinejad, mantan wali kota yang sederhana, dan juga dikenal berhaluan radikal terhadap AS serta pengikut setia cita-cita Revolusi Islam yang dicetuskan oleh Imam Khomeini terpilih sebagai presiden menggantikan Sayyid Khatami, AS sudah kebakaran jenggot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai propaganda negatif dilakukan untuk menjatuhkan reputasi baik Ahmadinejad. Namun semua sia-sia. Ahmadinejad tetap dicintai rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ternyata kebijakan pemerintahan Presiden Ahmadinejad benar-benar merepotkan Sang Polisi Dunia, terutama kebijakan yang berkaitan dengan program pengembangan teknologi nuklir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS tentu sudah menghitung betapa Republik Islam Iran. Di masa awal berdirinya saja sudah mampu membuat malu AS lewat krisis sandera. Lalu seandainya negeri mullah itu benar-benar mampu membuat senjata nuklir, tentu akan sangat mungkin lagi untuk semakin mempermalukan AS di kancah politik internasional. Apalagi Presiden Ahmadinejad, yang dikenal sederhana itu, tegas-tegas menolak intervensi AS yang meminta negaranya menghentikan aktivitas pengayaan uranium dan pengembangan teknologi nuklir yang bertujuan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERANGAN MILITER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Islam (Iran) adalah ancaman serius bagi AS? Banyak kalangan yang sebenarnya masih meragukan kapasitas kemampuan Iran untuk menciptakan senjata nuklir. Bahkan Teheran sudah berulang kali menandaskan bahwa program teknologi nuklirnya hanya untuk tujuan damai, tidak ada maksud untuk membuat senjata nuklir. Tetapi Washington rupanya benar-benar telah terjangkiti paranoid yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS telah berupaya mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi bagi Iran, namun ditentang oleh Rusia dan China. Hal ini secara telanjang menunjukkan pada dunia betapa besarnya arogansi AS. Bahkan apabila langkah lebih lanjut AS untuk melangsungkan serangan militer ke Iran benar-benar dilakukannya, tentulah menjadi bertambah gamblang sikap kejumawaan AS terhadap negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum terhapus dari benak masyarakat internasional bagaimana AS menghancurkan Afghanistan, dan Irak. Kini, AS telah merencanakan untuk menghancurkan Iran. Menariknya semuanya termasuk dalam kategori negara-negara Islam, atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah futuristik dari Samuel P. Huntington yang juga menduduki jabatan Ketua Harvard Academy untuk kajian Internasional dan Regional di Weaterhead Center For International Affairs, itu akan menemukan bentuknya yang nyata; ataukah sebenarnya tesis dari Huntington itulah yang menjadi landasan bagi arah kebijakan politik luar negeri AS selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kebijakan yang dihinggapi perasaan paranoid akan kekuatan di luar AS. Terlepas dari itu semua, Huntington memanglah dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki reputasi cemerlang di AS. Kegiatan risetnya di banyak negara dibiayai oleh pemeritah AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya pandangan tesis Huntington kini telah terbukti mengancam nilai-nilai kemanusiaan universal (humanisme) yang menjunjung semangat egalitarian, kasih sayang dan perdamaian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis Huntington adalah pandangan yang pesimistis dalam memandang terciptanya kesederajatan negara yang dialogis dan saling menghargai, antara Islam dan Barat. (11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surachman Nugroho)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-4549971791936691519?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/4549971791936691519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=4549971791936691519' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4549971791936691519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4549971791936691519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2008/02/benturan-peradaban-itu-antara-barat.html' title='Benturan Peradaban itu antara Barat dengan Iran'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-9212641331595323000</id><published>2008-02-11T01:29:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T01:31:29.915-08:00</updated><title type='text'>Oleh-oleh dari Iran</title><content type='html'>”PR" sempat terkejut ketika Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.S., tiba-tiba mengajak masuk ke dalam mobil. Pasalnya, baru pertama kali Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung itu berwajah serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Pak Rektor?" tanya "PR".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baru saja tiba dari Iran. Yuk, ikut ke dalam mobil. Ada cerita banyak dan menarik soal Iran. Tapi, sekarang saya mau menghadiri acara pelepasan lulusan Program Mengajar Akta IV Fakultas Tarbiyah dan Keguruan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PR" pun ikut masuk ke dalam ruangan Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD. Benar saja, begitu diberi kesempatan menyampaikan pidato sambutan, Nanat Fatah langsung mengawali ceritanya berjalan-jalan ke negeri para mullah Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kaget ketika tahu ternyata sangat jarang orang Syiah di Iran yang melakukan kawin kontrak. Di sana, perbuatan kawin kontrak itu merupakan sesuatu yang memalukan. Ya, semacam aib bilamana ada yang kawin kontrak. Di Islam itu kan lebih dikenal poligami daripada kawin kontrak," tutur Nanat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakannya, semula ia menduga kasus kawin kontrak hanya terjadi di Iran. Kalaupun dilakukan di luar Iran, orang yang bersangkutan adalah penganut paham Syiah. Akan tetapi, di Iran sendiri ternyata jarang dijumpai kasus kawin kontrak atau mut'ah.&lt;br /&gt;Selain itu, Nanat juga terperanjat kaget ketika mengetahui heroismenya rakyat Iran. Pasalnya, heroisme itu dikaitkan dengan gairah belajar atau menuntut ilmu. "Di sana, anak-anak sekolah itu justru nangis ketika datang masa liburan. Di Indonesia, kan terbalik. Mendekati masa liburan saja, sudah gembira. Di Iran, libur sekolah berarti kehilangan kesempatan belajar," ungkap Nanat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Barat ini berpandangan, mayoritas rakyat Iran rajin belajar karena ingin mengembalikan kejayaan peradaban Persia yang hilang. Mereka pun menyatakan adanya "musuh bersama" yang harus dihadapi secara cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membeberkan data dengan penuh semangat, Nanat yang bicara di podium --di depan peserta wisuda program Akta Mengajar IV Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD-- itu juga mengungkapkan tentang adanya nuklir yang sudah disiapkan menuju sasaran sejumlah tempat di luar Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kaum mullah yang berbusana khas Persia itu ternyata banyak bergelar profesor dan mereka cerdas-cerdas. Jika ditanya soal AS, mereka jawab kelak Iran akan menjadi negara adidaya dan bisa mengembalikan kejayaan masa silam negeri Persia," tutur Nanat. (Achmad Setiyaji/"PR")***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-9212641331595323000?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/9212641331595323000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=9212641331595323000' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/9212641331595323000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/9212641331595323000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2008/02/oleh-oleh-dari-iran.html' title='Oleh-oleh dari Iran'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-2619963449807894846</id><published>2008-02-11T00:52:00.001-08:00</published><updated>2008-02-11T01:17:07.822-08:00</updated><title type='text'>Teologi Bencana</title><content type='html'>Konsep disaster risk management meyakini bencana terjadi akibat pertemuan ancaman dengan kerentanan masyarakat setempat minus kapasitas yang tersedia. Bagaimana pula keyakinan teologis masyarakat Aceh tentang langkah, raseuki, peutemun mawoet bak Allah Taala yang meyakini bencana merupakan kehendak Tuhan untuk peringatan, cobaan dan azab bagi manusia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adagium langkah, rizki, pertemuan, dan perpisahan/maut di tangan Allah dibangun dari konsep teologi anutan sebagian besar masyarakat Aceh. Perda Istimewa Aceh no.11/2002 tentang aqidah, ibadah, dan syiar Islam menjelaskan Ahlussunnah wal Jamaah lah pilihan aqidah masyarakat Aceh. Dalam studi teologi Islam, aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah memiliki dua konsep teologi dan mayoritasnya menganut Asy-‘Ariyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai teologi yang tidak meyakini adanya free will dalam prilaku manusia, asy-ariyah sering menjadi alat justifikasi para penguasa atas kebijakan-kebijakan yang dibuat dan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat muslim. Dalam konteks bencana Aceh, pemerintah berkepentingan dengan opini yang menghubungkan tsunami Desember 2004lalu sebagai cobaan dan azab Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-ariyah lebih meyakini 165.708 orang meninggal akibat tsunami di Aceh dan 69 orang meninggal dan 305 orang hilang akibat banjir bandang di Aceh akhir tahun 2006 (Satkorlak NAD: 2006) merupakan keputusan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teologi Asy-ariyah tidak cukup mampu menghubungkan bencana tsunami dengan model tataruang Aceh yang tidak sensitif tsunami. Pemerintah Aceh berkepentingan dengan meluasnya pemahaman masyarakat bahwa angka 165 ribu lebih korban jiwa akibat tsunami di Aceh merupakan fenomena yang alami seperti alaminya gempa dan tsunami itu sendiri. Di pihak lain, pengetahuan manajemen bencana mengakui kealamiahan gempa dan tsunami, tetapi besaran korban jiwa dan harta sangat politis. Mengingat kebijakan tataruang adalah produk politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Aceh seharusnya tidak cukup nyaman memanfaatkan keyakinan fatalistik masyarakat untuk menjustifikasi kelemahan kebijakan politiknya terkait tataruang dan pendidikan masyarakat Aceh yang tidak peduli isu bencana. Beberapa minggu pertama setelah tsunami 2004 di Aceh, para khatib Jumat membahas bencana gempa dan tsunami di mimbar-mimbar mereka. Sekali lagi Asy-ariyah menjadi pilihan perspektif, maka para khatib berulangkali menasihati masyarakat untuk menghentikan maksiat berhubung bencana merupakan azab Tuhan atas prilaku kemaksiatan masyarakat Aceh selama ini. Perspektif ini kemudian berimplikasi luas pada kehidupan sosial, dan ikut menjadi alasan pembenaran prilaku masyarakat yang menghakimi pelaku khalwat dan maksiat lainnya dengan dalih setiap maksiat akan mengundang tsunami berulang kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini sangat kontras dibandingkan dengan ceramah pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei (yang tidak menganut Asy-Ariyah) ketika mengunjungi masyarakat korban gempa di kota Bam setahun sebelum tsunami Aceh. Di depan masyarakat korban, Ali Khamenei menekankan bahwa “tugas terpenting para pejabat ialah penanganan berbagai kekurangan yang masih ada. Pada tahap berikutnya yang merupakan tahap pembangunan kembali kota Bam, maka dari tengah puing-puing ini, harus dibangun sebuah kota yang kuat, kokoh dan membanggakan” (sumber: indonesia.irib.ir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ulama Islam, Khamenei melihat keterkaitan langsung gempa sebagai fenomena alami dengan kebijakan membangun kota yang kuat dan aman dari gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hubungan dengan Tuhan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan kesimpulan terkait hubungan Tuhan dengan bencana di kalangan masyarakat Islam, menarik dikaji. Terutama dalam konteks upaya penanggulangan bencana di Aceh dan Indonesia secara keseluruhan yang didiami oleh sebagian besar masyarakat bergama Islam. Terlebih lagi Indonesia telah memiliki UU nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Pemerintah juga sudah memiliki Rencana Aksi Nasional (RAN) &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengurangan Resiko Bencana. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang timbul, sejauhmana kebijakan politik ini efektif dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia dan Aceh ketika dihadapkan dengan paradigma teologi fatalistik masyarakat yang menemukan bencana sepenuhnya berhubungan dengan kehendak Tuhan, kekuatan supranatural? Pertanyaan ini relevan, mengingat perkembangan paradigma manajemen bencana mutakhir meyakini kekuatan masyarakat menjadi faktor sangat menentukan dalam upaya-upaya pengurangan resiko bencana yang dilakukan oleh pihak manapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lebih mendasar lagi, bagaimana sebenarnya umat Islam memahami hubungan Tuhan dengan berbagai kejadian bencana? Apakah itu bencana geologis-klimatologis (seperti banjir, gempa, dan tsunami), bencana sosial-politik (seperti konflik dan perang), dan bencana kegagalan teknologi (seperti jatuhnya pesawat terbang, tenggelamnya tranportasi laut, kecelakaan kereta api dan lapindo). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ahli teologi Islam, seperti Allamah Hilli dan Abdul Jabbar membicarakan hubungan Tuhan dengan berbagai kejadian alam (termasuk bencana) dalam “bab keadilan ilahi”. Dalam diskusi bencana, setidanya terdapat dua pertanyaan relevan yang diajukan teolog ketika membahas konsep keadilan ilahi; Pertama, mungkinkah Tuhan melakukan keburukan? Kedua, apakah manusia memiliki kebebasan memilih kegiatannya, tindakannya, dan kebijakannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski para teolog memiliki jawaban yang berbeda atas dua pertanyaan tersebut, namum mereka bersepakat dengan satu proposisi logis; orang yang adil tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk dan mengabaikan sesuatu yang menjadi tugasnya. Lalu apakah bencana suatu keburukan? Siapa yang berhak menyimpulkan sesuatu itu baik atau buruk? Para teolog kembali berbeda pandangan untuk pertanyaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penganut Asy-Ariyah mengatakan hanya Tuhan dengan syariat-Nya yang bisa menentukan baik atau buruknya sesuatu. Aliran kalam mu‘tazilah dan imamiah bersepakat akal manusia mampu mencapai pengetahuan yang valid tentang baik atau buruknya sesuatu tampa syariat sekali pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikut logika teologi Imamiah dan Mu‘atazilah, kita meyakini manusia dengan akalnya dapat mengetahui bencana sesuatu yang buruk bagi kehidupan mereka. Sampai di sini kita hanya perlu meluruskan pemahaman terminologi bencana-yang menurut pengetahun manajemen bencana- harus dibedakan dengan term ancaman (hazard). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang buruk bagi kehidupan manusia adalah bencana, dan bukan ancaman. Ancaman seperti banjir, gempa, tsunami, badai adalah gejala alam yang niscaya terjadi, karenanya bukan sesuatu yang buruk. Sedangkan bencana- seperti 165.708 korban jiwa, 53 triluan kerugian harta, puluhan ribu rumah hancur- akibat tsunami bukanlah sesuatu yang baik bagi masyarakat manusia di Aceh. Dan besaran angka-angka bencana tersebut tidak mesti terjadi. Dengan kata lain, masih bisa dikurangi sekecil mungkin dengan sejumlah tindakan yang tepat (baca- reduksi resiko bencana). Bukankah manusia Aceh (pemerintah dan aktor pembangunan yang lain) memiliki kebebasan dalam memilih tindakan dan kebijakan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan terbesar adalah para teolog Asy-ariyah menyimpulkan semua tindakan manusia berasal dari Tuhan, dan manusia tidak bebas memilihnya. Maka besaran angka bencana akibat banjir, badai, dan ancaman-ancaman lain di Aceh merupakan keputusan Tuhan dalam Takdir-Nya. Manusia harus melihat bencana sebagai kebaikan karena keputusan Tuhan semuanya kebaikan. Pandangan ini telah memposisikan Tuhan dalam kondisi antagonis berhadapan dengan kepentingan manusia yang dengan akal sehatnya mengetahui pembangunan kehidupan, kebudayaan, dan peradaban tidak membutuhkan bencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, UU no.24 tahun 2007 dan RAN pengurangan resiko bencana yang sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia hanya mungkin dijalankan dengan perspektif teologi yang mengakui adanya free will bagi masyarakat manusia. Di antaranya teologi Imamiah dan rasionalisme Mu‘atazilah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Determinisame 100 persen yang dianut Asy-ariyah dan teologi mayoritas masyarakat Aceh selama ini berimplikasi negatif pada pembangunan Aceh ke depan. Di antara implikasi politiknya adalah pemerintah Aceh akan menjadikan teologi ini untuk menjustifikasikan kebijakan-kebijakan pembangunan Aceh (RPJMA) yang tidak mengarus utamakan manjemen resiko bencana di dalamnya sebagai takdir Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan DPRA pun merasa benar, meski mengabaikan pentingnya Qanun Penaggulangan Bencana untuk Aceh. Sejauh ini, terdapat 59 draft qanun prioritas yang akan dibahas DPRA sampai tahun 2009 dan qanun pengurangan resiko bencana tidak termasuk di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu logika pun yang dapat membenarkan ketika semua tahu Aceh adalah wilayah rentan bencana, tetapi pemerintahnya tidak membuat regulasi yang strategis untuk penanggulangan bencana. Sejauh ini, pola penanganan bencana Aceh masih sebatas emergency respon. Kecuali itu, pembangunan instalasi tsunami early warning system (TEWS) yang sepenuhnya mengandalkan pendekatan tunggal keteknikan (engineering), terbukti menimbulkan kepanikan warga ketika suara sirine peringatan tsunami berbunyi pada awal juni 2007 lalu. Kepanikan warga desa kaju dan sekitarnya akibat sirine TEWS menyebabkan banyaknya kecelakaan transportasi yang justru menambah daftar bencana. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Affan Ramli, Serambi Online)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-2619963449807894846?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/2619963449807894846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=2619963449807894846' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/2619963449807894846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/2619963449807894846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2008/02/teologi-bencana.html' title='Teologi Bencana'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-6423007418721927989</id><published>2007-09-14T00:42:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T00:57:22.598-07:00</updated><title type='text'>Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 4</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Imam Kedua Belas: Imam Muhammad al-Mahdi a s &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Hasan al-‘Askari a s.&lt;br /&gt;Ibu: Narjis.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Samurra’ pertengahan bulan Syakban tahun 255 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengalami masa ghaibah (ghaib dari pandangan manusia) dalam dua tahap; ghaibah shughrah (kegaiban kecil) dan ghaibah kubra (kegaiban besar atau total).&lt;br /&gt;Ghaibah shughra: dan tahun 260 hingga tanun 329 H.&lt;br /&gt;Ghaibah kubra berawal dan berakhirnya ghaibah shughra hingga waktu diizinkan Allah SWT dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quthb asy-Sya’rani berkata dalam kitab al-Yawaqid wa alJawahir: Al-Mandi adalah putra Imam Hasan al-Askari dan keturunan Imam Husain, kelahirannya pada malam pertengahan bulan Sya’baan tahun 255H. Beliau akan tetap hidup hingga berkumpul dengan Nabi Isa putra Maryam a s, demikian diberitakan kepada kami oleh Syeikh Hasan al-Iraqi yang dikebumikan di Mesir dan pendapat itu disetujui oleh tuanku Ali Al-Khawaash. 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Al-Bahrul Muhith, Abu Hayyan Al-Andalusi mengutip pendapat A-Sudiy mengenai firman Allah : "Untuk dimenangkan atas segala Agama" mengatakan: "Hal itu akan terjadi pada saat munculnya Al-Mahdi. Pada saat itu tak seorangpun manusia yang tinggal kecuali dia masuk kedalam Islam atau membayar pajak (Jizyah)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) berkomentar mengenai firman Allah (QS. 28. 5) : &lt;em&gt;"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin, dan menjadikan mereka mewarisi (bumi)." &lt;/em&gt;sbb: "Pembuktian atas ayat ini belum terjadi, dan bahwa ummat Islam masih menunggu munculnya manusia yang akan menjadi sarana bagi terwujudnya ayat tersebut"(Ath-Thabarsi dalam Majma'ul Bayan fi Tafsir Al-Qur'an jilid V hal  24). Ketika kaum Alawiyin (keturunan Fatimah A S)tertimpah penindasan yang teramat sangat oleh penguasah Abbasiyah, Muhammad ibn Jakfar Al-Alawy mengadukan pada Imam Malik dan dijawab oleh Imam Malik bersabarlah sampai datang tafsirnya ayat tsb diatas (QS. 28. 5), demikian riwayat Abul Faraj Al-Isfahany dalam buku Maqatil Aththalibiyin hal 539. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assayyid Abdullah Syabr dalam bukunya Haqqul Yakin jilid I hal 222 menuturkan bahwa hadits mengenai Imam Mahdi jumlahnya lebih dari lima ratus  yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, penyusun kitab Jami'ul Ushul dan orang-orang selain mereka. Selanjutnya beliau berkata dalam kitab-kitab yang Mu'tabar dan kitab Ushul yang telah diakui, terdapat lebih dari seribu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Hadis Tentang Imam Mahdi a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Imam kedua belas sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis yang telah lewat, beliau adalah Imam mahdi yang akan menegakkan keadilan di muka bumi sebagaimana dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir.&lt;br /&gt;Dan demi kesempurnaan pembahasan kita, marilah kita simak sabda-sabda  Nabi saww tentang Imam Mahdi as dan pernyataan para ulama tentangnya. Dan sekali lagi, kami hanya akan menyebut hadis-hadis dari jalur Ahlusunah Waljamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Ahmad dan al-Barudi meriwayatkan dan Abu Sa’id dari Rasulullah saww beliau bersabda:&lt;br /&gt;"Gembiralah kalian dengan al-Mahdi, seorang dari suku Quraisy dari itrah-ku, dia keluar dalam kaadaan perselisihan manusia dan guncangan, lalu dia memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman." 65&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abu Daud meriwayatkan dari Rasulullah saww beliau bersabda: &lt;br /&gt;“Seandainya tidak tersisa dari dunia ini kecuali hanya satu hari niscaya Allah akan memanjangkannya sehingga Allah mengutus seorang dari Ahli-Baitku, namanya sama dengan namaku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana is dipenuhi dengan kedzaliman.” 66&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abu Nu'aim bin Hammad meriwayatkan dari A’isyah dari Rasulullah saww beliau bersabda: &lt;br /&gt;“Al-Mahdi dari itrah-ku, dia berperang atas sunahku sebagaimana saya berperang atas wahyu.”67&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah, al-Baihaqi dan sekelompok Ulama lain meriwayatkan dari Ummul Mu’minin Ummu Salamah r a. Bahwa Nabi saww bersabda:&lt;br /&gt;“Al-Mahdi dari ‘Itrahku dan putra Fathimah. “68&lt;br /&gt;Komentar Ulama Ahlusunah Tentang Kemutawatiran Hadis Kedatangan Imam Mahdi a s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: “Telah mutawatir berita (hadis) bahwa Mahdi adalah dari umat ini dan sesungguhnya (Nabi) Isa putra Maryam akan turun dan salat di belakangnya.69&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaukani dalam risalahnya yang berjudul at-Taudhih fi Tawaturi Ma Ja'a fi al-Mahdi al-Muntadzar wa al-Masih 70 berkata: “Dan Hadis yang datang tentang Mahdi yang dapat ditemukan adalah lima puluh hadis, ada yang shahih, hasan dan dhaif yang tertolong, dan ia mutawatir tanpa diragukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz bin Baz rektor Universitas Madinah Al-Munawarah berkata seperti dimuat di majalah al-Jami’ah al-Islamiyah, no. 3, hal 161 - 162 : “Sesungguhnya masalah al-Mahdi merupakan masalah yang menjadi pengetahuan umum, dan hadits-hadits mengenainya banyak sekali, bahkan mutawatir. Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa munculannya tokoh yang dijanjikan ini merupakan suatu perkara yang telah tetap (kebenarannya yang tidak bisa diragukan lagi), dan kemunculannya adalah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dozen dalam Universitas tersebut bernama Ustad Syeh Abdul Muhsin Al-Ibad dalam bukunya : Muhadharah haula al-imam Al-Mahdi wa At-Ta'liq 'Alaiha, hal. 26, yang juga disampaikan dalam kuliahnya yang berjudul "Akidah Ahlus Sunnah dan Atsar tentang Al-Mahdi Al-Muntadhar sbb: Jumlah yang saya ketahui dari nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits Al-Mahdi dari Rasulullah S A W, adalah 26 orang mereka adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ustman ibn Affan, 2. Ali ibn Abi Thalib, 3. Thalhah ibn Ubaidillah, 4. Abdurrahman ibn Auf, 5. Al-Husain ibn Ali, 6. Ummu Salamah, 7. Ummu Habibah, 8. Abdullah ibn Abbas, 9. Abdullah ibn Mas'ud, 10. Abdullah ibn Umar, 11. Abdullah ibn Amr, 12. Abu Sa'id Al-Hudri, 13. Jabir ibn Abdullah, 14. Abu Hurairah, 15. Anas ibn Malik, 16. Ammar ibn Yasir, 17. Auf ibn Malik, 18. Tsauban maula Rasulullah, 19. Qurrah ibn Ayas, 20. Ali Al-Hilali, 21 Hudzaifah ibn Al-Yaman, 22. Abdullah ibn Al-Harits ibn Hamzah, 23. Auf ibn Malik, 24. Imran ibn Husain, 25. Abu Ath-Thufail, 26. Jabir Ash Shadafi. Selanjutnya beliau berkata : "Dan hadits -hadits Al-Mahdi itu telah dinukil oleh sejumlah besar imam dalam kitab-kitab shahih dan sunan, Mu'jam dan Musnad, serta lain-liannya. Jumlahnya kitab-kitab mereka yang saya ketahui atau yang saya ketahui bahwa mereka menukilnya 38. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat panjang sekali bila saya sebut satu persatu disini, sebagai contoh cukup dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dawud dalam Sunannya, Turmudzi dalam Jami'nya, Ahmad dalam Musnadnya dan Ibn Hibban dalam Shahihnya, Al-Hakim dalam Al-Mustadarak, Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam Mushnif, Al-Hafizh (si penghafal lebih dari 100.000 hadits) Abu Nu'aim dalam kitab Al-Mahdi, Ath-Thabary dalam ketiga kitabnya Alkabir, Al-awsath dan Ashshaghir, Darul Qutny dalam Al-Afrad, Ibnu Asakir dalam Tarikhnya, Assuyuthi dalam Al-Urf Al-Wardy dan Al-Hawy fil Fatawa, Ibnu Jarir dalam Tahzib al Atsar, Al-Baihagy dalam Dala'ilun Nubuwah, Ibnu Sa'ad dalam Thabaqod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Para Ulama Ahlusunah yang Meyakini Kelahiran Imam Mahdi as&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati pendapat yang masyhur di kalangan Ahlusunah bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir belum lahir dan kelak akan lahir ketika masanya tiba, namun tidak jarang di antara ulama Ahlusunah yang meyakini bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam sabda-sabda Nabi saww tersebut telah lahir, dia adalah putra Imam Hasan al-Askari as lahir di kota Samurra’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Kita amati keterangan dibawah ini yang dinukil dari kitab : ”Is’af Al-Raghibin fi Sirah Al-Mushthafa wa Fadha’il Ahli Baithi Al-Thahirin” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Syaikh Muhammad bin Ali Al-Shabban Rahimahullah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Sayyidi Abdul Wahab Al-Sya’rani mengatakan di dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir bahwa Al-Mahdi itu berasal dari putra Imam Hasan Al-Askari. Lahir pada malam pertengahan bulan sya’ban tahun dua ratus lima puluh lima Hijriyah. Ia tetap hidup sampai sekarang dan akan bergabung dengan Nabi Isa a. s. Demikianlah yang diberitahukan oleh Syaih Hasan Al-Iraqi kepadaku, dari Imam Al-Mahdi, ketika Syaih Hasan berjumpa dengannya, yang kebetulan dihadiri juga oleh Sayyidi Ali Al-Khawwash rahimahumallaahu Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhyiddin di dalam kitab Al-Futuhat mangatakan : ”Ketahuilah Bahwa Al-Mahdi a. s. itu mesti keluar, namun tidak akan keluar kecuali apabila dunia sudah penuh dengan kezaliman dan dialah yang akan melenyapkan kezaliman itu dan menggantikan dengan keadilan. Dia berasal dari keturunan Rasulullah S A W dari putra Fathimah r. a. Kakeknya adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Naqi bin Imam Muhammad Al-Taqi bin Imam Ali Al-Ridha bin Imam Musa Al-Kazhim bin Imam Jakfar Ashshadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib r.a. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Ash-Shawa’iqal Muhriqah karya Ibnu Hajar dalam bab mengenai ihwal Al-’Askari terdapat uraian sebagai berikut : ”Beliau (Imam Hasan Al-’Askari) tidak meninggalkan keturunan seorangpun selain putranya yaitu Abal Qasim Muhammad AlHujjah a.s., yang umurnya ketika ayahnya wafat adalah 5 tahun. Tetapi dalam usia tersebut Allah telah menganugrahkan kepadanya hikmah, dan dia dinamakan Al-Qa’im Al-Muntadzar. Dikatakan bahwa, yang demikian itu karena dia telah ”dirahasiakan” , kemudian menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Penulis lain dari kalangan jumhur ulama juga menuturkan hal serupa, misalnya Ibnu Khallikan, pengarang Al-Fushulul Muhimah, Mathalibus Su’ul, Syawahidun Nubuwah sebagai mana yang diterangkan oleh syaih Abdullah Syabar dalam karyanya yang berjudul Haqqul Yaqin.&lt;br /&gt;Ustadz Hasyim al-Amidi telah mengadakan studi penelusuran yang seksama dan beliau menemukan 128 (seratus dua puluh delapan) Ulama Ahlusunah telah meyakini kelahiran Imam Mahdi as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini akan kami sebutkan sebagian nama-nama mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Muhammad bin Harun Abu Bakar ar-Rauyani (w. 307 H) dalam kitabnya al-Musnad.&lt;br /&gt;2.Abu Nu’aim aI-Ishfahani (w. 430H) dalam kitabnya al-Arba’in haditsan fi al-Mahdi.&lt;br /&gt;3.Ahmad Bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’ab al-Iman.&lt;br /&gt;4.Al-Khawarizmi al-Hanafi (w. 568 H) dalam Maqtal al-Imam al-Husain.&lt;br /&gt;5.Muhyiddin Ibn al-Arabi (w. 638 H) dalam al-Futuhat alMakkiyah, bab 366 dalam pembahasan 65, sebagaimana disebut dalam Yawaqit wa al-Jawahir oleh asy-Sya’rani.&lt;br /&gt;6.Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy (w. 652 H) dalam Mathalib as-Su'ul.&lt;br /&gt;7.Sibth Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w. 654 H) dalam Tadzkirah-alKhawash.&lt;br /&gt;8.Muhammad bin Yusuf al-Kunji asy-Syafi’i (terbunuh tahun 658 H) dalam kitabnya Kifayah ath-Thalib.&lt;br /&gt;9.Al-Juwaini al-Hamawaini asy-Syafi’i (w. 732 H) dalam Fara’id as-Simthain: 2\337.&lt;br /&gt;10.Nuruddin Ibnu Shabbagh al-Maliki (w. 855 H) dalam al-Fushul al-Muhimmah.71&lt;br /&gt;11.A1-Quthb asy-Sya’raani, sebagaimana dinukil dalam Nuur alAbshar (187).&lt;br /&gt;12.Syeikh Sahan al-Iraqi, sebagaimana dinukil dalan Nuur al-Abshar.&lt;br /&gt;13.Syeikh Ali al-Khawash, sebagaimana disebutkan oleh al-Quthb asy-Sya’rani.&lt;br /&gt;14.Syeikh asy-Syablanji dalam Nuur al-Abshar. &lt;br /&gt;15.Ibnu Hajar al-Haitsami al-Makki (974 H) dalam ash-Shawaiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi yang menginginkan keterangan lengkap tentang namanama mereka berikut keterangannya, kami persilahkan merujuk kitab-kitab khusus yang membahas tentang Imam Mahdi as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanda-tanda sosial akan datangnya Imam Mahdi meliputi:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Tersebar luasnya kezaliman dan kejahatan.&lt;br /&gt;2.Berkuasanya kejahiliyahan dan; munculnya kehidupan jahiliyah yang meliputi akidah, akhlak, dan peradaban.&lt;br /&gt;3.Kemajuan ilmu pengetahuan yang mencengangkan.&lt;br /&gt;4.Peperangan dan kekacauan yang merusakbinasakan, serta hilangnya rasa aman dan ketenteraman.&lt;br /&gt;5.Munculnya para pendusta dan Dajjal yang mendakwakan diri sebagai pembaharu.&lt;br /&gt;6.Krisis dan kemerosotan ekonomi.&lt;br /&gt;7.Munculnya gerakan-gerakan, kepemimpinan dan dakwah, yang membuka jalan bagi munculnya Al-Mandi untuk menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita tuturkan beberapa riwayat yang menetapkan tanda-tanda tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash-Shaduq meriwayatkan dalam kitabnya Man La Yandhuruhul Faqih, bahwa Al-Ashbagh bin Nabatah meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ucapan beliau sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Pada akhir zaman dan saat mendekatnva Kiamat yang merupakan masa yang paling buruk akan muncul wanita-wanita yang tubuhnya terbuka dan telanjang, memamerkan kecantikan dan perhiasannya, tenggelam ke dalam fitnah, cenderung kepada syahwat, bersegera kepada kelezatan, dan menghalalkan bagi dirinya barang-barang yang haram. Mereka akan kekal abadi di neraka.” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Man La Yandhuruhul Faqih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Majlisi meriwayatkan dalam Bihar Al-Anwar, dari ayahnya, dari Ali, dari ayahnya, dari An-Naufali, dari AsSaukani, dari Abu Abdillah a.s., katanya: “Telah bersabda Rasulullah Saaw.: ‘Akan datang kepada umatku suatu masa, yang di dalamnya rahasia diri mereka penuh dengan keburukan namun penampilan mereka penuh dengan kebaikan, orang tamak kepada dunia, tidak menghendaki apa yang ada di sisi Allah SWT., perbuatan mereka merupakan riya' tanpa dicampuri rasa takut (kepada Allah). Allah menyamaratakan azab bagi mereka. Mereka lalu berdoa seperti doa orang yang akan tenggelam, namun doa mereka tidak dikabulkan.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 426, dikutip dari Bihar Al-Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sanad yang sama, Al-Majlisi juga meriwayatkan: “Telah bersabda Rasulullah Saaw.: ‘Akan datang kepada umatku suatu masa di mana tidak ada lagi yang tinggal dari Al-Quran selain tulisannya, dari Islam selain namanya yang mereka gunakan, sedang mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari Islam. Masjid-masjid mereka banyak tapi kosong dari hidayah. Para fuqaha di masa itu merupakan fuqaha yang paling buruk di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah, dan kepada mereka pula fitnah itu kembali.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Bihar Al-Anwar) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir Muhammad bin All a.s., bahwa beliau mengatakan: “Al-Mandi tidak akan muncul sehingga kegelapan memuncak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 427, dikutip dari Malahim wal Fitan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib a.s., dari Rasulullah Saaw.: “Sesungguhnya Islam itu bermula sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” Seseorang bertanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: "Mereka itu ialah orang-orang yang berlaku baik ketika masyarakat telah rusak. Sesungguhnya tidak ada keterlepasan atau keterasingan bagi seorang Mukmin. Tak ada seorang Mukmin pun yang mati, melainkan para malaikat menangis karena kasihan kepadanya. Kalaupun mereka tidak menangis untuknya, maka kuburnya akan diluaskan dengan cahaya yang cemerlang ketika ia diletakkan di tempat kepalanya terletak.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Ja’fariyat wal Asy-Atsiyyat)&lt;br /&gt;Ibnu Majah men-takhrij dalam Sunan-nya, jilid II, dalam bab Al-Fitan, Fitnah Dajjal, dari Abu Imamah Al-Bahili, katanya: “Rasulullah berkhutbah kepada kami, dan sebagian besar khutbah beliau adalah ceritera mengenai Dajjal, yang terhadapnya beliau memperingatkan kami. Di antara kata-kata beliau adalah: ‘Sungguh, belum pernah ada cobaan di muka bumi, sejak Allah menciptakan keturunan Adam, yang lebih besar dari Dajjal. Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi, maka pasti dia memperingatkan umatnya terhadap Dajjal. Aku adalah Nabi yang terakhir dan kalian adalah umat yang terakhir; dan tak dapat tidak, Dajjal akan keluar di kalangan kalian.’” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Sunan Ibnu Majah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kulaini menukil dalam Raudhatul Kafi sebuah hadis dari Imam Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq a.s., yang melukiskan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan industri yang dicapai oleh umat manusia pada saat menjelang munculnya Dajjal, sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Al-Qa’im kami, apabila ia muncul, maka Allah SWT memanjangkan bagi pengikut kami daya dengar dan lihat mereka, sehingga antara mereka dengan Al-Qa’im tidak perlu ada kurir. Dia akan berbicara kepada mereka, dan mereka dapat mendengar dan melihat kepadanya sedang dia sendiri masih tetap di tempatnya.’” (Al-Kulainy, Al-Kafi, jilid VIII, hal 240 – 241)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga meriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s.: “Sesungguhnya orang Mukmin di zaman Al-Qa’im itu, jika dia berada di Timur, dia pasti bisa melihat saudaranya yang berada di Barat. Demikian pula mereka yang berada di Barat akan dapat melihat saudaranya yang berada di Timur.” (Abdullah Syabr, Haqqul Yakin, jilid I, hal. 229)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengatakan, bahwa kedua riwayat ini mengisyaratkan tingkat perkembangan sarana komunikasi yang dicapai oleh ilmu pengetahuan modern, berupa penciptaan alat-alat pemindahan gambar dan suara, seperti televisi, radio dan semacamnya. Kedua alamat materialistik yang kita kenal ini, sebelumnya tidak dikenal, dan baru kita ketahui setelah dicapainya kemajuan ilmu pengetahuan di bidang audiovisual dan telekomunikasi jarak jauh. Karenanya, kedua riwayat ini bisa dipandang sebagai sebagian dari bukti-bukti materialistik yang menunjukkan benarnya kemunculan Al-Mandi a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ath-Thusi meriwayatkan dalam kitabnya AlGhaibah, dari Muhammad bin Muslim dan Abu Bashir, bahwa keduanya mengatakan: “Kami mendengar Abu Abdillah a s. berkata: 'Perkara ini tidak akan terjadi sampai lenyapnya dua pertiga manusia.’ Maka kami lalu bertanya: dua pertiga umat manusia lenyap, maka siapakah yang masih tinggal?’ Beliau menjawab: Tidakkah kalian senang menjadi sebagian dari yang sepertiga sisanya itu?’” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Ghaibah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Nu'aim meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib a.s. dalam kitab Al-Burhan fi 'Alamat Mahdi Akhiriz-Zaman: “Al-Mandi tidak akan muncul sampai sepertiga dari umat manusia terbunuh, sepertiga mati, dan sepertiga tinggal.” ” (silakan rujuk Luthfullah Ash-Shafi, Muntakhab Al-Atsar, cetakan ke 3 hal, 436, dikutip dari Al-Burhan fi ‘Alamat Mahdi Akhiriz-Zaman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat-riwayat tersebut menceriterakan tentang tandatanda sosial yang menunjuk kepada kemunculan Imam AlMandi a.s. Namun ada juga riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang tanda-tanda yang bersifat alamiah, seperti terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan bukan pada waktunya yang biasa, dan terjadinya perubahan di tata surya dan jagad raya. Perlu ditegaskan pula, bahwa riwayat-riwayat lain yang menceriterakan tentang munculnya Imam Al-Mandi, mengisyaratkan bahwa kemunculan beliau itu akan terjadi di Makkah Al-Mukarramah, dan bahwa beliau akan mengumumkan kekhalifahan serta negaranya, dan orang banyak akan membaiatnya di antara tiang Ka’bah dan Maqam Ibrahim, di Masjidil Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan Kaki:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Di antara kitab kitab Ulama Ahlussunah yang menyebut sejarah para Imam atau bahkan dikarang khusus tentang sejarah hidup mereka ialah: al-Fushuul al-Muhimmah; Ibnu Shabbagh al-Maliki, ash-Shawaiq al-Muhriqah; Ibnu Hajar al-Haitsami, pada bab 11, Nuuur al-Abshar fi Manaqib Aal an-Nabi al-Mukhtaar; Syeikh asy-Syablanji dan Is'aaf ar-Raghibiin; Ibnu Shabban.&lt;br /&gt;2. Ash-Shawa'q, Bab 11, pasal 3, hal.191 hadis ke l0, Hadis riwayat Ahmad dan at-Turmudzi dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri dan riwayat ath-Thabarani dari Imam Ali as, Umar, Jabir, Abu Hurairah, Usamah bin Zaid dan Baraa' bin al-Azib serta riwayat Ibnu Adiy dari Ibnu Mas'ud, dan selain riwayat di atas, ia juga menyebut beberapa riwayat semakna dengan sedikit tambahan kelengkapan redaksinya.&lt;br /&gt;3. ibid hadis ke 15 dari riwayat Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari sahabat Abu Bakrah.&lt;br /&gt;4. Ibid., hadis ke 16 dari riwayat at-Turmudzi dan Ibu Hibban dari sahabat Usamah bin Zaid.&lt;br /&gt;5. Asy-Syablanji berkata: "Imam Malik bertaka: ‘Beliau digelari “Zainaul Abidin” (penghias para menghamba) dikerenakan banyak beribadah ia adalah Imam keempat Syiah Imamiyah’” (Nuur al-Abshaar: 153).&lt;br /&gt;6. Ash-Shawa’iq: 201.&lt;br /&gt;7. Kisah lengkapnya dapat Anda baca dalam Shawaiq: 200-201 dan Nuttr al-Aabshaar 155-156 dan buku-buku lain.&lt;br /&gt;8. Thabaqat Ibnu Satad: 5 / 213, Tandzib adz-Tahhdzib: 7 / 268 dan Thabaqat alHuffadz: as-Suyuthi: 2 / 37.&lt;br /&gt;9. Ibid., Shafwah ash-Shafwah; Ibnu Jauzi: 2 / 99. &lt;br /&gt;10. Ibid.&lt;br /&gt;11. Shafwah ash-Shafwah: 2 / 93 dan Kasyf al-Ghummah: 199.&lt;br /&gt;12. Wa Rakibtu as-Safinah: 483-484.&lt;br /&gt;13. Al-Imam Zaid: 31. &lt;br /&gt;14. Nuur al-Abshaar: 157 dan ash-Shawa’iq: 201.&lt;br /&gt;15. Tandzib at-Tandzib: 2 / 302 dan Hilyah al-Auliya': 3 / 186.&lt;br /&gt;16. Lihat pernyataan-pernyataan mereka dalam Wa Rakibtu as-Safinah: 478-490.&lt;br /&gt;17. Ibid., 489.&lt;br /&gt;18. Lihat Tarikh at-Tasyri' al-Islami; Doktor al-Fadhli: 98-99 dan al-Imam ash-Shadiq: Abdul Halim al-Jundi al-Mashri: 141.&lt;br /&gt;19. Ash-Shawa’iq: 202.&lt;br /&gt;20. Tarikh al-Ya’qubi: 3 / 177.&lt;br /&gt;21. Tandzib at-Tandzib: 2 / 104-105.&lt;br /&gt;22. Ibid., 2 / 103.&lt;br /&gt;23. Al-Milal wa an-Nihal: 1 / 272.&lt;br /&gt;24. Asad Haidar dalam al-Imam Ja’far Wa Al-Madzahib A I-Arba’ah: 1 / 55 menukil dari Rasa’il aI-Jahidh: 106.&lt;br /&gt;25. Wafayat al-A’yaan: 1 / 327.&lt;br /&gt;26. Asad Haidar menukil dari Mathalib as-Suul: 2 / 55.&lt;br /&gt;27. 1 / 166.&lt;br /&gt;28. Laula as-Sanatan Lahaka an-Nu’maan; Syeikh Muhammad Ridha al-Hakimi: 295. menukil dari al-Irsyad; Syeikh al-Mufid, al-Fattal dan S. Ali bin Abdil Hamid an-Niiliy.&lt;br /&gt;29. Asad Haidar: 1 / 55 dari al-Majalis as-Saniyah; S. Muhsin Al-Amin : 5 / 209.&lt;br /&gt;30. Siyar A 'laam an-Nubalaa': 6\270.&lt;br /&gt;31. Mizan al-I’tidal: 3 / 309.&lt;br /&gt;32. Tarikh Bahgdad: 13 / 27, Shafwah Ash-Shafwah: 2 / 184, Syadzarat Adz-Dzahab: 3 / 377, Siayar A'laam: 6 / 172.&lt;br /&gt;33. Wafayat al-A'yaan: 5 / 308.&lt;br /&gt;34. Ar-Rasyid mengucapkannya dengan tujuan ingin membanggakan kedekatan hubungannya dengan Nabi Saww. dan karenanya ia layak menjadi Khalifah dan pengganti Nabi Saww.&lt;br /&gt;35. Shawa’iq: 204. Dapat kita saksikan dalam kisah di atas bagaimana bahwa para Imam Ahlul-Bait as. tidak henti-hentinya ketika kondisi memungkinkan untuk membongkar kedok dan kelemahan alasan para perampas imamah dari mereka (seperti yang ingin dikesankan oleh Harun ar-Rasyid bahwa ia berhak atas kepemimpinan umat karena kedekatan kekeluargaannya dengan Nabi saww) dan mereka selalu menjelaskan kepada umat Islam bahwa imamah dan kepemimpinan adalah hak ahlulbait as. Apa yang dilakukan Imam Musa as mirip dengan apa yang dilakukan kakek beliau Imam Ali bin Abi Thalib as ketika menjelaskan kelemahan argumentasi Abu Bakar dan kelompoknya atas kelompok Anshar bahwa ia (Quraisy) berhak atas Khilafah kerena mereka lebih dekat secara kekeluargaan dengan Nabi saww, Imam Ali as mengatakan: “Kalau engkau dengan alasan kekeluarga mengalahkan argumen lawanmu (Anshar) maka ketahuilah bahwa ada orang lain yang lebih dekat kepada Nabi.” (Nahj al-Balaghah: I-Hikmah ke 190 , hal; 668, dengan Syarah Syeikh Muhammad Abduh).&lt;br /&gt;36. Al-Fushul Al-Muhimmah: 221 dan: 227, pernyataan serupa juga disampaikan oleh asy-Syablanji dalam Nur al-Ab.vhar: 166 dan ash-Shabban asy-Syafi'iy dalam arRaghibin (di pinggir Nur al-Abshar): 246.&lt;br /&gt;37. Ash-Shawa’ iq: 204.&lt;br /&gt;38. : 7 / 330.&lt;br /&gt;39. Siyar A 'laam: 9 / 387-388.&lt;br /&gt;40. Ibid., 392.&lt;br /&gt;41. Tadzkirah al-Khawash: 198.&lt;br /&gt;42. Ash-Shawa’iq : 205. &lt;br /&gt;43. Ibid.,&lt;br /&gt;44. Hilyah al-Awliya': 3\92.&lt;br /&gt;45. Ash-Shawa’iq : 205-206.&lt;br /&gt;46. Tadzkira al-Khawash: 202.&lt;br /&gt;47. Beliau di sebut Abu Ja`far ats-Tsani karena Kakek beliau Imam Muahammad al-Baqir juga dikunyahi dengan Abu Ja`far. (al-Imam Ali ar-Ridha wa Risalatuhu fi ath-Thibb an-Nabawi ; DR. Muhammad Ali al-Baar hal; 102).&lt;br /&gt;48. Al-Fushul al-Muhimmah: 253.&lt;br /&gt;49. Jawahir al-Kalam : 147&lt;br /&gt;50. Ash-Shawa’iq: 206 dan Nur al-Abshar: 178.&lt;br /&gt;51. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 11 / 15.&lt;br /&gt;52. Al-Fushul al-Muhimmah: 265 menukil dari al-Irsyad 1.&lt;br /&gt;53. Nur al-Abshar: 181 dan ash-Shaawa’iq: 207.&lt;br /&gt;54. Tadzkirah al-Khawash: 202. Dan pada waktu lain beliau difitnah lagi dan rumah beliau digeledah di tengah malam dan akhirnya ditangkap dan dihadapkan kepada al-Mutawakkil di tengah malam, dan ketika itu al-Mutawakkil sedang begadang dengan meminum khamer baca kisah lengkapnya dalam Nur al-Abshar: 182-183.&lt;br /&gt;55. Ash-Shawa’iq: 207.&lt;br /&gt;56. Ibid., 208.&lt;br /&gt;57. Ibid., 203.&lt;br /&gt;58. Al-Fushul al-Muhimmah: 273 menukil dari al-Irsyad.&lt;br /&gt;59. Ibid., 279.&lt;br /&gt;60. Nur al-Abshar: 183.&lt;br /&gt;61. Ibid., 183 dan ash-Shawa'iq: 207.&lt;br /&gt;62. I’lam al-Wara: 390.&lt;br /&gt;63. Nuur al-Abshaar: 185.&lt;br /&gt;64. Ibid., 187.&lt;br /&gt;65. Musnad Alunad: 3/ 37 dan 52. Lihat juga: Uqad ad-Durar: 62 dan 156, Faraid as-Simthain: 2 / 310 dan 561, Majma' az-Zawaid: 7/ 313, al-'Arfu al-Wardi: 2 / 58, Shawa’iq: 166 dan Kanz 14 / 216 Hadis ke 38653.&lt;br /&gt;66. Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke: 4282. Lihat juga al-Mu jam al-Kabir: 10 / 135 hadis ke 10224, Mashabih as-Sunnah: 3 / 392 hadis ke 4210, 'Uqad ad-Durar: 27, 28 dan 169, ash-Shawaiq: 163, Minhaj as-Sunnah: 4 / 95, Misykat al-Mashabih: 3 / 170 hadis ke 5452 dan Kanz ‘Ummal: 14/ 267 hadis ke 38676.&lt;br /&gt;67. Al-Fitan: 229 dan lihat juga ‘Uqad Ad-Durar:16-17, Jawahir aldaian: 306, al-Arfu al- Wardi 74 dan ash-Shawaiq:164.&lt;br /&gt;68. Musnad Ahmad: 1/ 84, Sahih Muslim—sebagaimana dimuat dalam Kanz ‘Ummal : 14 / 264 hadis ke 38662, Shawaiq:163, Sunan Abu Daud: 4 / 104 hadis ke 4284, Sunan an-Nasa’'i—sebagaimana dikutip dalam 'Uqad ad-Durar: 15, Sunan Ibnu Majah: 2 / 1368 hadis ke 40886, al-Baihaqi—sebagaimana disebut dalam Shawaiq, Mashabih as-Sunnah: 8 / 492 hadis ke 4211, Syarh as-Sunnah: 8 / 354 hadis ke 4280 al-Jami' ash-Shaghir: 552 hadis ke 9241 dan al-Bayan fi Akhbar Shahib az-Zaman:  486.&lt;br /&gt;69. Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari: 5 / 362.&lt;br /&gt;70. Islamuna; Doktor Mushthafa ar-Rafi’iy: 195.&lt;br /&gt;71. Untuk mengetahui nama-nama mereka lihat Difaa ‘An al-Kafi Tsamir Hasyim Al’Amidi 1/ 569-592, Kasyf al-Astaar; Mirza Husain an-Nuri ath-Thabarsi : 46-93 dan kitab al-Imam ats-Tani ‘Aasyar;Muhammad Sa’id al-Musawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Selesai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-6423007418721927989?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/6423007418721927989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=6423007418721927989' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6423007418721927989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6423007418721927989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/09/ulama-sunni-bicara-tentang-12-imam_3191.html' title='Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 4'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-1402299161530583036</id><published>2007-09-14T00:38:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T00:42:33.445-07:00</updated><title type='text'>Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 3</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Imam Kesepuluh: Imam Ali bin Muhammad al-Hadi a s &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Muhammad bin Ali al-Jawad a s.&lt;br /&gt;Ibu: Sammanah al-Maghribiyah dan ada yang menyebutnya Jumanah.&lt;br /&gt;Tempat dan tanggal lahir: Sharya sebuah desa di dekat kota Madinah pada tanggal 1 atau 2 bulan Rajab dan ada yang mengatakan pada pertengahan bulan Dzul Hijjah tahun 212 atau tahun 214 H.&lt;br /&gt;Wafat: Samurraa’ Irak pada tanggal tiga bulan Rajab tahun 254 H dalam usia 40 atau 42 tahun dan dikebumikan di rumah beliau di kota Samurra’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian Para Ulama Tentang Keutamaan Imam Ali al-Hadi a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir: Adapun Abu al-Hasan Ali al-Hadi, beliau adalah putra Imam Muhammad al-Jawad ...salah seorang imam dua belas, beliau ayah Imam Hasan al-Askari, beliau seorang abid, zuhud. Beliau dipindahkan oleh (Khalifah) Mutawakkil ke kota Samurra’ dan tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun.51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shabbagh al-Maliki mengatakan: "Imam setelah Abu Ja`far adalah putra beliau Abu al-Hasan Ali bin Muhammad dikarenakan terkumpulnya ciri-ciri keimamahan padanya, dan dikarenakan sempurnanya keutamaan, dan ilmu beliau, dan dikarenakan tidak ada yang mewarisi kedudukan ayah beliau selain dia, serta karena tetapnya nash penunjukan atasnya dan ayah beliau.”52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh asy-Syablanji berkata: “Dan kemuliaan beliau banyak sekali, Ibnu Hajar dalam Shawa'iq-nya berkata: ‘Abu al-Hasan alAskari adalah pewaris ayahnya dalam ilmu dan kedermawanan.’”53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cukuplah sebagai bukti kedekatan dan kemuliaan beliau di hati umat kekek beliau Rasulullah saww bahwa ketika al-Mutawakkil al-Abbasi (Khalifah yang dikenal sangat benci kepada keturunan Ali a s mengutus Yahya bin Hartsamah untuk menangkap Imam Ali alHadi a s karena adanya tuduhan bahwa beliau a s mempersiapkan senjata untuk memberontak dan menumbangkan dinasti Abbasiah, Yahya menceritakan: "Dan ketika aku memasuki kota Madinah, penduduknya gempar dan sangat ribut tidak pernah terjadi sepertinya karena khawatir atas keselamatan Ali, dan dunia seakan bangkit di atas kedua kakinya, karena ia sangat baik kepada mereka, senantiasa berada di masjid, tidak memiliki kecenderungan kepada dunia, maka saya tenangkan mereka dan saya bersumpah bahwa saya tidak diperintahkan dengan kejahatan atasnya, ia tidak akan apa-apa, kemudian saya periksa rumahnya maka saya tidak menemukan di dalamnya kecuali mushhaf dan buku-buku do'a dan buku-buku ilmu maka ia menjadi agung di mataku.”54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Beliau meninggal di kota Surra Man Ra’a (Samurra’) pada bulan Jumada al-Akhirah tahun 254 H, dalam usia 40 tahun. Mutawakkil memberangkat beliau ke kota tersebut tahun 243H. dan beliau tinggal di sana hingga wafat dengan meninggalkan empat putra dan seorang putri, yang paling agung di antara mereka adalah Abu al-Hasan al-Khalish (Imam Hasan al &lt;br /&gt;Askari). “55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Kesebelas: Imam Hasan al-Askari a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Ali al-Hadi a s.&lt;br /&gt;Ibu: Seorang wanita bangsawan berkebangsaan Romawi bernama Susan atau Haditsah atau Salil.&lt;br /&gt;Tempat dan tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal 10 bulan Rabiutsani tahun 232 H.&lt;br /&gt;Wafat: Samurra' pada tanggal 8 bulan Rabiulawal tahun 260 H dalam usia 25 dan ada yang mengatakan; 28 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat karena diracun juga. Beliau tidak meninggalkan anak kecuali putra beliau yaitu Abu al-Qasim Muhammad a-Hujjah, dan usianya ketika ditingal wafat ayahnya adalah lima tahun akan tetapi Allah memberinya al-Hikmah. Beliau digelari dengan al-Qaim al-Muntadzar.56&lt;br /&gt;Beliau dikebumikan di dalam rumah beliau di kota Samurra'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekilas tentang keutamaan Imam al-Hasan al-‘Askari a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibthu Ibn al-Jauzi berkata: “Beliau alim (pandai), terpercaya, meriwayatkan hadis dari ayahnya dari kakeknya.”57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shabbagh al-Maliki berkata: “Imam setelah Abul-Hasan Ali bin Muhammad adalah putra beliau Abu Muhammad al-Hasan, dikarenakan terkumpulnya karakter kemuliaan padanya, mengungguli orang-orang sezamannya dalam hal yang menyebabkan kelayakan dalam imamah dan mengungguli mereka dalam ilmu wara’, zuhud, kesempurnaan akal dan banyaknya amal yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, lalu dikarenakan nash penunjukan atas beliau dan isyarat kekhilafahan untuknya.” 58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shabbagh juga mengatakan: “Keutamaan Sayyidina Hasan Al-‘Askari menunjukkan bahwa beliau benar-benar putra Imam al-Hadi, tiada diragukan akan keimamahan beliau ....Beliau yang tunggal di zamannya tiada tertandingi, sangat khas tiada tersaingi, beliau tuan orang-orang di zamannya, imam mereka, ucapan-ucapan beliau lurus, pekerjaan beliau terpuji.... Beliau pendekar ilmu yang tak terlawan, penjelas kerumitan-kerumitannya tanpa tertandingi, penyingkap hakikat-hakikatnya dengan pandangan yang tepat....”59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syablanji berkata: “keutamaan beliau banyak sekali. Kemudian ia menyebutkan kisah yang terjadi ketika Imam al-‘Askari masih kecil dengan seorang sufi yang bernama Buhlul.”60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kisah Imam al-‘Askari dengan Buhlul&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syablanji dan Ibnu Hajar menyebutkan kisah tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, Buhlul melihat Imam -ketika itu masih kanak-kanak- sedang menangis sementara anak-anak lainnya bermain, lalu Buhlul mengira bahwa beliau menangis karena sedih tidak memiliki mainan yang ada pada mereka, maka Buhlul berkata kepada beliau: “Maukah kamu saya belikan mainan yang dapat kamu pakai bermain?” Maka Imam menjawab: “Hai Anda, yang sedikit akalnya, kita tidak diciptakan untuk bermain-main. “Buhlul bertanya: “Lalu untuk apa kita diciptakan?” Beliau menjawab: “untuk ilmu dan ibadah.” Ia betanya kembali: “dari manakah kamu mengatakan itu?” Imam menjawab: “Dari firman Allah;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (QS. al-Mu’minun; 115 )&lt;br /&gt;Kemudian Buhlul meminta agar dinasehati, maka beliau menasehati dengan bait-bait syair kemudian beliau jatuh pingsan, lalu ketika sadar atau siuman, Buhlul berkata: “Apa sebenarnya yang sedang menimpa Anda, sedangkan Anda masih kecil, tiada dosa atasmu?” Beliau menjawab: “Menyingkirlah dariku wahai Buhlul! Sesungguhnya aku menyaksikan ibuku menyalakan api dengan kayu besar maka ia tidak menyala kecuali dengan kayu kecil, maka saya takut menjadi kayu neraka Jahannam yang kecil.” 61&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Imam al-‘Askari a s dipenjarakan oleh Khalifah zamannya, datanglah beberapa orang dan keluarga Bani Abbas memerintah kepada Saleh bin Washif—penjaga rumah tahanan—agar mengintimidasi dan memperkejam perlakuannya, Saleh menjawab: ”Apa yang harus saya perbuat, saya telah perintahkan dua orang yang paling jahat yang aku kenal, tapi keduanya malah menjadi orang saleh yang senatiasa beribadah; menegakkan salat, berpuasa. “Kemudian ia meminta agar keduanya dihadirkan, lalu ia berkata kepada mereka: “Celakalah kalian, ada apa kalian dengannya?” Mereka berdua menjawab: “Apa yang hendak kami katakan tentang seseorang yang siangnya berpuasa dan malamnya berdiri menegakkan shalat, tidak berbicara dan sibuk selain dengan ibadah, jika kita melihatnya kita gemetar dan terserang rasa haibah sehingga kita tidak mampu menguasai diri kami.” 62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Berita Wafat Imam Hasan al-‘Askari&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syablanji berkata: “Dalam al-Fushul al-Muhimmah disebutkan: ‘Ketika berita wafat beliau tersebar gemparlah kota Samurra’ dan terjadilah jeritan serempak, pasar-pasar libur, toko-toko tutup, keluarga besar Bani Hasyim, para pejabat dan seluruh manusia pergi melayat jenazah beliau, Kota Samurra’ hari itu seakan kiamat.’”63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-1402299161530583036?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/1402299161530583036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=1402299161530583036' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/1402299161530583036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/1402299161530583036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/09/ulama-sunni-bicara-tentang-12-imam_5942.html' title='Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 3'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-762619102666479610</id><published>2007-09-14T00:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T00:37:01.787-07:00</updated><title type='text'>Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 2</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Imam Keenam: Imam Ja’far ash-Shadiq a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Muhammad al-Baqir a s.&lt;br /&gt;Ibu: Fatimah—putri—al-Qasim bin Muhammad putra Abu Bakar.&lt;br /&gt;Tempat dan tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sepuluh bulan Rabiulawal tahun 83 H.&lt;br /&gt;Wafat: Di Madinah pada tanggal dua puluh lima bulan Syawal tahun 148 H dalam usia 65 tahun dan ada yang mengatakan dalam usia 68 tahun akibat diracun dan meninggalkan enam orang putra dan satu anak perempuan.&lt;br /&gt;Beliau dikebumikan di pemakaman al-Baqi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Ja’far ash-Shadiq a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: "Dan manusia telah menukil dari beliau berbagai ilmu dan nama harum beliau tersebar di seantero negeri, para ulama besar seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik, Sufyan bin Uyainah, ats-Tsauri, Abu Hanifah, Syu'bah, dan as-Sakhtiyani meriwayatkan hadis dari beliau. 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah mengatakan kalau bukan karena dua tahun ia belajar dari Imam Ja`far niscaya ia binasa:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau bukan karena dua tahun pasti binasalah Nu'man (Abu Hanifah).”&lt;br /&gt;Kesaksian Para Ulama&lt;br /&gt;Selain apa yang disampaikan oleh Abu Hanifah dan Ibnu Hajar, kita akan menemukan banyak kesaksian para Ulama akan keagungan kepribadian dan keilmuan Imam Ja`far ash-Shadiq a s.&lt;br /&gt;Khalifah al-Manshur berkata: “Sesungguhnya Ja’far adalah dari mereka yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;Kemudian Kami wariskan al-Kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,..." (QS. Fathir: 32)&lt;br /&gt;Ia termasuk dari mereka yang dipilih Allah dan orang-orang yang bercepat-cepat kepada kebaikan.20&lt;br /&gt;Imam Malik bin Anas berkata: “Ja’far bin Muhammad, aku selalu mendatanginya dalam waktu yang sangat panjang, dan aku tidak menemuinya kecuali dalam salah satu dari tiga keadaan; menunaikan salat atau berpuasa atau membaca al-Qur’an.”21&lt;br /&gt;Ia juga berkata: “Mata tiada akan pernah memandang, telinga tiada akan mendengar dan tiada akan pernah terlintas dalam pikiran manusia ada seseorang yang lebih mulia dari Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq dalam ilmu, ibadah, dan wara’ (kehati-hatian dalam beragama).”&lt;br /&gt;Amr bin Migdam berkata: “Aku apabila memandang Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah dari keturunan para Nabi.”22&lt;br /&gt;Asy-Syahrastani berkata: “Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, ia memiliki ilmu yang melimpah, aturan (hidup) yang sempurna dalam hikmah dan kezuhudan terhadap dunia dan wara’ yang sempurna dari syahwat, beliau tinggal dalam waktu yang lama dikota Madinah memberi pengajaran (pendidikan) kepada para pengikutnya dan menuangkan kepada para pendukung (kepemimpinannya) rahasia-rahasia ilmu-ilmu.”23&lt;br /&gt;Al-Jahidh berkata: “Ja’far bin Muhammad, yang telah memenuhi dunia dengan pengetahuan dan fiqihnya, dikatakan bahwa Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri termasuk murid beliau, dan itu sudah cukup sebagai bukti kebesarannya.”24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khallikan berkata tentang Imam Ja’far: “Beliau dari tokoh ahlulbait, digelari ash-Shadiq kareka kejujuran ucapannya, keagungannya lebih masyhur untuk disebut-sebut, beliau memiliki teori tentang kimia,... dan Abu Musa Jabir bin Hayyan ath-Thusi adalah murid beliau, ia menulis buku sebesar seribu halaman yang memuat risalah-risalah (karangan) Ja`far ash-Shadiq, ia adalah lima ratus risalah.”25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'i berkata: “Ja’far bin Muhammad, beliau termasuk Ulama dan pembesar ahlulbait, memiliki ilmu yang banyak, ibadah yang berlimpah, wirid yang bersambung, kezuhudan yang nyata, bacaan (Al-Qur'an) yang banyak, beliau menelusuri makna-makna Al-Qur’an dan mengeluarkan permata-permata dari lautannya dan menyimpulkan keajaiban-keajaibannya. Beliau membagi waktu-waktu beliau dengan berbagai ketaatan dan mengintrospeksi diri atasnya, memandang wajah beliau mengingatkan akan akhirat, mendengar ucapan beliau menjadikan zuhud kepada dunia, mengikuti petunjuk beliau menyebabkan masuk surga, cahaya wajah beliau saksi bahwa beliau dari keturunan kenabian, dan kesucian tindakan beliau bukti bahwa beliau dari keluarga kerasulan, para ulama seperti Yahya bin Sa`id al-Anshari....menukil hadis dan mengambil ilmu dari beliau dan mereka menganggapnya sebuah kemuliaan bagi mereka.26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tadzkirah al-Huffadz27 disebutkan dari Salih bin Abil Aswad ia berkata: “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata: ‘Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku, karena tidak ada yang menyampaikan hadis sepeninggalku seperti hadisku.”&lt;br /&gt;Syeikh al-Mufid berkata: “Dan para ahli hadis telah mendata nama-nama para perawi yang menukil dari beliau, dari berbagai golongan dan madzhab, maka jumlah mereka mencapai empat ribu murid.”28&lt;br /&gt;Hasan bin Ali al-Wasysya’ berkata: “Saya menemui di masjid ini (kota Kufah) sembilan ratus syeikh semuanya berkata; ‘Ja’far bin Muhammad menyampaikan hadis kepadaku....’”29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Ketujuh: Imam Musa al-Kadzim a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as. &lt;br /&gt;Ibu: Hamidah al-Mushaffah.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Abwaa' (sebuah desa antara kota Mekah dan Madinah) pada tanggal tujuh bulan Shafar tahun 128 H.&lt;br /&gt;Wafat: Baghadad pada tanggal 25 bulan Rajab tahun 183 H. dalam usia lima puluh lima tahun dan meninggakan tiga puluh tujuh anak.&lt;br /&gt;Beliau dikebumikan di kota al-Kadzimiyah sebelah barat kota Baghdad di pemakaman Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Tentang Keutamaan Imam Musa al-Kadzim a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: "Musa al-Kadzim beliau adalah pewaris ayahnya dalam ilmu, makrifat, kesempurnaan dan keagungan, beliau digelari al-Kadzim karena banyak memaafkan kesalahan orang dan sabar. Beliau dikenal di kalangan penduduk Irak sebagai pintu pemenuhan hajat di sisi Allah SWT. Beliau paling abid (tekun beribadah), paling alim (pandai) dan paling dermawan di antara ahli zamannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabiberkata: “(Beliau) Abu al-Hasan al-Alawiy adalah imam, teladan, Imam Ali bin Musa ar-Ridha, warga Madinah yang tinggal di kota Bahgdad." 30&lt;br /&gt;Dalam Mizan al-I'tidaal, ia berkata: “Musa adalah paling bijaknya orang bijak (hukama') dan paling takwanya hamba Allah.”31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khathib al-Bahgdadi berkata: “Musa dijuluki hamba saleh dikarenakan kesungguhannya dalam beribadah.... Beliau sangat dermawan, pada suatu hari sampai kepada beliau dari seseorang bahwa ia menyakitinya, lalu beliau mengirimkan kepadanya satu kantong uang berisikan seribu dinar (uang emas)....”&lt;br /&gt;Beliau menetap di kota Madinah lalu dipaksa pindah oleh al-Mandi (salah seorang Khalifah dinasti Abasiyah) ke kota Bahgdad, lalu ia (al-Mandi) bermimpi melihat Ali bin Abi Thalib r a sambil membaca ayat: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berhuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. Muhammad: 22) maka ia membebaskan beliau.32 Kemudian beliau menetap di kota Madinah sampai zaman Harun ar-Rasyid, maka ketika Harun ar-Rasyid dalam perjalanan pulang dari umrah di bulan Ramadhan tahun 179 H, ia membawa Musa bersamanya ke Baghdad dan memenjarakannya hingga wafat di dalam penjara.33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar dalam Shawa'iq-nya menyebutkan sebab pemenjaraan tersebut, ia berkata: Dan ketika beliau bertemu dengan Harun arRasyid di hadapan kuburan Rasulullah Saww, Rasyid berkata: “Salam atasmu wahai anak paman”34 ucapan itu didengar oleh orang-orang di sekitarnya, maka al-Kadzim mengucapkan salam kepada Rasulullah saww dengan mengucapkan: “Salam atas Anda wahai ayah “ucapan itu tidak sanggup didengar oleh Rasyid, dan menjadikan sebab penangkapan beliau dan dibawa ke Bahgdad kemudian memenjarakannya, dan beliau. tidak keluar dari penjara kecuali dalam keadaan mayyit dan terikat, beliau dikebumikan di barat kota Baghdad. 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shabbagh al-Maliki berkata: "sekelompok ulama berkata; ‘al-Kadzim adalah imam yang besar kedudukannya, tunggal (tiada tandingan) hujjah dan tokoh, yang menghidupkan malamnya dengan beribadah dan siangnya dengan berpuasa, beliau di juluki al-Kadzim karena sangat sabar dan pemaaf. Beliau dikenal di kalangan penduduk kota Baghdad dengan julukan pintu penyampaian hajat kepada Allah karena selalu menyelesaikan kebutuhan kaum Muslimin....’” Beliau, Musa al-Kadzim paling tekunnya ahli zamannya dalam ibadah, paling pandai, paling dermawan, dan paling mulia. 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Kedelapan: Imam All ar-Ridha a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Musa al-Kadzim a s.&lt;br /&gt;Ibu: Ummu al-Banin bernama Najmah dan ada yang mengatakan nama ibu beliau adalah Takattum.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal. lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sebelas bulan Zulkaidah tahun 148 H.&lt;br /&gt;Wafat: Kota Thuus, Khurasan, Iran (kota Masyhad sekarang) pada tanggal tujuh belas bulan Shafar tahun 203 H dalam usia 55 tahun dan meninggalkan lima putra dan satu putri.&lt;br /&gt;Beliau dikebumi.kan di kota Thuus (Khurasan-Masyhad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Tentang Keutamaan Imam Ali ar-Ridha a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyebut purta-putra Imam al-Kadzim a s lbnu Hajar berkata: “Di antara mereka adalah Ali ar-Ridha, beliau adalah paling tersohor beritanya dan paling agung kemuliaanya.”37&lt;br /&gt;Dalam Tandzib at-Tandzib 38 disebutkan; ar- Ridha adalah salah seorang ahli ilmu dan pemilik keutamaan di samping keagungan nasab (keturunan).&lt;br /&gt;Adz-Dzahabi berkata: "Al-Imam as-Sayyid Abu al-Hasan Ali arRidha....beliau adalah ahli ilmu, pemegang teguh agama dan pemilik keagungan dalam kepribadian yang luar biasa, beliau telah berfatwa dalam usia muda di masa hidup Imam Malik..”39&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain ia mengatakan: “Ali ar-Ridha adalah sangat agung, layak sebagai Khalifah....”40&lt;br /&gt;Ibrahim bin Abbas al-Adib berkata: “Aku tidak pernah menyaksikan ar-Ridha ditanya tentang sesuatu apapun kecuali beliau mengetahuinya. Aku tidak menyaksikan seseorang yang lebih pandai darinya tentang apa yang ada di masa lampau sampai zamannya, (Khalifah) al-Makmun mengujinya dengan pertanyaan maka beliau menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan. Beliau sedikit tidur banyak berpuasa....banyak kebaikannya dan bersedekah terutama dimalam-malam gelap gulita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja’ bin Abi adh-Dahhak—yang ditugasi oleh Makmun untuk mengawal Imam ar-Ridha a s dalam perjalanan dari Madinah hingga Khurasan, ibu kota pemerintahan Makmun—menceritakan keagungan Imam Ridha as: “Demi Allah, saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih takwa kepada Allah, lebih banyak berzikir dalam setiap waktunya dan lebih takut kepada Allah Azza wa Jalla darinya. Beliau tidak singgah di sebuah kota kecuali dituju oleh manusia menanyakan tentang ajaran agama mereka maka beliau menjawab pertanyaan mereka dan menyampaikan banyak hadis dari ayah-ayah beliau dari Ali dari Rasulullah saww. Dan ketika saya sampai dan menjumpai al-Makmun, beliau bertanya kepadaku tentang keadaannya (ar-Ridha), saya beritahukan kepadanya apa yang saya saksikan di malam dan siangnya.... Maka al-Makmun berkata: ‘Benar wahai Ibnu Abi adh-Dhahhak, ia adalah sebaik-baik penduduk bumi, paling pandai, dan paling tekun beribadah.’”41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hadis Silsilah adz-Dzahab&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat betapa dikenalnya Imam Ali ar-Ridha a s dan dielu-elukan oleh umat kakek beliau saww, hal itu terlihat dalam perjalanan beliau menuju kota Khurasan, ketika beliau melewati kota Naisyabur—kota ilmu dewasa itu. Di sebutkan dalam Tarikh Naisyabur, sebagaimana dikutip Ibnu Shabbagh al-Maliki dalam alFushul al-Muhimmah; Sesungguhnya Imam ketika memasuki kota Naisyabur dalam perjalan beliau ke Maru (Khurasan), beliau berada di sebuah qubah tertutup menunggang kuda hitam, maka dua imam dan hafidz hadis-hadis Nabi saww yang tekun memburu hadis; Abu Zar’ah ar-Razi dan Muhammad bin Aslam ath-Thusi bersama banyak pelajar dan ulama hadis, mereka berdua berkata: “Wahai tuan yang mulia dan putra para imam, demi hak ayah-ayah Anda yang suci dan sesepuh Anda yang mulia, kami memohon agar Anda berkenan menampakkan wajah mulia nan penuh berkah Anda dan riwayatkan untuk kami hadis dan ayah-ayah Anda dari Rasulullah saww yang kami dapat selalu mengingat Anda dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau memberhentikan kendaraan beliau dan memerintahkan para pembantu agar membuka tirai dan qubah itu dan beliau menggembirakan mereka dengan memperlihatkan wajah beliau yang penuh berkah dan mereka semuanya berdiri sesuai dengan kedudukan masing-masing memandang beliau, di antara mereka ada yang menjerit, menangis, dan ada yang bergulung-gulung di tanah, ada yang menciumi kaki kuda beliau, suarapun menjadi ramai maka para ulama dan fuqaha meminta mereka tenang; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia dengarkan dan perhatikan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian, dan jangan ganggu kami dengan suara tangis dan jeritan histeris kalian,” lalu Imam Ali ar-Ridha menyampaikan hadis, beliau berkata; “Ayahku Musa al-Kadzim mengabarkan kepadaku dan ayah beliau Ja’far ash-Shadiq dan ayah beliau Muhammad al-Baqir dari ayah beliau Ali Zainal Abidin dan ayah beliau Husain Syahid di tanah Karbala dan ayah beliau Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya beliau berkata; ‘kekasih dan kecintaanku Rasulullah saww mengabarkan kepadaku, beliau bersabda; mengabarkan kepadaku, ia berkata; ‘Aku mendengar Tuhan pemilik kemuliaan Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Kalimat "lailaha illallah" (tiada Tuhan selain Allah) adalah benteng-Ku maka barang siapa mengucapkannya ia masuk ke bentengKu dan barang siapa masuk ke benteng-Ku ia aman dari siksa-Ku."&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menutup kembali tirai tersebut dan melanjutkan perjalanan....maka para ulama dan ahli tulis menghitung mereka yang mencatat, jumlah mereka dua puluh ribu orang.’” 42&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal berkata: Andai nama-nama suci dalam sanad hadis itu dibacakan atas orang gila pasti ia akan sembuh.43&lt;br /&gt;Abu Nu'aim berkata setelah meriwayatkan hadis di atas: Ini adalah hadis yang masyhur dengan sanad (jalur) tersebut dari riwayat orang-orang suci dari ayah-ayah mereka yang suci, dan sebagian salaf kami (Ahmad —maksudnya) mengatakan ketika ia meriwayatkan dengan sanad itu: Ini adalah sanad jika dibacakan atas seseorang yang gila pasti ia akan sembuh.44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Kesembilan: Imam Muhammad al-Jawad a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Ali ar-Ridha a s.&lt;br /&gt;Ibu: Sabikah dari keluarga Mariyah al-Qibthiyah salah seorang istri Nabi Muhammad saww.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal sepuluh bulan Rajab tahun 195H.&lt;br /&gt;Wafat: Baghdad pada awal bulan Zulkaidah dan ada yang mengatakan tanggal lima bulan Zulhijah tahun 220 H dalam usia 25 tahun dan dikebumikan dipemakaman Quraisy di kota Kadzimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Tentang Keutamaan Imam Jawad as&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata: “Imam Ali ar-Ridha wafat meninggalkan lima orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yang paling mulia adalah Muhammad al-Jawad, akan tetapi beliau tidak panjang usianya.”45&lt;br /&gt;Sibthu Ibn al-Jauzi berkata: “Beliau sesuai dengan jalan hidup ayah beliau dalam keilmuan, ketakwaan, kezuhudan, dan kedermawanan."46&lt;br /&gt;Ibnu Thalhah asy-Syafi'i: Dia adalah Abu Ja’far ats-Tsani (kedua)47 ....Beliau walau masih kecil usianya namun agung kemutamaannya, tinggi sebutannya. Yang memikul imamah sepeninggal Ali bin Musa ar-Ridha adalah putra beliau; Abu Ja’far al-Jawad berdasarkan penunjukan dari ayah beliau, seperti dikhabarkan sekelompok tokoh yang terpercaya dan adil, demikian dikutip oleh Ibnu Shabbagh al-Maliki.48&lt;br /&gt;Mahmud bin Wahab al-Baghdadi al-Hanafi berkata: "Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha, kunyahnya adalah Abu Ja’far beliau pewaris ilmu dan kemuliaan ayah beliau dan paling mulia kedudukan dan kesempurnaannya di antara saudara-saudaranya."49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar dan asy-Syablanji juga menyebutkan bahwa beliau menjawab seluruh pertanyaan yang dipersiapkan oleh Yahya bin Aktsun di hadapan Khalifah al-Ma’mun dan para Ulama atas perintah sekelompok orang dari Bani Abbas dengan tujuan memojokkan Imam al-Jawad a s dan bagaimana ketidakmampuan Yahya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Imam al-Jawad a s kepadanya, sehingga ia malu dan pucat, kemudiam Ma’mun berkata: Sesungguhnya anggota keluarga rumah itu telah di beri keistimewaan dengan apa yang kalian telah saksikan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, dan sesungguhnya muda usia pada mereka tidaklah menjadi penghalang dari kesempurnaan ....50 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-762619102666479610?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/762619102666479610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=762619102666479610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/762619102666479610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/762619102666479610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/09/ulama-sunni-bicara-tentang-12-imam_14.html' title='Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 2'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-4015875920919261558</id><published>2007-09-14T00:12:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T00:29:19.029-07:00</updated><title type='text'>Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 1</title><content type='html'>Bismihi ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah kiriman dari seorang kawan, sebut saja namanya Muhammad. Saya tidak tahu jatidiri penulis yang sebenarnya, jadi untuk sementara saya nisbatkan kepada kawan saya itu. Tapi -saya yakin- siapapun nama penulisnya, dia adalah "Muhammad".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lewat disebutkan bahwa Nabi saww telah memberi berita gembira akan kedatangan dua belas imam dan khalifah yang akan memimpin umat Islam, dan telah kita saksikan pula bagaimana kerancuan penafsiran ulama Ahlusunah tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak tafsiran terhadap hadis-hadis tentang adanya dua belas imam yang jumlahnya sangat banyak dan sahih itu hanya tafsiran pengikut ahlulbait-lah yang sesuai dan tepat, sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;: Hanya tafsiran Syiah yang sesuai dalam jumlah sebagaimana yang disebut dalam hadis-hadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua:&lt;/em&gt; Adanya kesinambungan dan kebersambungan mata rantai kepemimpinan, sementara dalam tafsiran-tafsiran lain kita melihat adanya keterputusan atau bahkan pemaksaan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga:&lt;/em&gt; Kelayakan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nama-nama yang disebutkan dalam penafsiran lain.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kempat:&lt;/em&gt; Tafsiran Syiah didukung oleh riwayat-riwayat lain yang menyebut nama-nama mereka satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang juga perlu kita ketahui bersama bahwa para imam ahlulbait a s adalah pribadi-pribadi yang telah dikenal dan diakui keunggulan dan kelebihannya baik oleh mereka yang simpatik dan mengakui keimamahan mereka maupun oleh lawan dan mereka yang tidak mengakui imamah mereka. Para imam ahlulbait a s bukan pribadi-pribadi yang asing di kalangan masyarakat Islam umumnya dan kalangan ulama khususnya.&lt;br /&gt;Kesaksian ulama Islam dari berbagai mazhab dan aliran adalah bukti nyata kelebihan dan imamah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini kami sebutkan data ringkas para Imam suci AhlulBait as. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Pertama: Ali bin Abi Thalib as&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf.&lt;br /&gt;Ibu: Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Mekah al-Mukarramah (di dalam Ka'bah) pada hari Jumat tanggal tiga belas bulan Rajab, tiga puluh tahun sebelum kenabian.&lt;br /&gt;Wafat: Beliau syahid dikota Kufah pada tanggal dua puluh satu bulan Ramadhan tahun empat puluh H. dalam usia enam puluh tiga tahun setelah dipukul dengan pedang oleh Abdurrahman bin Muljam dan dikebumikan di Kufah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Ali a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama menegaskan bahwa tiada seorang dari sahabat Nabi saww yang memiliki keutamaan yang disebut dalam hadis-hadis Nabi saww yang sahih lebih dari Ali a s.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud menyebut hadis-hadis tentang keutamaan beliau, sebab hal itu membutuhkan berjilid-jilid kitab, namun saya hanya bermaksud menyebut sekelumit keutamaan yang masyhur yang telah disebut dalam hadis-hadis Nabi saww.&lt;br /&gt;Imam Ali as adalah pribadi pertama yang beriman dan memeluk Islam setelah istri Nabi saww Khadijah as. Kedudukan beliau di sisi Nabi saww bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa as bahkan beliau adalah bagaikan jiwa Nabi sendiri seperti ditegaskan dalam ayat al-Mubahalah.&lt;br /&gt;Imam Ali adalah Wali setiap mukmin dan mukminah sepeninggal Nabi saww.&lt;br /&gt;Beliau adalah Washi dan Khalifah Nabi Muhammad saww, pewaris dan pengemban amanat Risalah.&lt;br /&gt;Beliau adalah ash-Shiddiq al-Akbar dan Faruq yang memilah antara hak dan batil, kecintaan kepadanya adalah tanda keimanan dan kebencian kepadanya adalah bukti kemunafikan, membencinya berarti membenci Allah dan Rasul-Nya, mencacinya berarti mencaci Allah dan Rasul-Nya dan memeranginya berarti memerangi Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali&lt;br /&gt;Pribadi agung yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Sahabat Nabi saww terpandai dan pintu kota ilmu Nabi saww penjelas apa yang diperselisihkan oleh umat sepeninggal Nabi saww.&lt;br /&gt;Pribadi yang paling berjasa dalam menegakkan agama Islam dan pembelaannya dalam berbagai pertempuran melawan kekafiran tidak dapat dipungkiri; di Badr, Uhud, Khaibar, Hunain dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini kami kemukakan kemampuan Imam Ali a.s. sebagaimana yang dikuatkan oleh nash-nash hadis yang sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saww. berkata, "Perumpamaan Ali bagi kamu sekalian adalah ibarat Ka’bah….”&lt;br /&gt;(Jalaluddin Al-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, jilid I, halaman 96; Ibnu ‘Asakir dari hadis Abu Bakar, Utsman, Aisyah, dll. Hadis ini di-takhrij pula oleh Al-Kanaji dalam Al-Kifayah, dan Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila Ka'bah bisa menyatukan kiblat umat saat mereka menghadap kepada Allah SWT dalam shalat atau ketika menunaikan rukun-rukun haji dan ‘umrah, maka demikian pulalah yang dilakukan oleh Ali dan ajarannya yang diambil oleh banyak orang di Dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali adalah jalan lurus (Shirath A I-Mustaqim), yang darinya umat menimba ilmu Ilahi dan pengetahuan dalam menentukan syariat sesudah Rasulullah saww., tanpa ada orang lain yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saww. mengatakan, "Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas bagi umatku sesudahku, tentang agama yang untuk itu aku diutus. Mencintainya adalah iman, dan membencinya adalah kemunafikan." (Hadis ini di-takhrij oleh Abu Na'im dalam Hilyat Al-Auliya’, dan diriwayatkan oleh Al-Dailami dalam Firdaus Al-Akhbar; AI-Hamawaini dalam AlFara’id, dll.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saaw. mengatakan pula, "Aku adalah gudang ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya.... " (Hadis ini di-takhrij oleh Ahmad bin Hanbal, dan Al-Tirmidzi dalam jami’ Al-Shahih-nya. Dikutip dari Muhammad Al-Ghumari, Fath AI-Muluk Al’Aliy bi Shihhat bob Madinat Al’ilm 'Ali, cetakan kedua, 1969).&lt;br /&gt;Ali persis Rasulullah saww. dalam menegakkan keadilan di tengah manusia. Telapak tangannya sama dengan telapak tangan beliau. Rasulullah saww. mengatakan, “Wahai  Abu Bakar, tanganku dan tangan Ali, dalam menegakkan keadilan, adalah sama.” (Hadis ini di-takhrij oleh Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’; Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Al-Kabir-nya, dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Manaqib-nya. Dikutip dari Maqam Amir Al-Mu’minin, halaman 12.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mengatakan bahwa Ali a.s. adalah sama dengan diri beliau. Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad-nya, meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Khanthab, katanya, “Rasulullah saww. berkata kepada utusan Bani Tsaqif ketika menghadap kepada beliau, 'Anda boleh memilih, menyerah atau saya akan kirim seorang laki-laki yang seperti aku untuk memerangi Anda sekalian, menawan anak-isteri Anda, dan merampas harta Anda (kemudian beliau berpaling kepada Ali, lalu memegang tangannya), lalu berkata, ’inilah orang yang saya katakan itu. Inilah orang yang saya katakan itu. (Hadis ini di-takhrij oleh Ibnu Hanbal dalam Al-Manaqib, dan Abu Na’im dalam Hilyat; Al-Tirmidzi, dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali a.s. adalah orang yang paling tahu secara lengkap masalah-masalah hukum sesudah Rasulullah saww. Anas bin Malik mengatakan, “Rasulullah saww. berkata, “Yang paling tahu tentang hukum di antara umatku, adalah Ali” (Lihat Al-Riyadh .A1-Nadhrah,jilid II, hal. 198. Juga Al-Kanaji Al Syafi’i, Al-Kifayah; Ibn Al-Shabagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, dan Al-Baladzuri, Ansab Al-Asyraf. Dikutip melalui Maqam Amir AlMu'minin, hal 32.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis tersebut di atas mengisyaratkan bahwa, Imam Ali a.s. adalah orang yang paling cakap dalam mengurus persoalan umat dan memutuskan persengketaan mereka ketimbang orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saww. berkata, “Ali bersama kebenaran (haq), dan kebenaran (haq) bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga dikembalikan ke telaga (Al-Haudh) di hari Kiamat.” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Kabir, jilid IV, hal. 321; Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah; Ibn Sa’ad, Kunz Al-'Ummal; Al-Zamakhsyari, Rabi’ Al-Abrar; Al-Hamawaini, Al-Farald, dll. Dikutip dari 'Ali wa Al-Washiyyah, hal. 113.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang Imam Ali a.s. adalah pemelihara kebenaran yang dengan itu Allah SWT memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, maka keduanya (Ali dan kebenaran) tidak bisa dipisahkan. Rasulullah Saaw. mengajak umatnya untuk mengikuti manhaj-nya dan berpijak secara teguh pada langkahnya agar selamat dari kesesatan dan tidak mengikuti jalan-jalan lainnya, sehingga menyimpang dari jalan Allah SWT. Rasulullah saww. mengatakan, “Akan muncul sesudahku fitnah. Kalau masa itu sudah tiba, maka ikutilah Ali bin Abi Thalib. Sebab, dia adalah orang pertama yang melihatku dan bertemu denganku di hari Kiamat. Dia merupakan bagian dari diriku di langit yang tinggi, dan dia adalah pembeda yang haq dari yang bathil.” (Lihat Al-Kanaji AI-Syafi'i, Al-Kifayah, dan Al-Hafizh dalam 'Amali-nya, dll. Untuk referensi lebih jauh, baca Najmuddin Al-Askari, ‘Ali wa Al-Washiyyah, hal. 167.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang keimanan Imam Ali a.s. Rasulullah saww. mengatakan, “Kalau seandainya langit dan bumi ini merupakan dua tempat yang berada di satu tangan, dan keimanan Ali berada di tangan yang lain, niscaya (timbangan) iman Ali lebih berat (daripada langit dan bumi).” (Hadis ini di-takhrij oleh Al-Dailami dari Ibnu ‘Umar. Lihat Kanz Al-Ummal, jilid VI, hal. 156, dan Riyadh Al-Nadhrah, jilid II, hal. 226. di-takhrij dari Umar ibn Al-Khaththab. Dinukil dari Maqam Amir Al- Mu’minin hal. 15.)&lt;br /&gt;Itulah beberapa keistimewaan Imam All a.s. sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saww.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selain yang kami sebut masih banyak keutamaan lain yang dapat Anda jumpai dalam kitab-kitab ulama Islam yang berbicara tentang keutamaan Imam Ali a s.&lt;br /&gt;Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul-Bait dan keutamaan Ali bin Abi Thalib a s. Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: “Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang memiliki fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanadnya yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi’ah. Begitu anggapan umum waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi’ahan seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat. Ahlus-Sunnah akan menyebut dengan urutan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seterusnya. Sedangkan Syi’ah akan memulai urutan sahabat itu dari Ali. Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hambal menanyai ayahnya, “Bagaimana pendapat Anda tentang tafdhil (urutan keutamaan) sahabat?” Ahmad bin Hambal menjawab, “Dalam- khilafah: Abu Bakar, Umar, Utsman.”&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana dengan Ali?” tanya Abdullah.&lt;br /&gt;“Wahai anakku,”• kata Ahmad bin Hambal, “Ali bin Abi Thalib termasuk ahlul-bait dan orang tidak dapat diperbandingkan dengan mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, “Hai Abu Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis -Ali pembagi neraka?”&lt;br /&gt;Ahmad :Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi s.a.w. pernah berkata kepada “Tidak mencintaimu kecuali mukmin, dan tidak membencimu kecuali munafik.”&lt;br /&gt;Orang-orang :Betul (nabi berkata begitu).&lt;br /&gt;Ahmad  :Di mana orang mukmin menetap?&lt;br /&gt;Orang-orang :Di surga.&lt;br /&gt;Ahmad  :Di mana orang munafik menetap?&lt;br /&gt;Orang-orang :Di neraka.&lt;br /&gt;Ahmad  :Kalau begitu, Ali adalah pembagi neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi’ah kepadanya. Bukankah Syi’ah adalah mazhab yang mengikuti ahlul-bait - dengan Ali sebagai rujukannya. Lagi pula Ahmad bin Hambal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi’ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah Abdurrahman bin Shalih, seorang Syi’ah. Ahmad bin Hambal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, “Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata - jangan mencintainya? Abdurrahman bin Shalih adalah tsiqat (orang yang dapat dipercaya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan Syi’ah terhadap Ahmad bin Hambal ini untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan Ahmad bin Hambal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi'i. Beliau beserta tiga ratus orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Seorang demi seorang dipancung di depan Khalifah. Imam Syafi’i selamat, setelah ia mengucapkan salam kepada Harun Al-Rasyid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, karena riwayat mihnah Imam Syafi’i ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi’i ialah bahwa ia Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Kedua: Imam Hasan bin Ali as &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah : Imam Ali a s.&lt;br /&gt;Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada malam pertengahan bulan Ramadhan tahun dua H. &lt;br /&gt;Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Shafar tahun 50 H dalam usia 48 tahun dan dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Ketiga: Imam Husain a s&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Ali bin Abi Thalib a s.&lt;br /&gt;Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal tiga bulan Ramadhan tahun ketiga H.&lt;br /&gt;Syahadah: beliau syahid di padang Karbala pada tanggal sepuluh bulan Muharram dalam usia lima puluh delapan tahun dan dikebumikan di Karbala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Tentang Keutamaan Imam Hasan dan Imam Husain a s &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berdua adalah penghulu penghuni surga, paling dicintai Rasulullah saww. &lt;br /&gt;Keduanya adalah Imam, baik berkuasa ataupun tidak. Keduanya adalah sebaik-baik manusia ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya. &lt;br /&gt;Barangsiapa mengganggu Hasan dan Husain berarti ia mengganggu Nabi saww. &lt;br /&gt;Ibnu Hajar dalam Shawaiq-nya menyebut beb erapa riwayat tentang keutamaan Imam Hasan dan Husain as, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya. &lt;br /&gt;Nabi saww bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda penghuni surga.” 2 &lt;br /&gt;Nabi saww bersabda,&lt;br /&gt; "Sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah buah hatiku dan dunia.3&lt;br /&gt;Nabi saww bersabda:&lt;br /&gt;”Keduanya adalah putraku dan putra putriku. Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya dan cintai yang mencintai keduanya”4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Keempat: Imam Ali Zainal Abidin a s&lt;/strong&gt; 5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Husain a s.&lt;br /&gt;Ibu: Syah Zinan putri Yazdarjud—raja Persia—dan ada yang mengatakan namanya: Syahr Banu.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal lima bulan Syakban tahun 38 H.&lt;br /&gt;Wafat: Di Madinah pada tanggal 25 bulan Muharram tahun 95 H dalam uisa 57 tahun; dua tahun di masa hidup kakek beliau Imam Ali a s sepuluh tahun bersama paman beliau Imam Hasan dan sebelas tahun di masa ayah beliau Imam Husain a s. Beliau dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ bersama Imam Hasan a s.&lt;br /&gt;Beliau meninggalkan sebelas orang anak laki-laki dan empat perempuan, Ibnu Hajar mengatakan: "Dan yang mewarisi ketekunan ibadah, ilmu dan kezuhudan adalah Abu Ja`far Muhammad al-Baqir.6&lt;br /&gt;Sekilas Tentang Keutamaan Imam Ali Zainal Abidin a s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata “Ia adalah pelanjut pewaris ayahnya dalam ilmu, kezuhudan, dan ibadah, beliau apabila berwudhu pucat wajah beliau dan ketika ditanya beliau menjawab: Tidakkah kalian tahu di hadapan siapakah aku hendak berdiri?”&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sejarah bahwa ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik melaksanakan ibadah haji, ia berusaha untuk mencium hajar aswad namun kerumunan para jemaah haji menghalanginya dan mereka pun tidak menghiraukan kehadiran sang Khalifah, lalu ia beristirahat di puncak gunung sambil menanti berkurangnya jumlah para jemaah haji di sekitar Ka’bah. Namun tiba-tiba ia dikejutkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh kehadiran seseorang yang penuh wibawa berjalan menuju hajar aswad dan kemudian orang-orang pun minggir dan memberinya jalan sehingga ia dengan mudah mencium hajar aswad. Hisyam merasa malu dan marah ketika ditanya oleh pcndukungnya: "Siapakah dia? Ia menjawab—seakan tidak mengenalnya: Aku tidak mengenalnya. Kemudian Farazdaq—seorang penyair besar di zamannyamempermalukan Hisyam dengan menjawab “Tapi saya mengenalnya,” lalu ia menggubah bait-bait syairnya yang masyhur mengungkap keutamaan putra Imam Husain a s tersebut dan keluarga besar ahlulbait a s dan ia menegaskan bahwa kepura-puraan Anda tidak mengenalnya tidak sedikitpun mengurangi keagungan dan kemuliaannya, sebab ia telah dikenal oleh semua kalangan baik kalangan Arab maupun non Arab.&lt;br /&gt;Dan ketika bait-bait itu didengar oleh Hisyam ia marah dan memenjarakan Farazdaq di penjara Usfaan. 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian Para Ulama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kesaksian para Ulama tentang keagungan kepribadian Imam Ali Zainal Abidin adalah banyak sekali, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya.&lt;br /&gt;Ibnu Sa'ad berkata tentang beliau as: Ia tsiqah terpercaya, banyak hadis (riwayat darinya), tinggi agung dan wara’. Ibnu Uyainah menukil Zuhri berkata “Aku tidak pernah menyaksikan seorang dari suku Quraisy yang lebih mulia dari Ali bin al-Husain. 8&lt;br /&gt;Ibnu Uyainah juga menukil dari Zuhri bahwa ia berkata “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih faqih darinya.”&lt;br /&gt;Imam Malik juga berkata “Tiada di kalangan ahlulbait Rasulullah saww seseorang seperti Ali bin al-Husain. 9&lt;br /&gt;Sa`id bin al-Musayyib berkata “Aku tidak melihat seseorang yang lebih wara’ darinya.10&lt;br /&gt;Nafi' bin Jubair berkata kepada beliau: “Sesungguhnya Anda adalah penghulu umat manusia dan yang paling afdhal”.11&lt;br /&gt;Dan telah lewat pernyataan Ibnu Hajar bahwa Imam Zainal Abidin a s adalah yang mewarisi ayahnya dalam ilmu, kezuhudan dan ibadah.&lt;br /&gt;Dan ketika berita wafat beliau sampai kepada Umar bin Abdul Aziz ia berkata: “Pergilah lentera agama, keindahan Islam dan penghias para penyembah.”12&lt;br /&gt;Abu Zuharah—salah seorang ulama besar al-Azhar—berkata: “Ia, Zainul Abidin adalah seorang faqih sebagaimana beliau juga seorang muhadits, beliau memiliki kemiripan dengan kakek beliau Ali bin Abi Thalib dalam kemampuan penguasaan masalah fiqih dari perbagai sisinya dan pengembangan masalah-masalahnya.”13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Imam Kelima: Imam Muhammad al-Baqir as &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Ali Zainal Abidin a s.&lt;br /&gt;Ibu: Fatimah putri Imam Hasan bin Ali a s.&lt;br /&gt;Tempat dan tanggal lahir: Madinah pada awal bulan Rajab tahun 57 H. tiga tahun sebelum syahadah kakeknya; Imam Husain as.&lt;br /&gt;Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Zulqa’dah tahun 114 H setelah diracun—sebagaimana ayah beliau—dalam usia lima puluh tujuh tahun dan meninggalkan enam orang anak, yang paling afdhal dan sempurna adalah Ja`far ash-Shadiq oleh karenanya beliau adalah khalifah dan washi (pengemban wasiat) ayahnya, demikian dikatakan Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;Beliau a s dikebumikan dipemakaman al-Baqi’ dalam satu gubbah bersama Imam Hasan dan Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Muhammad al-Baqir a s&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Ulama meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah al-Anshari r a, seperti dikisahkan oleh Zubair bin Muhammad bin Muslim alMakki, ia berkata: “Kami berada di sisi Jabir bin Abdillah r a lalu Ali bin Husain datang bersama Muhammad—putra beliau, ketika itu ia masih kanak-kanak, kemudian Ali berkata kepada putra beliau; ‘Ciumlah kepala pamanmu!’ lalu Muhammad mendekat kepada Jabir dan mencium kepalanya. Kemudian Jabir berkata: ‘Siapakah dia? (dan ketika itu ia sudah tidak melihat/buta). Lalu Ali berkata: ‘Dia adalah putraku.’ Maka Jabir memeluknya dan berkata: ‘Muhammad! Muhammad Rasulullah saww mengucapkan salam atasmu.’”&lt;br /&gt;Maka para hadirin bertanya: “Bagaimana hal itu terjadi wahai Abu Abdillah?” Ia menjawab: “Saya berada di sisi Rasulullah saww dan Husain berada di pangkuannya, ia bergurau dengannya, lalu beliau bersabda: "Hai Jabir! putraku ini akan memiliki anak yang jika pada hari kiamat penyeru akan menyerukan: ‘Hendaknya penghulu para penghamba (Sayyidu Sajidiin) maka bangkitlah Ali bin Husain, dan Ali bin Husain akan dikeruniai seorang putra bernama Muhammad. Hai Jabir! jika kamu menemuinya maka sampaikan salam dariku dan jika kamu menemui masanya maka ketahuilah bahwa hidupmu setelahnya hanya sembentar.’”&lt;br /&gt;Zubair bin Muhammad berkata: “Maka Jabir r a tidak hidup setelahnya kecuali tiga hari.14 &lt;br /&gt;Imam Muhammdan bin Ali a s digelari dengan “al-Baqir” karena beliau telah mampu mengeluarkanrahasia-rahasia ilmu dan hukum-hukum dari tempat persembunyiannya. Kata al-Baqir berasal dari kata kata kerja Baqara yang artinya membelah, baqara al-ardha artinya: (membelah bumi dan mengeluarkan isi dan kandungannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian Para Ulama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama begitu mengagungkan Imam al-Baqir a s, Atha' alMakki—salah seorang tokoh tabi’in—berkata: “Aku tidak melihat para ulama begitu kecil di hadapan seseorang sebagaimana mereka di hadapan Abu Ja’far Muhammad putra Ali bin al-Husain, aku melihat al-Hakam bin Uyainah—dengan keagungannya di kalangan masyarakat—ia di hadapannya (al-Baqir ) seakan ia seorang bocah di hadapan gurunya! 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian serupa juga disampaikan para Ulama seperti Muhammad bin al-Munkadir, Abu Nu’aim, Ibnu Sa'ad, an-Nawawi, Ibnu Ammad al-Hanbali, Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy, Ibnu Khallikan dan Ibnu Shabban asy-Syafi'i. 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Munnawi berkata: “Dan beliau sangat mendalam dalam maqam orang-orang al-Arifin yang lisan para pensifatnya tidak mampu menguraikannya, beliau memiliki kalimat (untaian pernyataan) yang banyak tentang suluk dan pengetahuan (ma'arif) para pensifatnya tidak akan mampu menceritakannya.”17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Hilyah al-Awliya' disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Ibnu Umar tentang sebuah masalah dan ia tidak mengetahui jawabannya, ia berkata kepada penanya tersebut: “Pergilah kepada anak kecil itu sambil menunjuk kepada al-Baqir—dan tanyakan kepadanya lalu beritahukan kepadaku jawabannya.” Kemudian ia pergi dan bertanya dan Imam alBaqir menjawab lalu penanya itu memberitahukan jawabannya kepada Ibnu Umar, maka Ia berkata: “Sesungguhnya mereka adalah ahlulbait yang mendapatkan kepahaman (dari Allah).”18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-4015875920919261558?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/4015875920919261558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=4015875920919261558' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4015875920919261558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4015875920919261558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/09/ulama-sunni-bicara-tentang-12-imam.html' title='Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 1'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-6583135047209771562</id><published>2007-08-31T02:17:00.000-07:00</published><updated>2007-08-31T02:24:30.738-07:00</updated><title type='text'>Tragedi Karbala dan Tradisi ”Bubur Beureum”</title><content type='html'>PARA lelaki itu terus memukuli tubuh dan wajahnya dengan pisau, rantai, dan benda keras lainnya. Darah segar mengucur membahasi ikat kepala dan pakaian mereka. Tangisan tidak terbendung. Tapi bukan lantaran rasa sakit tak terkirakan. Melainkan air mata kesedihan yang mendalam karena kehilangan dan penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraksi tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari terbunuhnya Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, Irak. Pawai yang berdarah-darah itu biasanya berlangsung di India, Pakistan, Iran atau Irak pada setiap tanggal 10 Muharam atau lebih dikenal dengan nama Hari Asyura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pemerintah setempat secara resmi melarang praktik penyiksaan diri seperti itu, pada kenyataannya sulit dihilangkan. Refleksi kecintaan pada Imam Husein dengan cara tersebut terus saja berlangsung, dan kita bisa melihatnya setiap tahun di layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada dua peristiwa besar pada bulan Muharam ini yang sering diperingati kaum Muslimin. Pertama, peringatan tahun baru Hijriah yang jatuh pada tanggal 1 Muharam dan kedua, peringatan tragedi terbunuhnya Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw., dipadang Karbala pada tanggal 10 Muharam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keduanya, peringatan tragedi Karbala memiliki dimensi tersendiri meskipun lebih sedikit kaum Muslimin yang memperingatinya. Begitu membekasnya peristiwa itu, sehingga menumbuhkan sebuah tradisi di tengah masyarakat sebagai bentuk penghormatan atas syahidnya Imam Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa di Karbala adalah fragmen yang mengabarkan pada kita salah satu sisi hitam dalam sejarah Islam. Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, penerus ajaran Nabi dan lambang kesucian, berhadapan dengan Yazid bin Muawiyah, penguasa tiran dan lambang kezaliman. Sudah digariskan hukum alam, kesucian dan kezaliman tidak bisa berjalan bergandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perang yang tidak seimbang terjadi. Imam Husein dengan sekira 70 pengikutnya berhadapan dengan sekira 30.000 tentara Yazid yang dikomandani Ubadilillah bin Ziyad. Dalam rasa haus yang sangat, karena Yazid menutup akses rombongan Husein ke Sungai Eufrat, anggota kafilah kecil ini satu per satu gugur dengan mengenaskan. Termasuk anak-anak kecil dan para wanita yang tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, Imam Husein syahid dan kepalanya dipenggal lalu diarak ke istana Yazid bin Muawiyah. Banyak penduduk Irak meratapinya, karena mereka tahu persis siapa lelaki yang disebut Rasulullah sebagai pemuka para penghuni surga itu. Peristiwa terbunuhnya Imam Husein terjadi pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah. Tanggal tersebut dikenal dengan nama Hari Asyura. Lidah Jawa melafalkannya menjadi Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin penganut mazhab Syi'ah di beberapa negara, menyelenggarakan peringatan Asyura secara besar-besaran. Menjadi ritual wajib tahunan yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka mengadakan semacam teater massal di tempat terbuka. Lalu kisah penderitaan Husein dibacakan, semua orang menangis. Kemudian mereka berarak, sambil meneriakkan kalimat, "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala."&lt;br /&gt;Dalam kondisi seburuk apa pun, peringatan Asyura tetap diupayakan untuk dilakukan. Misalnya, warga Irak yang sudah beberapa tahun belakangan ini berada di bawah penjajahan Amerika Serikat, tidak pernah meninggalkan tradisi ini. Mereka berkumpul di Karbala, berziarah ke makam Imam Husein lalu dilanjutkan dengan pawai menelurusi jalan-jalan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Indonesia, peringatan Asyura memang tidak seheboh di Irak atau Iran. Tapi bukan tidak ada sama sekali. Sejak dulu peringatan ini dilangsungkan, dan pada umumnya dengan suasana yang sederhana. Namun tidak dalam kesadaran sebagai seorang penganut Syi'ah, melainkan semata-mata kecintaan mereka pada Imam Husein. Dan tentu saja karena warisan tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari mereka tidak tahu persis seperti apa tragedi itu terjadi dan apa motif di belakangnya. Hanya kesadaran tradisilah yang memandu mereka untuk tetap menyelenggarakan peringatan Asyura. Pada tahun 70-an, di beberapa tempat di Jawa Barat kegiatan ini masih berlangsung setiap tahun. Terutama di kampung-kampung.&lt;br /&gt;Di sebuah kampung di Tasikmalaya, pada pagi hari setiap tanggal 10 Muharam hampir setiap rumah memasak bubur merah dan putih yang disimpan terpisah. Bubur itu kemudian dikenal dengan bubur suro. Selanjutnya makanan itu dibawa ke masjid bersama dengan hahampangan (makanan ringan). Di masjid telah berkumpul warga yang duduk bersila membentuk lingkaran. Orang yang dituakan atau imam masjid memimpin acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita separuh baya membacakan salawat dilanjutkan dengan pembacaan pujian pada Rasulullah dari Kitab al-Barzanji. Dalam dialek Sunda bunyinya berubah menjadi "berjanji". Kitab ini dikarang oleh Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husein bin Abdul Karim yang lahir di Madinah tahun 1690 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai "Barzanji" dibacakan, kemudian dilantunkan kisah hidup Imam Husein, perjuangannya menegakkan kadilan melawan kezaliman, berperang melawan penguasa Yazid Muawiyah, hingga syahidnya di Karbala. Tidak ada tangisan, tidak ada keharuan. Acara berlangsung datar-datar saja. Setelah pembacaan kisah selesai, jemaah pun menyantap hidangan. Anak-anak berebut mengambil mangkuk untuk bubur suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di sebuah kampung di Limbangan, Garut, warga berkumpul di masjid sore hari menjelang magrib. Di tempat itu makanan ringan dan bubur suro sudah tersedia. Setelah wejangan disampaikan dan pembacaan "Barzanji" serta kisah Imam Husein dilantunkan, warga salat magrib berjemaah. Setelah itu warga pun menyantap hidangan.&lt;br /&gt;"Di tengah lingkaran warga, tersimpan pula air putih dalam beberapa kendi. Setelah acara selesai, warga mengambilnya dengan cangkir masing-masing ke rumah mereka. Ada kepercayaan, air itu membawa berkah," kata Rohendi (34), yang sempat bermukim di Limbangan pada tahun 80-an saat duduk di bangku SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah orang tua terkadang menjadikan Hari Asyura untuk menguatkan nama anaknya yang baru lahir. Biasanya orang tua membawa si bayi dibawa ke masjid, kemudian memperkenalkan namanya kepada hadirin. Dengan kata lain namanya dipatenkan. Karena itu, di masyarakat Sunda sering terdengar ungkapan, "Ngaran budak teh geus beunang ngabubur beureum ngabubur bodas." (Nama anak ini sudah dikuatkan dengan bubur merah dan bubur putih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi Jawa, biasanya peringatan Asyura dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat magis. Pada hari itu sering dilakukan pencucian benda-benda yang dianggap keramat, selain dilakukan pada 1 Muharam. Terdapat pula ritual khusus untuk menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat di luar Pulau Jawa, perayaan Hari Asyura jauh lebih meriah dan menjadi agenda pariwisata tahunan yang menyedot banyak pengunjung. Misalnya di Bengkulu ada upacara tradisional "Tabot" atau "Tabut". Di wilayah ini perayaan Asyura sudah diperingati lebih dari dua abad yang lalu. Tabut berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "kotak kayu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut berbagai keterangan, tradisi Tabut dibawa ke Bengkulu oleh orang-orang Madras, India. Mereka adalah para pekerja yang membangun benteng Marlborought di Bengkulu, dan mengamalkan mazhab Syi'ah. Tradisi Tabut menggambarkan para pengikut Imam Husein bekerja keras mengumpulkan bagian-bagian jenazah pemimpin mereka, dan memakamkannya di Karbala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA awal tahun 1990-an, mulai banyak digelar peringatan Hari Asyura secara "lebih ideologis" di Indonesia. Artinya, penyelenggaraan tersebut dilakukan oleh komunitas para pencinta ahli bait (keluarga) Nabi Muhammad saw. yang suci. Mereka secara sadar memang mengamalkan mazhab Syi'ah (atau kesyi'ah-syi'ahan) dan meyakini konsep imamahnya. Imam Husein sendiri adalah imam ke-3 dalam mazhab tersebut.&lt;br /&gt;Ketika reformasi bergulir, perayaan dilakukan lebih terbuka lagi. Di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Hari Asyura digelar di tempat-tempat pertemuan yang besar atau di hotel berbintang. Para pesertanya juga datang dari berbagai tempat, dengan mengenakan pakaian hitam sebagai tanda berkabung. Di berbagai tempat strategis terbentang kain spanduk besar bertuliskan "Setiap Hari Adalah Asyura, Setiap Tempat Adalah Karbala".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itulah dibacakan kisah hidup dan tragedi yang menimpa Husein. Begitu kisah dibacakan, hadirin pun hening. Begitu sampai pada penggalan kisah yang paling memilukan, hadirin terisak dan akhirnya larut dalam tangisan. Semakin memilukan kisah itu, akan semakin keras tangisan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, biasanya dilantunkan syair-syair berisi ratapan untuk Husein yang lazim disebut martsiyah atau elegi. Peristiwa Karbala telah memberi ilham bagi sekian banyak orang di berbagai belahan dunia untuk menggubah syair. Tidak terhitung kiranya jumlah buku yang ditulis orang untuk mengabadikan tragedi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari persoalan mazhab yang melatarbelakanginya, peringatan Hari Asyura telah memperkaya tradisi di tengah masyarakat Indonesia. Tanpa harus menyimpan kecurigaan apa pun terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. (Enton Supriyatna Sind)***&lt;br /&gt;http://www.pikiran-rakyat.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-6583135047209771562?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/6583135047209771562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=6583135047209771562' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6583135047209771562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6583135047209771562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/08/tragedi-karbala-dan-tradisi-bubur.html' title='Tragedi Karbala dan Tradisi ”Bubur Beureum”'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-8071345310590297391</id><published>2007-07-06T00:33:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T06:56:17.289-08:00</updated><title type='text'>Iran Corner di Kota Serang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ro33zemrWvI/AAAAAAAAABM/T2gK9GdpLNs/s1600-h/Iran+Corner.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ro33zemrWvI/AAAAAAAAABM/T2gK9GdpLNs/s320/Iran+Corner.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083992018131835634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Gambar inzet : - Duta Besar Republik Islam Iran, Behrooz Kamalvandi menunjukkan salah satu buku yang tersedia di Perpustakaan "Iran Corner" usai melakukan peresmian perpustakaan tersebut di kampus IAIN SMH Banten, kemarin.*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pencerahan itu sampai juga ke kota Serang, ibukota Provinsi Banten. Itulah kata yang terlontar ketika saya membaca berita dari Harian Fajar Banten pada tanggal 28 Juni 2007 yang menurunkan liputan peresmian "Iran Corner", yaitu perpustakaan yang berisi banyak literatur keagamaan yang ditulis para ulama Iran dan Syi'ah. Bagi saya peristiwa ini menunjukkan dua hal. Pertama, sikap toleransi dan ukhuwah yang begitu tinggi dari umat Islam Banten, Serang khususnya, yang telah secara terbuka menunjukkan apresiasinya atas ilmu dan hikmah walaupun datang dari saudaranya yang berbeda madzhab. Kedua, keberhasilan yang sangat gemilang dari syi'ar Ahlul Bayt yang dilakukan oleh para ulama Iran sehingga ajaran yang mencerahkan ini dapat diterima oleh umat Islam terutama kaun terdidik. Melihat hal ini, saya semakin optimis akan masa depan umat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Iran Corner" Bisa Lahirkan Ulama Kelas Dunia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERANG, (FB).-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan "Iran Corner" yang ada di Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN SMH Banten akan diberdayakan supaya melahirkan ilmuwan atau mujtcthid berkelas dunia yang tidak picik dalam mempelajari keilmuan. "Kami ingin dari sini lahir ulama marja taglid dalam konsep wilayah faqih," kata Dekan Fakultas Ushuludin dan Dakwah IAIN SMH Ban-ten, Prof. Dr. Fauzul Iman, MA, pada acara peresmian perpustakaan "Iran Corner", Rabu (27/6), di kampus setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pada saat persemian, Dubes Iran Behrooz Kamalvandi, Direktur Iran Culture Center (ICC) Mochsin Hakamollah, Rektor IAIN SMH Banten, Prof. Dr. HM. A. Tihami, Bupati Serang H. A. Taufik Nuriman, dan Asda III Pemprov Banten, Hidayat Djohari.&lt;br /&gt;Fauzul mengatakan, untuk mewujudkan hal ini pihaknya terobsesi untuk mendirikan ma'had mahasiswa yang di: tempatkan dalam asrama (boarding school). "Kami minta dukungannya kepada pemerintah Iran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, kerja sama Fakultas Ushuludin dan Dakwah dengan ICC dilandasi oleh visi dan misi yang sama yakni konsentrasi pengembangan di bidang idealisme keilmuan, pemikiran keagamaan, dan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik, katanya, tujuannya adalah penyebaran, pengembangan dan peningkatan secara bersama-sama dalam bidang pemikiran filsafat, tafsir, sejarah, dan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita semua sudah mengenal bagaimana keunikan dan kemandirian tradisi para ulama Iran yang tidak picik dan sempit dalam membidangi dan memperdalam ilmu agama, fisika, filsafat, dan matematika. Mereka terkenal produktif dan mandiri dengan&lt;br /&gt;karya ilmiahnya, namun mereka tidak anti-ilmu dan mau mempelajari ilmu teknologi dan filsafat Barat, tetapi mereka tegas menolak hegemoni Barat yang acapkali menghancurkan tatanan sosial dan sendi-sendi moral umat ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, pemikir Iran Thabathobai merupakan ahli tafsir tetapi tidak anti terhadap filsafat, teologi, matematika, dan fisika. Dari pemikiran bell-au, tuturnya, lahirlah pemikir kaliber internasional Murtadlo Muthahari, Ali Syariati yang sangat dalam keilmuannya, terbuka, tidak fanatik tetapi komprehensif dan universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat, dirinya akan mengikuti kunjungan ilmiah ke Iran dan salah seorang dosen Ahmad Fadil akan mengikuti kursus filsafat Bahasa Arab selama enam bulan. Dalam jangka panjang para dosen dari IAIN akan dikirim untuk melanjutkan S-2 dan S-3 di Universitas Teheran. "Kami ingin memberdayakan perpustakaan sebagai pusat unggulan informasi kelilmuan dan pusat pemasaran dan perkaderan produktif," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Serang H A Taufik Nuriman dalam sambutannya, menyambut baik terhadap kerja sama tersebut. Ia berharap agar perpustakaan itu benar-benar dimanfaatkan untuk pengembangan keilmuan secara luas. (H-32)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-8071345310590297391?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/8071345310590297391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=8071345310590297391' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8071345310590297391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8071345310590297391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/07/iran-corner-di-kota.html' title='Iran Corner di Kota Serang'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ro33zemrWvI/AAAAAAAAABM/T2gK9GdpLNs/s72-c/Iran+Corner.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-4017055758976055583</id><published>2007-07-03T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T06:56:17.557-08:00</updated><title type='text'>MAULID FATIMAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RooDhOmrWuI/AAAAAAAAABE/MSV19mHzYRw/s1600-h/masumin.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RooDhOmrWuI/AAAAAAAAABE/MSV19mHzYRw/s320/masumin.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082878998831913698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak benar anggapan bahwa memperingati hari kelahiran Sayyidah Fatimah a.s hanya dilakukan oleh kaum Syi’ah saja. Sebagai sama-sama umat Rasulullah saaw yang sama-sama mencintai putri beliau, kaum Sunni pun tidak ketinggalan merayakan hari kelahiran wanita yang dijuluki Sayyidatun Nisaa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Serang Banten adalah satu dari sekian contoh umat Islam yang merayakan maulid putri Rasul, Fatimah Azzahra a.s. Sekaitan deangan hal tersebut Hj. Iyos Rosgiyah yang saat ini menjabat Lurah Serdang kecamatan Kramat Watu Serang mengatakan: “Kaum wanita diharapkan tidak melupakan kepribadian putri Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang patut diteladani baik dalam menjalani bahtera kehidupan rumah tangga maupun di bidang lainnya”. Ujarnya kepada harian Fajar Banten di sela-sela acara peringatan Maulid Fatimah di desa yang ia pimpin. Di tengah-tengah kehidupan yang semakin sulit dan rumit serta penuh dengan berbagai fitnah dan cobaan ini sudah sepatutnya kaum wanita menjadikan sosok wanita ideal untuk dijadikan figur dan suri teladan, dan sosok wanita yang paripurna untuk dijadikan figur tersebut tiada lain adalah Fatimah putri Rasulullah, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hj. Iyos yang merupakan istri ketua DPD Golkar Serang ini mencontohkan, salah satu nilai keteladanan yang patut dicontoh dari kehidupan Sayyidah Fatimah a.s adalah ketaatan kepada suami dan orang tua, tanpa mengabaikan peran sertanya dalam mebina sosial kemasyarakatan. Fatimah juga dikenal sebagai wanita yang zuhud dan taat beribadah di satu sisi, tapi juga pekerja yang ulet dan pandai bermasyarakat di sisi lainnya. “Memang banyak tokoh wanita yang dapat diteladani, tapi dari sekian banyak tokoh tersebut, sosok fatimah-lah yang menempati urutan pertama”, ujar Lurah wanita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pada acara Maulid nabi, acara Maulid Fatimah juga secara rutin dirayakan oleh kaum Muslimin di daerah Serang –khususnya warga Nahdliyin- meski tidak semeriah Maulid Nabi. Acara ini biasanya diisi oleh pengajian yang rata-rata dihadiri tidak kurang oleh 200-an kaum ibu dari berbagai kelompok majlis ta’lim.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Fatimatuz zahro, Ya sayyidatana wa maulatana,&lt;br /&gt;Inna tawajjahna wastasyfa’na wa tawassalna biki ilallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-4017055758976055583?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/4017055758976055583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=4017055758976055583' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4017055758976055583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4017055758976055583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/07/maulid-fatimah.html' title='MAULID FATIMAH'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RooDhOmrWuI/AAAAAAAAABE/MSV19mHzYRw/s72-c/masumin.gif' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-2890350819444613351</id><published>2007-06-06T02:34:00.000-07:00</published><updated>2007-06-06T02:36:18.385-07:00</updated><title type='text'>Islamisasi di Betawi</title><content type='html'>Dalam diskusi 'kecil' di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) awal pekan ini, banyak dipertanyakan sejak kapan penduduk Betawi (Jakarta) memeluk agama Islam. Apakah proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi sejak Falatihan, panglima Kerajaan Islam Demak menaklukkan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Pendapat ini dibantah keras budayawan Betawi, Drs Ridwan Saidi. Menurut dia, proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lebih dari 100 tahun sebelum kedatangan balatentara Falatehan yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk Jakarta (sekitar Pasar Ikan). Tepatnya pada tahun 1412, yang digerakkan oleh Syekh Kuro, seorang ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang. Sementara, Siswadi, dalam tulisan mengenai 'Perkembangan Kota Jakarta,' menulis : 'Dalam abad ke-14 dan 15 kraton-kraton di Jawa sudah menerima Islam karena alasan politik.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kitab 'Sanghyang Saksakhanda', sejak pesisir utara Pulau Jawa -- mulai dari Cirebon - Krawang dan Bekasi -- terkena pengaruh Islam yang disebarkan orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren Syekh Kuro mempunyai santri --salah satunya-- Nyai Subanglarang, salah seorang istri Prabu Siliwangi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi tidak hanya terjadi pada kalangan rakyat biasa, juga pada tingkat elite. Menurut legenda, Sang Prabu Siliwangi menolak masuk Islam, ketika diimbau oleh putranya Kian Santang atau Pangeran Cakrabuana. Proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya di abad ke-14 sampai ke-16 tidak dapat dilakukan tanpa menyebut nama-nama besar seperti Kian Santang. Ia tanpa ragu-ragu mengikuti jejak ibunya, memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi proses Islamisasi, Prabu Siliwangi lalu ngahyang atau meng-hyang. Menurut Ridwan Saidi, dari sinilah muncul kata : 'parahyangan'. Tapi, menurutnya, hingga sekarang masih menjadi pertanyaan besar: Apakah prabu menolak ajakan putranya masuk Islam, atau menerima ajakan itu secara diam-diam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian Santang, cukup berjasa dalam dakwahnya, termasuk di Jakarta dan sekitarnya. Karena itu, sekalipun dia berasal dari Sunda, tapi mendapat tempat di hati orang Betawi. Penguasa Pajajaran, ketika itu menyebut mereka yang masuk Islam sebagai kaum langgara. Berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya orang-orang yang telah berubah atau beralih kepercayaan. Dan tempat shalat mereka disebut langgar. Karena itu, orang Betawi masih menggunakan istilah langgar sebagai padanan dari mushola. Kaum langgara inilah yang disebut samanan. Seperti kita ketahui, di Jakarta Barat maupun Bekasi ada kampung bernama Semanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang murid Kian Santang, yang juga menjadi penyebar Islam yang handal adalah Pangeran Papak, seorang adipati dari Tanjung Jaya yang kini lokasinya di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Ratunya adalah Kiranawati, yang dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Menurut cerita rakyat, bila Ratu Kiranawati bepergian dengan kereta kuda, ia dilepas dengan mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi itu, Ridwan menyebutkan, dalam proses Islamisasi, terdapat tujuh wali Betawi. Antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur. Kemudian Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Wali lainnya, Ki Aling, menurut Ridwan, tidak diketahui makamnya. Ketujuh 'wali Betawi' ini, menurutnya, hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa generasi setelah tujuh wali itu, terdapat Habib Husein Alaydrus yang dimakamkam di Luar Batang, tempat ia membangun masjid pada awal abad ke-18. Kong Jamirun dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara. Datuk Biru, makamnya di Rawabangke, Jatinegara. Serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta Utara. Di Mekkah, terdapat Sheikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Syekh Junaid, yang kumpi dari Habib Usman bin Yahya, adalah guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani, yang mengarang ratusan kitab, tersebar di berbagai negara Islam. Habib Usman, sendiri adalah salah seorang guru dari Habib Ali Alhabsji, pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti daerah lainnya di Nusantara, Islamisasi di Betawi berlangsung penetration pacifique (penyebaran secara damai). ()&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Oleh Alwi Shahab, dari Republika 13 Januari 2002)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-2890350819444613351?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/2890350819444613351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=2890350819444613351' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/2890350819444613351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/2890350819444613351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/06/islamisasi-di-betawi.html' title='Islamisasi di Betawi'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-4650910172648983376</id><published>2007-06-06T02:27:00.000-07:00</published><updated>2007-06-06T02:30:32.167-07:00</updated><title type='text'>WAYANG, HINDU ATANAPI  ISLAM ?</title><content type='html'>WAYANG, HINDU ATANAPI  ISLAM ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun urang pirajeunan nanya ka jalma nu taram-taram kana pawayangan, “Ti mana asalna wayang ?”, Manehna baris ngajawab kalawan haget pisan : “Ti India.” Pokna. Tapi lamun eta pananya the disusul tepus ku pananya nu leuwih jero, upamana : “Naon buktina asal-muasal wayang ti India ?”, nu ditanya umumna moal ngajawab kalawan jawaban nu nyugemakeun, malah sok jadi ngabuntut bangkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamun ditalungtik memang patula-patali wayang jeung India kacida layeutna. Ngaran sababaraha tempat atanapi nagara dina pawayangan sabagian gede –lamun teu disebut kabehanana-  contona ngaran nagara saperti Astina, Amarta, Cempalareja jeung Mandura. Oge ngaran walungan jeung gunung kayaning Gangga,  Yamuna, Maliawan, jeung lain ti eta. Pon kitu deui ngaran tokoh atawa inohong dina pawayangan lamun dipaluruh asal-muasalna teh nya ti India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah, dumasar kana ieu hal, loba jalma nu nyindekkeun yen wayang teh asal-muasalna ti India. Ari India teh apan kakoncara nagara nu kalolobaan rahayatna ngagem agama Hindu, malah jauh ti beh ditu mula samemeh ieu agama sumebar ka sakuliah dunya. Ku kitu tea mah kaharti apanan nya di tatar India pisan ieu agama tumuwuhna. Ku sabab eta, loba jalma nu ahirna nyieun kacindekan nu kadua minangka jawaban tina pananya nu jadi judul ieu tulisan : “Naha wayang teh budaya Hindu atanapi Islam ?”, jawabanana :”Hindu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Numutkeun para ahli budaya nu sacara husus nalungtik ngeunaan wayang netelakeun yen wayang sumebar ka nagara-nagara di luar India ampir sajaman reujeung sumebarna agama Hindu. Tah, dina konteks awal sumebarna agama Hindu, kacindekan yen wayang mangrupa budaya nu ifentik jeung India katut kahinduanana bisa jadi bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dina konteks kaayeunakeun mah eta kacindekan teh teu pati cocog, malah bisa jadi salah. Hal ieu kusabab wayang nu geus jadi kabudayaan geus diropea sakitu rupa ku masarakat lokal nu ngahirupkeun ieu budaya ti jaman-ka jaman. Husus pikeun masarakat tatar Jawa  (Sunda jeung Jawa), wayang nu geus diropea 180 darajat teh geus teu mangrupa budaya India deui, sumawona (budaya) Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujutanana mah ti beh ditu mula nalika para wali nu nyebarkeun agama Islam ka tatar Jawa. Para wali ningali nilai-nilai kamanusaan nu kacida hadena dina budaya wayang hususna dina carita-carita heroik nu jadi lulugu carita-carita pawayangan kayaning Ramayana, Mahabrata jeung Bratayuda, oge kawijaksanaan jeung filsafat hirup nu luhung dina carita Bagawad Gita sarta luyu jeung kaagungan ajaran Islam. Sok sanajan kitu, hal-hal nu mencog tina ajaran Islam diluyukeun jeung ajaran Islam, balikta dipiceun pisan. Carita-carita Ramayana jeung Mahabrata katut sempalanana nu asalna ngan ukur budaya sastra dina kitab-kitab dirobah jadi budaya pintonan jeung pagelaran nu dipasieup ku seni budaya nu “asli Jawa”. Ku sabab geus mangrupa seni pintonan, para wali laluasa nyisipkeun ajaran-ajaran Islam boh dina kakawen, boh dina rumpaka-rumpaka dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu nulis ngabogaan pamadegan yen naon nu dilakukeun ku para wali dina ngaropea budaya wayang jauh leuwih ekstrim jeung dramatis tibatan naon anu disebutkeun di luhur, nyaeta dina ngarobah platform akidah tina Hindu ka Islam. Hal-hal nu ditetelakeun di handap ieu mangrupa sababaraha conto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Desakralisasi para dewa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina Ramayana jeung Mahabrata asli, para dewa teh lain manusa luyu jeung ajaran dina agama Hindu. Para dewa mibanda sifat ilahiah. Di antara sakitu rewu para dewa nu cenah ngageugeuh puncak gunung Mahameru, aya tilu nu nyongcolang nu mibanda ajeun pangluhurna, nyaeta Syiwa, Wisnu jeung Brahma nu kasohor ku sesebutan Tri Murti. Tapi dina carita wayang nu geus diropea tea mah jauh taneuh ka langit. Disebutkeun yen Syiwa atawa Batara Guru teh mangrupakeun dulur bungsu ti Semar jeung Togog, dua inohong punakawan nu minangka simbol rahayat somahan. Dina carita-carita wayang digambarkeun kumaha ajrihna Batara Guru ka ieu dua lanceukna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desakralisasi para dewa oge kagambar dina carita-carita sempalan nu nyaritakeun bancang pakewuh nu kaalaman di Jongring Salaka atawa Sawarga Maniloka (sebutan pikeun tempat matuhna para dewa). Biasana lamun para dewa geus teu mampuh ngungkulan ieu bancang pakewuh, sok minang saraya ka tokoh-tokoh pawayangan nu darajatna manusa biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Bibit buitna ti Kangjeng Nabi Adam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lihur geus ditetelakeun yen dina wayang versi para wali Batara Guru teh adina Semar jeung Togog. Ieu tilu inohong teh mangrupa anak ti Sanghyang Tunggal. Tapi kahade kasaru, kekecapan “Sanghyang Tunggal” teu pisan-pisan ditujukeun ka Dzat Nu Maha Tunggal, ieu mah sakadar sesebutan wungkul, da Sanghyang Tunggal bapana Semar sadudulut mah estu manusa biasa. Tunggal anak ti Sanghyang Wenang, Wenang anak Nur Cahya, Nur Cahya anak Nur Rasa, Nur Rasa anak Anwas, Anwas anak Anwar. Anwar teh bibit buit Nabi Syits bin Nabi Adam a.s.&lt;br /&gt;Kitu silsilah nu kapaluruh tina kakawen-kakawen padalangan di tatar Jawa. Ieu silsilah tangtu teu bisa kapaluruh bener-henteuna. Ngan sahanteuna hal ieu jadi ciri bukti nu nyata reka upaya para wali dina munjulkeun agama Islam leuwih punjul tibatan agama Hindu. Sok bae palire, dewa nu pangluhurna dina agama Hindu teh mangrupakeun turunan nu ka sakitu ti Nabi Adam nu dina agama Islam mah anjeuna teh ngan ukur mahluk ciptaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Desakralisasi Karesian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resi teh ulama agama Hindu. Bisa jadi sumebarna wayang ka Nusantara nya ku jasana para resi. Minangka tokoh sentral dina tataran masarat Hindu, para resi meunang ajen pangluhurna ku mibanda kasta nu ngaleuwihan para raja, nyaeta kasta Brahmana. Ku sabab kitu, dina carita wayang versi India para resi oge mibanda ajen nu luhur.&lt;br /&gt;Supaya masarakat luntur kapercayaanana ka para resi, nya carita lulugu Mahabrata teh diropea ku ngarobah karakter para resi. Resi Dorna (Druno) jadi “korban pembunuhan karakter”. Ieu tokoh nu dina carita Mahabrata versi India kacida dipunjung-dipuja teh ngan jadi bahan heureuy dina carita Mahabrta versi Jawa sarta digambarkeun minangka tokoh nu licik, sirip-pidik jail kaniaya ka papada manusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Ngahapus Poliandri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina carita Mahabrata nu asli, dicaritakeun yen Drupadi (anak raja Campala) dikawin ku Pandawa. Jadi salian ti pamajikan Yudistira, Drupadi teh pamajikan Bima, Arjuna, Nakula, jeung Sadewa sakaligus. Ti ieu lima anak Pandudewanata, Drupadi ngabogaan anak lalaki nu dibere ngaran Pancawala, nu hartina kurang leuwih anak ti lima salaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ieu teu luyu jeung ajaran Islam nu ngaharamkeun poliandri. Dina Mahabrata versi Jawa, carita Drupadi nu kawin ka lima lalaki sadulur teh dihapus sarta dirobah ugeran caritana. Dina carita wayang di urang mah Drupadi teh pamajikan Prabu Yudistira wungkul. Ku kituna Pancawala oge nya anak Yudistira wungkul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tah kitu ku percekana para wali, carita wayang nu asalna ti India sarta kentel pisan kahinduanana teh geus robah pisan jadi budaya seler Sunda jeung Jawa nu teu pisan-pisan aya heor-heor agama Hindu, estuning kacida Islamina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cag Ah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-4650910172648983376?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/4650910172648983376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=4650910172648983376' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4650910172648983376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4650910172648983376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/06/wayang-hindu-atanapi-islam.html' title='WAYANG, HINDU ATANAPI  ISLAM ?'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-537336171674979504</id><published>2007-05-24T21:00:00.000-07:00</published><updated>2007-05-24T21:07:54.707-07:00</updated><title type='text'>Gelar "Haji" Pantas bagi Mereka</title><content type='html'>Menunaikan ibadah haji wajib hukumnya, bahkan menjadi salah satu rukun Islam bagi madzhab Ahlussunnah dan sebagai kewajiban furu’uddin dalam madzhab Syi’ah. &lt;br /&gt;Berbeda dengan kewajiban-kewajiban syari’at lainnya, menunaikan ibadah haji boleh dikatakan merupakan kewajiban terberat dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melaksanakan ibadah haji ke tanah suci mengahdapi resiko yang tidak kecil,  mulai dari kesengsaraan di perjalanan (khusus jemaah haji Indonesia kesengsaraan itu sudah terasa jauh hari sebelum keberangkatan), hingga ancaman kematian akibat berdesak-desakan dan terinjak-injak oleh sesama jemaah haji saat melakukan ritual haji seperti pernah dialami beberapa tahun yang lalu akibatnya semrawutnya pelayanan haji yang diselenggaran sang “Khadimul Haramain”. Bahkan –lagi-lagi khusus untuk jemaah haji Indonesia- kelaparan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sekarang ketika semua sarana dan prasarana pelaksanaan jemaah haji sudah sangat modern. Bagaimana dengan jaman dulu, ratusan tahun lalu, saat pesawat terbang belum ada, bahkan kendaraan daratpun baru berupa kuda dan onta ? Dapat kita bayangkan betapa beratnya menunaikan ibadah haji pada jaman itu terutama bagi kaum muslimin yang bertempat tinggal jauh dari tanah suci seperti di Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, perjalanan menuju Mekah dari daerah-daerah di Nusantara membutuhkan waktu 2 hingga 6 bulan lamanya karena perjalanan hanya dapat ditempuh dengan kapal layar. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan para jemaah haji ! Itu pun belum tentu aman. Kafilah haji selalu harus waspada akan kemungkinan para bajak laut dan perompak di sepanjang perjalanan, belum lagi ancaman topan, badai dan penyakit. Tidak jarang ada jemaah haji yang urung sampai di tanah suci karena kehabisan bekal atau terkena sakit. Kebanyakan dari mereka tinggal di negara-negara tempat persinggahan kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beratnya menunaikan ibadah haji, mudah dimengerti bila kaum muslimin yang telah berhasil menjalankan rukun Islam kelima ini kemudian mendapatkan kedudukan tersendiri dan begitu terhormat dalam masyarakat sekembalinya ke negeri asalnya. Merekapun kemudian mendapat gelar “Haji”, sebuah gelar yang umum disandang para hujjaj yang tinggal di negara-negara yang jauh dari Baitullah seperti Indonesia dan Malaysia, tapi gelar ini tidak populer di negara-negara Arab yang dekat dengan tanah suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan kaum muslimin Indonesia mulai menunaikan ibadah haji ? Yang jelas kesadaran untuk menunaikan ibadah haji telah tertanam dalam diri setiap muslim Indonesia generasi pertama semenjak para juru da’wah penyebar agama yang datang ke nusantara memperkenalkan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dadan Wildan Anas (PR 17 Januari 2006) menyebutkan  dalam naskah &lt;em&gt;Carita Parahiyangan&lt;/em&gt; dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371). Ia menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat yaitu peperangan antara Pajajaran dengan Majapahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar, ia sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja, 1981:47).&lt;br /&gt;Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun kakaknya pun menolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah kuno selain Carita Parahyangan yang mengisahkan orang-orang jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji adalah &lt;em&gt;Carita Purwaka Caruban Nagari &lt;/em&gt;dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti &lt;em&gt;Wawacan Sunan Gunung Jati&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Wawacan Walangsungsang&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Babad Cirebon&lt;/em&gt;. Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lain yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Syekh Datuk Kahpi, Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah---diduga antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa---untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam. Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah (?), dan berputra dua orang yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji, Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari kesultanan Banten, jemaah haji yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain (Tjandrasasmita, 1995:117). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut naskah Sajarah Banten diceritakan suatu ketika Sultan Banten berniat mengirimkan utusannya kepada Sultan Mekah. Utusan itu dipimpin oleh Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar, yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang sehingga terpaksa sering pindah kapal. Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di nusantara. Dari tanah Jawa terlebih dahulu harus menuju Aceh atau serambi Mekah, pelabuhan terakhir di nusantara yang menuju Mekah. di sana mereka menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman, atau langsung ke Jeddah. Perjalanan ini bisa makan waktu enam bulan atau lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, para musafir berhadapan dengan bermacam-macam bahaya. Musafir yang sampai ke tanah Arab pun belum aman. Pada masa awal perjalanan haji, tidak mengherankan apabila calon jemaah dilepas kepergiannya dengan derai air mata; karena khawatir mereka tidak akan kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa catatan tentang kaum muslimin Nusantara jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut nampaknya ibadah haji merupakan ibadah yang hanya terjangkau kaum elit, yaitu kalangan istana atau keluarga kerajaan. Hal ini menunjukkan –pada jaman itu- perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji memerlukan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji namun tidak tercatat dalam sejarah. Gelar “Haji” memang pantas bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perjalanan haji seharusnya tidak sesulit jaman dulu. Sudah selayaknya pemerintah mempermudah perjalanan haji dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya bagi kaum muslimin yang ingin menunaikannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-537336171674979504?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/537336171674979504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=537336171674979504' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/537336171674979504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/537336171674979504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/05/gelar-haji-pantas-bagi-mereka.html' title='Gelar &quot;Haji&quot; Pantas bagi Mereka'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-187303662349759160</id><published>2007-05-14T02:22:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T02:42:25.915-07:00</updated><title type='text'>Maulid Nabi dan Shalawat untuk Sahabat Nabi (Pertanyaan untuk Salafiyyun)</title><content type='html'>Ustadz Abdurrahman dalam blog yang beliau kelola (http://abdurrahman.wordpress.com) menurunkan sebuah artikel tentang memperingati maulid Nabi SAW yang beliau nilai sebagai perbuatan bid'ah karena tidak ada contohnya baik dari Nabi maupun para sahabat beliau. Salah seorang pemgunjung blog tersebut mengkritisi artikel tersebut dengan cara membandingkan peringatan maulid Nabi dengan pembacaan shalawat kepada sahabat Nabi yang sama-sama tidak ada contohnya baik dari Nabi maupun sahabat. Anehnya, kedua perbuatan tersebut dinilai berbeda oleh kaum Salafy yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadz Abdurrahman. Bila maulud Nabi dinilai bid'ah, tidak demikian dengan bersholawat kepada sahabat Nabi, justru bersholawat kepada sahabat nabi dinilai sebagai perbuatan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, ustadz Abdurrahman tidak mau memperpanjang diskusi. Beliau segera menutup diskusi tersebut. Saya mencoba mengirim e-mail kepada Ustadz Abdurrahman yang -menurut pengakuannya- saat ini sedang menimba ilmu di Kuwait. E-mail yang berisi permintaan penjelasan tersebut saya alamatkan kepada alamat e-mail beliau di  ibnsarijan@gmail.com dan abumuhammad78@gmail.com. Sayang, hingga saat ini beliau tidak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tulis ulang permasalahan ini dengan harapan Ustadz Abdurrahman (atau utadz-ustadz lain dari kalangan Salafiyyun) membacanya dan menjawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Yth. &lt;br /&gt;Ustadz Abdurrahman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya adalah salah seorang pengunjung http://abdurrahman.wordpress.com. Saya tertarik dengan diskusi perihal boleh tidaknya memperingati maulid Nabi. Sayang, antum menutup diskusi tersebut, padahal saya ingin sedikit berkomentar, atau tepatnya meminta konfirmasi kepada antum perihal jawaban antum atas komentar Sdr. Asep Suryana. Saya tulis ulang.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asep Suryana Berkata: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;April 10th, 2007 at 11:27 adalah &lt;br /&gt;Assalamu ‘alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;Saya sedang menimba ilmu tentang Islam. Penjelasan ustadz tentang maulid nabi telah menambah wawasan saya tentang hal tersebut. Ada hal yang ingin saya tanyakan yang -menurut saya- agak mirip dengan maulid nabi, yaitu bacaan shalawat untuk para sahabat. Kita sering mendengar bacaan shalawat seperti ini : “Allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi aj’maiin.”&lt;br /&gt;Sejauh yang saya pelajari di sekolah dulu, bacaan shalawat adalah untuk nabi dan keluarganya saja. Apakah bershalawat dengan menyertakan sahabat nabi (wa ashabihi ajma’in) pernah dicontohkan oleh Rasulullah ?&lt;br /&gt;Terima kasih atas penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Antum menjawab:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.&lt;br /&gt;Pembacaan sholawat tidak bisa kita samakan dengan peringatan maulid nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman tentang perintah bersholawat kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56) سورة الأحزاب.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan untuknya” (QS. Al-Ahzab: 56).&lt;br /&gt;قال البخاري:قال أبو العالية:” صلاة الله تعالى ثناؤه عليه عند الملائكة وصلاة الملائكة الدعاء”.&lt;br /&gt;Berkata Bukhori:”Berkata Abu ‘Aliyah:’Sholawat Allah Ta’ala adalah penghormatan-Nya terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam disisi para malaikat-Nya, sedangkan sholawat para malaikat adalah do’a”.&lt;br /&gt;قال ابن أبي حاتم: حدثنا عمرو الأودي, حدثنا وكيع عن الأعمش عن عمرو بن مرة, قال الأعمش عن عطاء بن أبي رباح:” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا, قال: صلاة تبارك وتعالى سبوح قدس, سبقت رحمتي غضبي والمقصود من هذه الأية أن الله سبحانه وتعالى أخبر عباده بنمزله عنده ونبيه عنده في الملأ الأعلى بأنه يثنى عليه عند الملائكة المقربين, وأن الملائكة تصلي عليه ثم أمر تعالى أهل العلم السفلي بالصلاة والتسليم عليه, ليجتمع الثناء عليه من أهل العالمين, العلوي والسفلي جميعاً (انظر تفسير ابن الكثير 3/281)&lt;br /&gt;Berkata Ibn Abi Hatim:’Menceritakan kepadaku ‘Amr Al-Audiy, bercerita kepadaku Waki’ dari A’masy dari ‘Amr bin Marah, berkata A’masy dari Atho’ bin Abi Robah (tentang firman-Nya):”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi…”, ia berkata:”Sholawat Allah Ta’ala adalah SUBUHUN QUDUSUN…..makna dari ayat ini adalah: Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya akan kedudukan hamba dan nabi di sisi-Nya kepada para penghuni langit dikarenakan Ia memuji hamban-Nya (nabi,pent) kepada para malaikat yang terdekat. Dan para malaikat bersholawat kepadanya (nabi, pent) kemudian Allah Ta’ala memerintahkan Ahli Ilm untuk bersholawat dan mengucapkan keselamatan kepadanya, agar terkumpul pujian terhadapnya dari seluruh penghuni dunia ini baik yang tertinggi maupun yang terendah” (Lihat Tafsir Ibn Katsir 3/281. Cet: Darul Bashiroh, Mesir).&lt;br /&gt;Jadi sholawat kita kepada nabi dan para sahabatnya adalah sebagai pujian (tsana’) kepada mereka.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman ketika memuji para sahabat radhiallahu anhum:&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (218) سورة البقرة.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang hijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqoroh: 218).&lt;br /&gt;قال قتادة: أثنى الله عز و جل على أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أحسن الثناء في هذه الأية. (أنظر كتاب فضائل الصحابة. لعبد الله عبد القادر).&lt;br /&gt;Berkata Qotadah:”Allah Azza wa Jalla memuji para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baiknya pujian pada ayat ini”. (Lihat Kitab Fadhoil As-Shohabah. Karya Abdullah Abdul Qodir).Allahu A’lam.&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji para sahabatnya, hal ini sebagaimana dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;Dari ‘Imron bin Hushain radhiallah anhu, ia berkata: Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;“خير أمتي قرني, ثم الذين يلونهم, ثم الذين يلونهم, ثم الذين يلونهم”&lt;br /&gt;“Sebaik-baiknya umat adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya”. Berkata ‘Imron: Saya tidak tahu apa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan generasi setelahnya sebanyak dua atau tiga kali.1) Allahu Ta’ala A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuwait, 26 Robi’ul Awwal 1428 – 12 April 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;1) HR. Ahmad 4/426/440; Bukhori 8/5/6/7 dalam Al-Manaqib; Muslim dalam Al-Fadhoil 16/87/88/89; At-Tirmidzi; An-Nasa’I; Abu Dawud dan selain mereka. Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;“خير هذه الأمة القرن الذي بعث فيهم”&lt;br /&gt;“Sebaik-baiknya generasi pada umat ini adalah generasiku yang mana aku diutus padanya”. (HR. Ahmad 1/378/417). Sedangkan hadits yang berasal dari Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu berbunyi:&lt;br /&gt;“خير الناس قرني…..”&lt;br /&gt;“Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasi…..” (HR. Bukhori; At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;Sedangkan dalam lafaz Muslim berbunyi:&lt;br /&gt;“Seseorang bertanya: Siapakah manusia terbaik? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Manusia terbaik adalah pada generasiku”. (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dari penjelasan antum di atas tidak disebutkan satu dalil pun bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa alihi wasalam pernah menganjurkan untuk bershalawat kepada para sahabatnya. Adapun hadis-hadis tentang keutamaan para sahabat kita sudah tahu, tapi hadis-hadis itu tidak menjadi dalil bolehnya bershalawat kepada sahabat, karena tata cara (bacaan) shalawat sudah tertentu dan sudah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa alihi wasalam.&lt;br /&gt;Dalam hal ini saya berpegang pada kaidah  Lau Kaana Khairan Lasabakuuna Ilaihi (kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkannya), sedangkan kita mafhum bahwa para sahabat tidak pernah melakukannya, yaitu mereka tidak pernah bershalawat untuk sesama mereka sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya minta penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini. Karena antum saat ini sedang menimba ilmu di Kuwait, kalau antum tidak berkeberatan, mungkin antum dapat pula minta pendapat masyayikh di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jazaakallahu khoiron katsiro.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-187303662349759160?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/187303662349759160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=187303662349759160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/187303662349759160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/187303662349759160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/05/maulid-nabi-dan-shalawat-untuk-sahabat.html' title='Maulid Nabi dan Shalawat untuk Sahabat Nabi (Pertanyaan untuk Salafiyyun)'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-861710185223641892</id><published>2007-04-24T20:47:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T06:56:18.204-08:00</updated><title type='text'>Masa Depan (sebagian) Sahabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7PzYslpgI/AAAAAAAAAAs/oV5Z0_s8czE/s1600-h/bukhari1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7PzYslpgI/AAAAAAAAAAs/oV5Z0_s8czE/s320/bukhari1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057207913293391362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7PzoslphI/AAAAAAAAAA0/lw8Y79CiQSI/s1600-h/bukhari2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7PzoslphI/AAAAAAAAAA0/lw8Y79CiQSI/s320/bukhari2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057207917588358674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7Pz4slpiI/AAAAAAAAAA8/wWr969h69V8/s1600-h/bukhari3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7Pz4slpiI/AAAAAAAAAA8/wWr969h69V8/s320/bukhari3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057207921883325986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-861710185223641892?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/861710185223641892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=861710185223641892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/861710185223641892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/861710185223641892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/04/masa-depan-sebagian-sahabat.html' title='Masa Depan (sebagian) Sahabat'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/Ri7PzYslpgI/AAAAAAAAAAs/oV5Z0_s8czE/s72-c/bukhari1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-3178442845048002256</id><published>2007-04-22T22:58:00.001-07:00</published><updated>2007-04-22T23:08:06.108-07:00</updated><title type='text'>“ALANGKAH INDAH ARGUMENTASINYA!”</title><content type='html'>Ada sebuah kearifan filosofis yang berbunyi, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Lewat kearifan  ini hendak digambarkan betapa strategis posisi orang tua dalam pembentukan kepribadian anak, di mana pola pikir, pola tutur, dan pola laku orang tua akan ditiru anak. Berbagai pola meniru ini merupakan akibat langsung yang diterima anak karena keluarga memang merupakan wahana sosialisasi pertama dan utama bagi setiap individu. Dari sebab itu, mutu didikan, mutu asuhan dan mutu sentuhan-sentuhan psikologis lainnya akan memberikan lahan yang subur bagi anak sehingga ia pun merasa nyaman dan memungkinkan dirinya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi kemanusiaan secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah penelitian psikologi membuktikan, anak yang dibesarkan dalam keluarga bahagia, dalam arti yang luas, akan memiliki tingkat intellegensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang kurang mampu memberikan rasa bahagia bagi anak. Imam Ali kwh adalah  contoh dari sedikit orang yang telah diasuh dalam suasana keluarga kenabian yang penuh dengan kenyamanan dan kebahagiaan spiritual ini  sehingga semua potensi kemanusiaan yang beliau miliki mampu terejawantahkan secara utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sejenak kita buka kembali sekelumit lembaran sejarah, bisa diketahui beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang dilingkupi oleh kampiun-kampiun spiritual. Ayahandanya, Abu Thalib, sebagai misal. Beliau adalah sosok masyarakat qurays yang cukup terpandang dan  disegani. Beliau jugalah yang telah berkesempatan mengasuh  Nabi  Muhammad saw sepeninggal kakek Nabi saw, Abdul Muthalib. Jadi mulai dari sini sudah  bisa  kita lacak, sejak usia anak, Imam Ali kwh sudah tinggal serumah dengan Beliau saw yang pada saat itu berposisi seperti seorang kakak terhadap adiknya. Tentang keberanian Abu Thalib, tidak perlu kita ulangi panjang lebar. Beliaulah yang berani pasang badan saat Nabi saw mulai menyampaikan dakwah Islam secara terbuka  demi menghalau cecunguk-cecunguk jahiliyah yang merintangi dakwah Beliau saw. &lt;br /&gt;Bagi sebagian umat Islam yang sudah mencapai level “makrifat sejarah”, pembelaan yang dilakukan Abu Thalib di atas, merupakan bukti keyakinan beliau pada kebenaran Islam, sekaligus bukti keislaman beliau. Tapi bagi sebagian lain, yang belum menyentuh level “makrifat sejarah” serta masih bersuara sumbang, pembelaan Abu Thalib terhadap Islam, merupakan bukti, yang satu saat nanti, Insya Allah, akan mereka mengerti.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Tak berselang lama kemudian, setelah Rasulullah saw membangun mahligai rumah tangga sendiri bersama Siti Khodijah al-Kubra, disebabkan kesulitan ekonomi yang dialami Abu Thalib, Imam Ali kwh diambil dan diasuh langsung oleh Beliau saw. Dan mulai saat itulah, Imam Ali kwh diasuh oleh seorang, yang diabadikan di dalam Al-Quran suci sebagai orang yang tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu semata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bisa Anda fikirkan dan Anda rasakan, kira-kira bagaimana keadaan seseorang yang diasuh oleh dua orang ahli surga, Rasulullah saw dan Khodijah. Tak satupun orang waktu itu yang memperoleh posisi seperti Beliau kwh. Imam Ali kwh saat itu berada  dalam ruang keluarga kenabian yang steril dari hal-hal yang bisa mencemari atau menutupi kesucian fitrahnya. Beliau kwh tumbuh kembang di bawah naungan pandangan dunia atau paradigma tauhid. Dari sebab itu, Imam Ali kwh, berhak menyandang gelar Karramallahu Wajhah. Artinya, semoga Allah swt memuliakan wajahnya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dikarenakan sejak lahir hingga wafat  wajah (hatinya) tidak pernah tunduk terhadap berhala meski sesaatpun. Perut Beliau kwh juga tidak pernah terselinap barang haram, pendengarannya pun tidak pernah menerima perkataan sia-sia dalam ruang steril tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak kesaksian Imam Ali kwh sendiri yang pernah berkisah tentang kehidupan yang dijalaninya bersama Rasulullah saw. “Dan telah kalian ketahui tempatku di sisi Rasulullah saw, dengan kekerabatanku yang amat dekat dan kedudukanku yang khusus. Beliau saw meletakkan aku dipangkuannya ketika aku masih seorang bocah. Didekapnya aku ke dadanya, dipeluknya dipembaringannya, disentuhkannya aku dengan tubuhnya, diciumkannya aku dengan harum aromanya. Beliau kwh kemudian meneruskan,”Aku pun mengikutinya kemana Beliau saw pergi, bagai anak onta mengikuti ibunya. Tiap hari Beliau saw mengajariku tambahan pengetahuan dari akhlaknya, dan memerintahkan agar aku mencontohnya. Dihari-hari tertentu, setiap tahunnya, Beliau saw menyingkir menyendiri di Gua Hira, dan aku melihatnya sementara tak seorangpun melihatnya selain aku. Pada saat itu, tak ada satupun rumah tangga yang terikat dalam Islam selain Rasulullah saw dan Khadijah serta aku yang ke tiga setelah keduanya. Dan akupun menyaksikan sinar wahyu dan kerasulan, menghirup pula semerbaknya kenabian (Nahjul Balaghah: terbt. Mizan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Imam Ali kwh tumbuh kembang dalam suasana keluarga Islam yang ideal. Pola didik, pola tutur dan pola laku yang ditampilkan oleh Sang Penerima Wahyu saw telah diserap seutuhnya oleh generasi penerus Beliau saw ini. Setiap goresan kehangatan yang diukir ke dada Imam Ali kwh lewat akhlak suci Beliau saw ini  akan terlihat dampaknya dikemudian hari. Beliau kwh, muncul menjadi figur dengan struktur spiritual mirip, kalau ada yang keberatan bila dikatakan serupa, dengan Sang Utusan saw! Dengan posisi spiritual seperti ini,  Beliau saw pun bersabda,”Wahai Ali, kedudukanmu di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada nabi sesudahku”. Dalam kesempatan lain Beliau saw menuturkan pula ,”Aku adalah kota ilmu, dan Ali pintunya. Maka barangsiapa ingin mendapat ilmu, hendaknya ia melewati pintunya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat hadist yang pertama, dengan logika  sederhana saja, bisalah disimpulkan bahwa bangunan spiritual antara Rasulullah saw dan Imam Ali kwh tersebut berada dalam satu ayunan langkah kaki. Orang melayu bertutur arif, bak pinang dibelah dua. Maka tak mengherankan bila Beliau kwh sering dipilih Rasulullah saw untuk mewakilinya dalam berbagai misi, termasuk pula ditunjuk menjadi panglima perang diberbagai peperangan. Sedangkan lewat hadist yang kedua, masih dengan logika yang sederhana tentunya, yang dimaksud dengan kota ilmu adalah Al-Quran suci itu sendiri sehingga untuk bisa memahami dan memaknai Al-Quran suci pasca kenabian, normalnya harus lewat Sang Pintu Ilmu, dan tidak(normal?)lewat pintu-pintu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian Ibn Abil Hadid berikut ini menarik pula untuk disimak. Ia menuturkan, berkali-kali Umar bin Khatab ra. berkata kepada Ali bin Abi Thalib kwh. “Aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’ dan menjawabnya langsung, bahkan tanpa berfikir sejenakpun”. Lalu Imam Ali kwh menunjukkan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab ra. seraya berkata,”Wahai Umar, berapakah ini?”. Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab,”Lima!”. Imam Ali kwh lantas menimpali, ”Ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kesaksian di atas terbuktikan, ketangkasan intellektual yang dimiliki Imam Ali kwh, telah menyebabkan Beliau kwh mampu menangkap persoalan dengan cermat kemudian menyajikan penyelesaiannya secara akurat, dan logikanya pun terlihat selalu terjaga.&lt;br /&gt;Kepiawaian Imam Ali kwh dalam menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadanya tidak berhenti sampai di situ. Untuk lebih mengenali kehandalan Beliau kwh dalam menjawab dan menyelesaikan persoalan , kita tengok sebentar penggalan episode  kehidupannya setelah Rasulullah wafat, yang telah direkam oleh sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, ada serombongan utusan dari negeri Romawi ke Madinah. Diantara mereka terdapat seorang pastor Nasrani. Pastor itu datang ke masjid Rasulullah saw sambil membawa kantung yang berisi emas dan perak lalu berkata,”Aku dari negeri Romawi. Aku datang membawa kantung  berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat ini tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan masuk Islam dan mentaati perintahnya. Dan ini hartaku dihadapan kalian aku berikan. Tetapi jika dia tidak bisa menjawabnya maka aku akan kembali dan tidak akan masuk Islam”. Kemudian pastor itu mulai melontarkan pertanyaan pada salah seorang sahabat Nabi saw. “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah, dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”, demikianlah pertanyaan sang Pastor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, tidak ada satu sahabatpun yang hadir di situ mampu menjawabnya. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, ada seorang sahabat yang marah dan mau membunuh pastor tersebut, sesaat setelah mendengar pertanyaannya. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan ini, Salman Al-Farisi ra. yang juga hadir di sana, bangun dan pergi menjumpai Imam Ali kwh yang tengah duduk bersama al-Hasan dan al-Husein di tengah rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Imam Ali kwh. Lalu, Imam Ali bangun dan pergi bersama al-Hasan dan al-Husein sehingga sampai di masjid. Lalu Imam Ali kwh masuk dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pastor itu menghadap Imam Ali kwh dan memulai berdialog. ”Wahai lelaki, siapa namamu?”. Imam Ali kwh menjawab,”Namaku dikalangan Yahudi adalah Ilyan dan dikalangan Nasrani adalah Iliya. Sedangkan menurut ayahku adalah Ali dan menurut ibuku adalah Haidar”. Pastor bertanya lagi,”Apa hubunganmu dengan Nabimu?”. Beliau kwh menjawab,” Dia adalah saudaraku, mertuaku dan putra pamanku”.&lt;br /&gt;Pastor kemudian berkata,”Kamu adalah temanku demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rendah hati dan penuh wibawa Sang Pintu Ilmu segera menjawab, ”Wahai saudara Nasrani, adapun pertanyaanmu tentang sesuatu yang tidak dimiliki Allah adalah istri dan anak.  Tentang  sesuatu yang tidak ada pada Allah adalah kedhaliman. Adapun tentang sesuatu yang tidak Allah ketahui adalah sekutu dan kawan. Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban tersebut, orang Nasrani  saat itu juga berkata,”Ulurkan tanganmu, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”. Lalu, pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya kepada Imam Ali kwh, kemudian kembali ke kaumnya dalam keadaan Muslim. Para sahabat bersorak senang, Abu Bakar  ra. berkata,”Wahai penyingkap kesedihan, wahai Ali engkau adalah pelega kegelisahan”.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan yang berbeda datang lagi seorang menemui Imam Ali kwh, dan menyatakan akan masuk Islam bila bisa menjawab pertanyaan yang disampaikan. Orang tersebut bertanya,”Sebutkan lima makhluk hidup yang tidak berbapak dan tidak beribu. Sebutkan tempat di dunia ini yang disucikan oleh Islam tapi justru tidak boleh dipakai sebagai tempat sholat. Terakhir, sebutkan tempat di dunia ini yang pernah sekali saja tertimpa sinar matahari secara langsung, sesudah itu tak pernah lagi”.&lt;br /&gt;Imam Ali kwh menjawab,”Lima makhluk hidup yang tidak berbapak dan tidak beribu ialah Adam, hawa, ular dari tongkat Nabi Musa, domba Nabi Ibrahim pemberian Allah sebagai ganti Nabi Ismail, dan ontanya Nabi Shaleh yang muncul dari bukit. Sedangkan tempat yang dianggap suci oleh Islam tapi tidak boleh dipakai sebagai tempat sholat adalah bagian atas (atap) Ka’bah. Adapun tempat yang hanya sekali tertimpa matahari secara langsung adalah laut merah yang dibelah Nabi Musa. Saat dibelah, dasar laut tersebut tertimpa sinar matahari, tak lama kemudian tertutup lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada pertanyaan agak aneh yang disampaikan ke Imam Ali kwh. “Wahai Ali, sebutkan suatu bilangan yang bila dibagi angka satu sampai sepuluh tidak menghasilkan angka pecahan?”. Beliau kwh segera menjawab,”Jumlah hari dalam satu bulan (30) dikalikan jumlah hari dalam satu minggu (7), lalu kalikan jumlah bulan dalam satu tahun (12). Kami persilakan Anda buktikan sendiri hasilnya, Pembaca Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dicermati jawaban-jawaban Beliau kwh di atas, tak ada satu pun yang lemah logikanya. Ditangan Imam Ali kwh, aneka pertanyaan yang rumit dan terdengar asing di telinga, terasa ringan dan  pada akhirnya akan terurai. Para penanya di atas, setelah puas dengan jawaban yang diterima, segera masuk Islam. Mereka menerima Islam dan mengakui kewilayahan Imam Ali kwh setelah melakukan Fit and proper test dan kalah dalam duel logika melawan menantu Nabi saw ini. Sikap mental mereka pantas kita tiru yaitu, egonya tunduk terhadap kebenaran setelah akalnya membuktikan sendiri adanya kebenaran. Mereka masuk Islam karena argumentasi, bukan persuasi. Mereka menerima Islam karena melakukan gerak ikhtiari, bukan mewarisi. Lalu, bagaimana dengan kita sendiri, Pembaca Budiman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan yang sempat direkam sejarah, tapi tidak mungkin kita muat semuanya di sini. Kami persilakan Pembaca Budiman berikhtiar menemukannya sendiri. Namun, sekarang ada baiknya juga kalau kita intip sejenak  jawaban Imam Ali kwh atas berbagai pertanyaan yang menunjukkan kesucian akhlak Beliau kwh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ada seseorang memaki dan menghina Imam Ali kwh. Anehnya, keesokan harinya, karena ada keperluan penting, orang tersebut tanpa rasa malu menemui Imam Ali kwh. Dan dengan lapang dada Beliau kwh bersedia membantu dan menyelesaikan kesusahan orang tersebut. Para sahabat Imam Ali kwh dengan heran bertanya,”Mengapa Anda membantunya?”. Imam Ali kwh menjawab, “Aku malu bila kebodohannya dapat mengalahkan kesabaranku, dan kesalahannya mengatasi maafku, serta permintaannya mengungguli kedermawananku. Oleh karena itulah aku kabulkan permintaannya”.&lt;br /&gt;Seorang penjual daging menawarkan dagingnya kepada Imam Ali kwh,”Wahai Ali, belilah daging dariku, kualitasnya sangat baik!”. Imam Ali kwh menjawab,”Aku tidak punya uang”. Penjual daging itu nyelutuk lagi,”Engkau bisa membayarnya nanti, aku tidak tergesa-gesa dengan uangnya”. Imam Ali lantas menyahut,”akupun tidak tergesa-gesa untuk makan daging”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan juga, suatu saat Imam Ali didatangi seorang lelaki, kemudian lelaki tersebut membaca syair yang isinya puja dan puji untuk Imam Ali kwh, tetapi ia berlebihan dalam memuji. Bahkan dalam hatinya, ia mencela Imam Ali kwh. Mengetahui kebusukan hati orang itu, Beliau kwh berkata,”Aku lebih kecil dari apa yang engkau puji dengan lisanmu, dan lebih baik dari apa yang kau pikirkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah indah argumentasinya!”. Demikian kira-kira suara yang terdengar dari lubuk hati kita sesaat setelah mendengar jawaban Imam Ali kwh di atas. Bila dirasa-rasakan bahasa jawabannya sungguh berbeda dengan peristiwa bahasa sehari-hari. Ada sesuatu yang lain di sana. Kita seolah diterpa oleh suatu kekuatan dibalik setiap jawaban yang diberikan. Sengketa antara sisi spiritual dan sisi intellektual yang sering terjadi pada kebanyakan kita, tak terlihat di sana. Bahkan keduanya terlihat harmonis. Selanjutnya, bila ditimang-timang lebih dalam lagi, Beliau kwh, juga tidak pernah tidak dapat menemukan kata-kata untuk menampakkan cahaya kebenaran yang sebelumnya seakan tak terjangkau oleh bahasa kita.  Akibatnya bisa diperoleh, bukan sekedar kelezatan kognitif saja tentunya, tapi sekaligus pencerahan rohani bagi para pemerhati sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh fasih lidah Beliau kwh. Imam Ali kwh tidak pernah mengalami slip of the tongue alias keseleo lidah, bahkan sepatah kata saja, dari apa yang diucapkannya. Emosinya pun tidak pernah teraduk-aduk. Kesadarannya selalu dalam kendali nalarnya. Pandangan-pandangannya terhadap soal-soal ketuhanan dan kemanusiaan senantiasa berkelit-kelindan membangun sebuah pandangan dunia tauhid yang menyeluruh dan harmonis. Lebih dari itu, Beliau kwh tidak hanya membatasi diri pada pewacanaan-pewacanaan saja, tetapi selalu berupaya menawarkan alternatif praktis, berikut berbagai implementasi yang realistis dalam kehidupan keseharian umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali kwh merupakan pribadi hasil didikan Rasul akhirul zaman, disamping pribadi-pribadi lain, yang telah berhasil Beliau saw didik pula. Fatimah az-Zahra, Imam Hasan al-Mutjtaba, Imam Husein as-Syahid adalah figur-figur yang pernah mengeyam pendidikan di akademi kenabian. Mereka adalah siswa-siswi alumni  akademi kenabian. Posisi dan prestasi spiritual mereka saling berhimpitan dan sememikat satu dengan lainnya. Semua ilmu telah terhimpun di dada mereka, tak ada sedikitpun yang tercecer. “Kekasihku Rasulullah saw mengajariku seribu macam ilmu. Dan dari setiap ilmu itu terpancar seribu cabang ilmu,”demikian yang sering Beliau kwh sampaikan pada kita. Dan, kepada merekalah kita sampaikan shalawat disetiap sholat kita. Allahumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad. Ya Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada orbit yang lain, Al-Quran sendiri mendokumentasikan dan mengibaratkan Nabi saw dan keluarganya sebagai pohon yang diberkati. Akarnya kuat, batangnya kokoh, daunnya rindang dan buahnya lezat melimpah.  Akan tercium aroma kesucian bagi siapa saja yang berusaha mendekati pohon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seribu sayang. Wilayah persoalan ini, belum banyak disentuh oleh umat Islam. Mustika ajaran, dari mereka yang telah memperoleh didikan wahyu, belum juga diapresiasi, dijadikan kiblat kemudian diteladani oleh umat Islam sendiri. Keluarga Rasulullah saw masih dilihat dengan sebelah mata, bahkan sebagian  besar umat Islam malah lebih senang memperhatikan orang-orang yang hanya sekedar “numpang belajar” di akademi kenabian. Lebih parah lagi, mereka yang hidupnya sekian ratus tahun dari akademi kenabian dan sama sekali tidak ditemukan adanya  rantai penghubung yang jelas antara mereka dengan Para Siswa-Siswi alumni akademi kenabian seringkali justru dijadikan rujukan. Aneh, bukan? Padahal kita akan dibawa pada cahaya-cahaya kebenaran yang tak terelakkan bila ajaran-ajaran Nabi saw yang dibawa oleh keluarga Nabi saw, didalami dan dihayati untuk kemudian diamalkan. Buah-buah hikmah keimamahan keluarga Nabi saw beserta kebenaran ajarannya, yang jatuh  tak jauh dari pohon kenabian, belum sepenuhnya digapai oleh umat Islam. Entah sampai kapan, kita tak tahu. Maka sebaiknya, renungkanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Nur Rohman&lt;br /&gt;[Pengurus Daerah Surakarta, Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-3178442845048002256?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jalal-center.com/' title='“ALANGKAH INDAH ARGUMENTASINYA!”'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/3178442845048002256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=3178442845048002256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/3178442845048002256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/3178442845048002256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/04/alangkah-indah-argumentasinya_22.html' title='“ALANGKAH INDAH ARGUMENTASINYA!”'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-6698582072267414379</id><published>2007-04-18T02:34:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T06:56:18.360-08:00</updated><title type='text'>"Kota Suci" di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RiXqBuCBZ2I/AAAAAAAAAAc/8cnjOOvKfbI/s1600-h/Makam+Cut+Nyak+Dien+(Nyi+Prabu+Sebrang).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RiXqBuCBZ2I/AAAAAAAAAAc/8cnjOOvKfbI/s320/Makam+Cut+Nyak+Dien+(Nyi+Prabu+Sebrang).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5054703472050530146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The holy city atau kota suci bagi umat Islam lazim disematkan kepada tiga kota di dunia yaitu Mekah al-Mukaromah, Madinah al-Munawaroh, dan Yerusalem al-Quds. Umat Islam –apapun madzhabnya- mengakui kesucian ketiga kota tersebut. Mengapa disebut kota suci? Biasanya jawaban yang lumrah untuk pertanyaan di atas adalah karena di Mekah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, dan di Yerusalem ada Masjid al-Aqsha. Jadi kesucian ketiga kota tersebut adalah karena adanya masjid-masjid itu. Kalau pertanyaannya kita lanjutkan, mengapa dengan adanya masjid-masjid itu kota-kota tersebut menjadi kota suci? Jawabannya adalah karena ketiga masjid tersebut terkait erat dengan perjuangan dan dakwah seorang manusia suci dalam menyebarkan agama yang suci ini. Manusia suci itu adalah Muhammad, Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam), dan agama suci itu adalah Islam. Tanpa diakitkan dengan Rasulullah, sang manusia suci itu, mustahil masjid-masjid itu dikenal sebagai masjid suci, dan mustahil pulalah ketiga kota itu menjadi kota-kota suci yang menjadi tempat tujuan ziarah kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi muslim Syi’ah, Rasulullah (saaw) bukan satu-satunya manusia suci, kendati tidak diragukan lagi bahwa Beliau adalah manusia bahkan makhluk tersuci. Masih ada 13 manusia suci lainnya yang kesuciannya mutlak sebagaimana kesucian Rasulullah. Mereka adalah Fatimah Azzahra binti Rasulullah dan 12 Imam penerus Rasulullah (shalawatullah 'alaihim wasallam). Perjuangan dan dakwah para manusia suci tersebut tidak terbatas pada kota-kota Mekah dan Madinah saja, tetapi juga Najaf, Karbala, Kazhimain, Samarra, dan bahkan Masyhad. Di kota-kota itu akan kita temukan jejak-jejak perjuangan mereka baik berupa masjid ataupun makam. Itulah sebabnya, kaum Syi’ah tidak hanya memiliki tiga kota suci, tetapi banyak kota suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Syi’ah sangat menghormati para manusia suci tersebut, sehingga orang-orang yang berkaitan erat dengan perjuangan mereka dan dikenal memiliki ketakwaan dan maqom spiritual yang tinggi, juga sering disebut orang suci. Sayyidah Zainab, Sayyidah Sukainah, Abu Fazhl al-Abbas dan para sahabat Imam Husain yang gugur di Karbala, adalah contohnya. Sayyidah Fatimah ma’shumah yang merupakan cucu Imam Ja’far Shadiq  adalah contoh lain di mana kota suci Qum dikaitkan dengan makam beliau yang terletak di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah “kota suci” di Indonesia ? Ada, dan bahkan banyak, kalau kriteria “kota suci” kaum Syi’ah diterapkan di Indonesia oleh umat islam Indonesia seperti saya. Umat Islam Indonesia mengenal para waliyullah penyebar agama Islam di Nusantara sebagai orang-orang suci. Di antaranya adalah wali songo. Bila kota dimana terdapat makam para wali kita sebut sebagai kota suci, maka kita akan mempunyai banyak kota suci di Indonesia seperti  kota suci Cirebon, dimana terdapat makam Syaikh (atau Sayyid ?) Syarif Hidayatullah, kota suci Serang di mana terdapat makam Syaikh Maulana Yusuf, kota suci Ampel, Gresik, Kudus, Bonang, dan Muria tempat disemayamkannya para waliyullah Sunan Ampel, Maulana malik Ibrahim, Sunan Kudus, Sunan Bonang, dan Sunan Muria,  juga Banda Aceh dimana terdapat makam Sultan Malik al-Salih, raja sekaligus penyebar Islam di Samudra Pasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, orang suci tidak harus selalu ulama atau penyebar agama, seorang pejuang yang syahid di jalan Allah juga layak disebut orang suci dan kota di mana tanahnya dijadikan tempat peristirahatan terakhir para syahid itu  juga layak disebut kota suci. Maka, bagi saya, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tidak berhak dijuluki kota suci, karena Indonesia adalah negeri yang penuh dengan perjuangan yang setiap generasi selalu melahirkan para pejuang yang syahid di jalan Allah, selama berabad-abad, di setiap kota dan daerah, tercatat ataupun tidak oleh sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan pendek ini saya dedikasikan untuk arwah suci Cut Nyak Dien, pahlawan Aceh yang dibuang Belanda ke kota Sumedang, Jawa Barat. Di Sumedang, beliau yang dijuluki masyarakat setempat sebagai “Nyi Prabu Sebrang”  tidak lagi memanggul senjata tetapi mendarma-baktikan sisa hidupnya untuk mengajar al-Qur’an dan ajaran suci al-Islam bagi masyarakat Sumedang. Image: Makam Cut Nyak Dien, di Desa Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenal A. Muslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-6698582072267414379?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/6698582072267414379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=6698582072267414379' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6698582072267414379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6698582072267414379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/04/kota-suci-di-indonesia.html' title='&quot;Kota Suci&quot; di Indonesia'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RiXqBuCBZ2I/AAAAAAAAAAc/8cnjOOvKfbI/s72-c/Makam+Cut+Nyak+Dien+(Nyi+Prabu+Sebrang).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-8736241195759984561</id><published>2007-03-28T23:09:00.000-07:00</published><updated>2007-03-28T23:20:20.751-07:00</updated><title type='text'>Belajar dari saudaranya</title><content type='html'>Pada bulan Januari 1990, Ayatullah Khaery, seorang ulama Iran, berkunjung ke Indonesia dalam rangka silaturahmi dengan ormas-ormas Islam di Indonesia. Dalam satu kunjungannya ke PP Muhammadiyah di Jakarta, beliau memberikan ceramah tentang pentingnya persatuan dan ukhuwah di kalangan umat Islam tanpa membeda-bedakan madzhab yang dianutnya. Berikut cuplikan dari ceramah Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah persatuan merupakan masalah yang amatpenting bagi umat Islam Indonesia. Karena, hanya dengan persatuan maka pelaksanaan dakwah Islam bisa berjalan dengan lancar, penuh semangat, serta memungkinkan diterimanya sumbangan-sumbangan pemikiran dari luar dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini tentunya kita tidak akan berbicara tentang perbedaan madzhab, atau membicarakan kejelekan madzhab lain dengan hujjah yang membenarkan madzhabnya sendiri, tanpa disertai bukti-bukti yang sahih. Kalau i’ikad baik semacam ini tidak ada pada semua pihak, maka semua orang tidak akan puas terhadap bentuk pengadilan ini. Apalagi bila setiap pertanyaan tidak terjawab dengan jelas dan komprehensif. Kalau kita sudah bisa menerima kebenaran yang disampaikan oleh kelompok lain, maka kita akan termasuk orang-orang yang mencari ilmu dari sumber aslinya, seperti yang digambarkan oleh al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacaah kitabku ini.”&lt;/em&gt; (QS 69:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan yang bermanfaat bagi kita adalah pembahasan tentang keutamaan saling berbagi ilmu dan pengalaman serta saling mendidik di anatara berbagai madzhab, bukan pembahasan tentang kelebihan madzhab satu terhadap madzhab lain. Pembahasan tentang kelebihan madzhab satu terhadap madzhab yang lain merupakan benih-benih prasangka buruk, perpecahan, permusuhan dan kegagalan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan taalah kepada Allah dan Rasulnya, dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian gentar dan kehilangan kekuatan. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” &lt;/em&gt;(QS 3:103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, sekarang kita memilih membahas kautamaan saling berbagi ilmu dan mendidik antara satu madzhab dengan madzhab yang lain. Siapa yang  mau mengambil pelajaran dari saudaranya, dialah yang akan maju. Sebaliknya, siapa yang menutup diri dan tidak mau (mampu) melaksanakan hal tersebut, maka ia akan ketinggalan. Maka yang ketinggalan harus mengambil pelajaran dari yang sudah maju, dan tidak perlu khawatir terhadap kemajuan saudaranya, karena (saudaranya itu) tidak mungkin akan menjadi saingan yang merugikan dirinya. Dalam hal ini Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Merekalah orang-orang yang bersegera untuk melakukan kebaikan, dan merekalah yang lebih dulu memperolehnya." &lt;/em&gt;(QS 23:61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZAM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-8736241195759984561?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/8736241195759984561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=8736241195759984561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8736241195759984561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8736241195759984561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/03/belajar-dari-saudaranya.html' title='Belajar dari saudaranya'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-4901933210966196945</id><published>2007-03-23T02:28:00.000-07:00</published><updated>2007-03-23T03:17:47.362-07:00</updated><title type='text'>April Mop dan Muharam Mop</title><content type='html'>Seorang mengirim sebuah tulisan tentang sejarah April Moop :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon katanya April Mop, atau The April's Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke- 8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad,Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. &lt;br /&gt;Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Got dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur'an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. &lt;br /&gt;Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al  Qur'an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai Pasukan Salib . Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. &lt;br /&gt;Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan . Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak muslim Granadayang masih bersembunyi di rumah-rumah. &lt;br /&gt;Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granadadan berlayar  meninggalkan Spanyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granadakeluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan Salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara Salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib segara membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap  tanggal 1 April sebagai April Mop (The April's Fool Day). &lt;br /&gt;Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan  umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan ??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan tersebut kemudian diakhiri oleh si Penulis dengan seruan kepada kaum Muslimin: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai saudara-saudariku sesama Muslim, sampai hatikah Anda  semua merayakan April Mop sekarang ini, setelah mengetahui apa yang sebenarnya melatarbelakangi perayaan yang diadakan dunia Barat setiap tanggal 1 April itu ???&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari benar-tidaknya peristiwa April Mop dikaitkan dengan pengusiran dan pembantaian umat islam di Andalusia,  kita selaku kaum muslimin seharusnya mengambil sikap yang tegas pada kezaliman dan pelecehan yang dibungkus dengan permainan yang menggembirakan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa 1 April mengingatkan saya pada peristiwa 10 Muharam yang dikenal dengan hari Asyura. Disebutkan dalam kitab-kitab hadis bahwa pada tanggal tersebut Allah menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir, menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api, menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Fir'aun, dan lain-lain. Karenanya Umat Islam selayaknya bergembira di hari itu dan merayakannya dengan berpuasa. Padahal sejarah mencatat bahwa pada hari tersebut telah terjadi pembantaian paling kejam dalam sejarah umat manusia dimana Imam Husain, cucunda Nabi, bersama puluhan sahabat dan keluarganya dibantai secara keji oleh tentara Yazid bin Muawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari sejarah April Mop, alangkah baiknya bila kaum muslimin juga mengambil sikap yang sama terhadap kezaliman dan pelecehan yang dialami oleh cucu Nabi saaw, Imam Husain as, dan keluarga serta sahabat beliau pada tanggal 10 Muharam yang kemudian dibungkus dengan perayaan yang menggembirakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus keduanya sama, dan sayangnya cukup berhasil mengecoh kebanyakan kaum muslimin berabad lamanya. . (Dengan tulisan tadi, saya terinspirasi untuk menyebut Muharam Mop, Nampaknya kaum Kristen sekedar meniru apa yang dilakukan oleh Bani Umayyah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau kaum muslimin mau menolak April Mop maka lebih-lebih mereka harus menolak perayaan kegembiraan setiap tanggal 10 Muharam.  Apa yang terjadi pada tanggal 1 April dan 10 Muharam itu keduanya adalah peristiwa yang menyedihkan. Kalau terhadap penderitaan sesama muslim biasa saja kita bersedih, tentu kita akan lebih bersedih lagi atas penderitaan keluarga Nabi saaw. Sebab, kalau tidak demikian, dikhawatirkan akan dimasukkan kedalam golongan munafik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-4901933210966196945?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/4901933210966196945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=4901933210966196945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4901933210966196945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/4901933210966196945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/03/april-moop-dan-muharam-moop.html' title='April Mop dan Muharam Mop'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-7595431821689123825</id><published>2007-03-23T02:06:00.000-07:00</published><updated>2007-03-23T02:09:17.883-07:00</updated><title type='text'>Zat dan Sifat Allah</title><content type='html'>Imam Ali AS, Si Pintu Kota Ilmu, berbicara mengenai zat dan sifat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang tiada pembicara manapun mampu meliputi segala pujian bagi-Nya. Tiada penghitung manapun mampu mencakup bilangan nikmat karunia-Nya. Tiada daya upaya bagaimanapun mampu memenuhi kewajiban pengabdian kepada-Nya. Tiada pikiran sejauh apapun mampu mencapai-Nya, dan tiada kearifan sedalam apapun mampu menyelami hakikat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-Nya tidak terbatasi oleh lingkungan, tidak terperikan oleh ungkapan, tidak terikat waktu dan tidak menjumpai kesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DiciptaNya semua makhluk dengan kuasa-Nya. Ditebarkan-Nya angin dengan rahmat-Nya. Ditebarkan-Nya bumi dengan gunung-gunungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pokok pangkal agama adalah makrifat tentang Allah. Namun tak akan sempurna makrifat tentang-Nya kecuali dengan tashdiq (pembenaran) terhadap-Nya. Tak akan sempurna tashdiq kepada-Nya kecuali dengan tauhid dan keihklasan kepada-Nya. Tak akan sempurna keikhlasan kepada-Nya kecuali dengan penafian segala sifat dari-Nya. Karena setiap sifat adalah berlainan dengan yang disifatkan, dan setiap yang disifatkan bukanlah persamaan dari sifat yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, barang siapa meletakkan suatu sifat kepada-Nya, sama saja dengan seseorang yang menyertakan sesuatu kepada-Nya. Dan barang siapa yang menyertakan sesuatu dengan-Nya, maka ia telah menduakannya. Dan barang siapa menduakan-Nya, maka ia telah memilah-milahkan Dzat-Nya. Dan barang siapa memilah-milahkan-Nya, maka sesungguhnya ia tidak mengenal-Nya. Dan barang siapa tidak mengenal-Nya, akan melakukan penunjukkan ke arah-Nya. Dan barang siapa melakukan penunjukkan kepada-Nya, maka ia telah membuat batasan tentang-Nya. Dan barangsiapa membuat batasan tentang-Nya, sesungguhnya ia telah membuat Dia berbilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barang siapa bertanya: “Dimanakah Dia?”, maka sesungguhnya ia telah menganggap-Nya terkandung dalam sesuatu. Dan barang siapa bertanya: “Di atas apakah Dia?”, maka sesungguhnya ia telah mengosongkan sesuatu dari kehadiran-Nya. (Bila Dia di atas sesuatu, maka pada sesuatu itu tidak ada Dia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia (Allah) maujud bukan karena suatu ciptaan. Bukan pula muncul dari ketiadaan. Dia “ada” bersama dengan segala sesuatu namun tidak dengan suatu kesertaan. Bukan pula Dia lain dari segala sesuatu karena keterpisahan darinya. Dia adalah Pelaku, namun tanpa gerak dan alat. Dia Melihat, meski belum ada suatu makhluk untuk dilihat. Sendiri, disebabkan tak adanya sesuatu yang dengannya ia merasa terikat, atau pun gelisah bila ia terpisah dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang keadaan-Nya yang satu tidak mendahului keadaan-Nya yang lain. Maka tiadalah Dia menjadi Yang Awal sebelum Dia menjadi Yang Akhir, atau Yang Zhahir sebelum Yang Bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang disebut “satu” – selain Dia- adalah sedikit. Semua yang mulia selain Dia adalah hina. Semua yang kuat selain Dia adalah lemah. Semua pemilik selain Dia adalah termiliki. Semua yang berilmu selain Dia adalah pencari ilmu. Semua yang kuasa selain Dia adalah adakalanya berkuasa dan adakalanya tak berdaya. Semua yang mendengar selain Dia adalah tuli terhadap suara-suara yang amat lembut, amat keras, atau pun amat jauh dari tempatnya. Semua yang melihat selain Dia adalah buta terhadap warna-warna amat lemah dan benda yang lembut. Semua yang zhahir selain dia adalah bathin, dan semua yang bathin selain Dia adalah zhahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada Ia “mendiami” sesuatu sehingga dapat disebut Ia “ada” di sana. Dan tiada Ia berpisah dari sesuatu sehingga dapat disebut Ia “tidak ada” di sana. Tidak menyulitkan bagi-Nya penciptaan yang dimulai-Nya, ataupun pengaturan apa saja yang telah selesai dibuat-Nya. Tiada pernah Ia diliputi ketidakmampuan dalam segala yang diciptanya, dan tiada pernah Ia dimasuki kebimbangan tentang apa saja yang dilaksanakanNya. Semuanya itu bersumber pada ketetapan yang amat teliti, pengetahuan yang amat tepat dan urusan yang terikat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah yang didambakan pada setiap bencana yang mencekam, dan dari Dia-lah diharapkan datangnya segala kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari “Mutiara Nahjul Balaghah”, Mizan, 1990)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenal A. Muslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-7595431821689123825?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/7595431821689123825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=7595431821689123825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/7595431821689123825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/7595431821689123825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/03/zat-dan-sifat-allah.html' title='Zat dan Sifat Allah'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-5452758649026282688</id><published>2007-03-21T00:44:00.000-07:00</published><updated>2007-03-21T00:53:33.368-07:00</updated><title type='text'>“Melampaui Batas” dalam Menggunakan Akal (?)</title><content type='html'>Dalam sebuah diskusi internet, ketika membahas peranan akal dalam agama, seorang Ikhwan mengatakan:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut saya, akal adalah anugerah Allah swt yg diberikan kepada manusia dalam rangka mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Apa kata Al Qur'an tentang akal...:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikan buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal."(QS: Al Maa-idah :58)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal . Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS: Yusuf :111)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Musa berkata: "Rabb yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (Itulah Rabbmu) jika kamu mempergunakan akal".(QS: Asy Syu'araa' :28)&lt;/em&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, -menurut Ikhwan tersebut- dalam kaitan dengan agama, mestinya kita tidak menggunakan akal secara melampaui batas, terlebih lagi bila menempatkan akal di atas wahyu yaitu al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi pedoman umat Islam sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"..... Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan." (QS: Yunus :12)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas tidak ada yang keliru dalam pernyataan Ikhwan di atas. Tapi kalau kita kaji lebih mendalam terasa ada yang ganjil. Mungkinkah seorang yang menggunakan akal dapat melampaui batas ? Ataukah, relevankah istilah melampaui batas disematkan pada orang yang menggunakan akal ? Mari kita kaji beberapa ayat suci berkenaan dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal."(QS: Az Zumar :18).&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa, orang YANG MENGGUNAKAN AKAL adalah orang YANG DIBERI PETUNJUK &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;".......Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta."(QS: Al Mu'min :28)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa, orang YANG TIDAK DIBERI PETUNJUK adalah orang YANG MELAMPAUI BATAS.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;"...... Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. "(QS: Al Mu'min :34).&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini punya makna yang serupa dengan ayat sebelumnya yakni, orang YANG MELAMPAUI BATAS adalah orang YANG SESAT.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari ketiga pengertian di atas jelas terlihat bahwa, orang YANG MELAMPAUI BATAS atau orang YANG TIDAK DIBERI PETUNJUK atau orang YANG SESAT adalah orang yang tidak  MENGGUNAKAN AKAL.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian maka mustahil bagi orang yang menggunakan akal untuk melampaui batas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-5452758649026282688?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/5452758649026282688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=5452758649026282688' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5452758649026282688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/5452758649026282688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/03/melampaui-batas-dalam-menggunakan-akal.html' title='“Melampaui Batas” dalam Menggunakan Akal (?)'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-6116584072092199350</id><published>2007-02-14T01:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T06:56:19.027-08:00</updated><title type='text'>Kujang Dzulfiqar</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RdLQuaeplBI/AAAAAAAAAAM/nHA30J9XIpA/s1600-h/Kujang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RdLQuaeplBI/AAAAAAAAAAM/nHA30J9XIpA/s320/Kujang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5031313229526701074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujang adalah senjata khas masyarakat Sunda. Orang Sunda sering menyebut senjata khas ini dengan frase "kujang dua pangadekna" yang artinya kujang dengan dua bagian tajam, yaitu pada mata kujang ini dibagian ujung bercabang dua yang dapat digunakan untuk menjepit senjata lawan. Sekilas senjata ini mirip pedang Dzulfiqar milik Kangjeng Nabi (SAW) yang diwariskan pada penerusnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib (as).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenal A. Muslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-6116584072092199350?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/6116584072092199350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=6116584072092199350' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6116584072092199350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/6116584072092199350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/02/kujang-dzulfiqar.html' title='Kujang Dzulfiqar'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4JFQ_Z-scps/RdLQuaeplBI/AAAAAAAAAAM/nHA30J9XIpA/s72-c/Kujang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-1363497641999340505</id><published>2007-02-13T23:19:00.000-08:00</published><updated>2007-02-13T23:24:24.526-08:00</updated><title type='text'>Umat Tersesatkah Kita ?</title><content type='html'>Bukhari dalam Sahihnya meriwayatkan dengan sanad sampai kepada Ubaidillah bin Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas, katanya: “Ketika ajal Rasulullah (S) telah hampir tiba,  di rumah beliau ada beberapa orang diantaranya Umar bin Khattab. Beliau (S) berkata: ‘Mari aku tuliskan suatu surat (sebagai pegangan) supaya kamu sesuadah ini tidak akan pernah tersesat’. Tetapi Umar berkata: ‘Nabi telah semakin gawat sakitnya, sedangkan al-Qur’an ada pada kalian. Cukuplah ia (al-Qur’an) bagi kita…”. Maka terjadilah perselisihan di antara yang hadir. Sebagian berkata: ‘Sediakanlah apa yang diminta Nabi agar beliau menuliskan apa yang menghindarkan kamu dari kesesatan.’ Tapi sebagian lain menguatkan apa yang dikatakan Umar sehingga terjadilah pertengkaran di hadapan Nabi (S) danbeliaupun bersabda: ‘Keluarlah kalian semua dari tempat ini !’ (Sahih Bukhari IV/5, Bab Ucapan Orang yang Sedang Sakit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukhari meriwayatkan hadis ini di beberapa tempat, di antaranya pada Bab Ilmu (Sahih Bukhari I/22) dan pada Bab Hadiah bagi Para Utusan (Sahih II/118). Muslim meriwayatkan peristiwa ini pada Bab Wasiat (Sahih Muslim II/14). Imam Ahmad dalam Musnad I/325. Ahmad bin Abdul Aziz al-jauhari juga meriwayatkan dalam Syarah Nahjul Balaghah bab Assahifah. Juga Imam Thabrani dalam Kitab al-Ausath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini menyisakan banyak hal yang patut kita renungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bukankah Nabi pernah melarang para sahabatnya untuk menuliskan hadis. Andaikan  pelarangan menulis hadis ini benar keluar dari mulut Nabi (S), maka menjelang ajalnya beliau membuat kekecualian. Artinya wasiat yang ingin disampaikan Nabi benar-benar sebuah wasiat yang amat sangat penting bagi masa depan umat. Nabi (konon) melarang sahabat untuk menulis hadis-hadis yang berisi tata cara shalat dan ibadah yang lain yang dari pelarangannya itu Nabi menyadari bahwa umat Islam sepeninggalnya dapat berselisih tentang itu semua (karena tidak ada bukti otentik berupa hadis tertulis). Tetapi tidak untuk wasiat yang satu ini. Nabi ingin agar sahabat mencatat wasiatnya yang terakhir sehingga dengan wasiat tertulis ini umat tidak lagi berselisih dan bertengkar. Gerangan wasiat apa yang ingin disampaikan Nabi itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, peristiwa ini terjadi menjelang Nabi wafat. Artinya, ketika peristiwa ini terjadi, Nabi sudah sempurna menyelesaikan risalah kenabiannya dan mengajarkan seluruhnya kepada umatnya baik yang berkenaan dengan tauhid, ibadah, muamalah, hukum, maupun akhlak. Jadi wasiat apa lagi yang ingin disampaikan Nabi pada peristiwa itu ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita semua ingin mengetahui wasiat Nabi yang terakhir itu ? Adakah madzhab dalam Islam yang meriwayatkan kepada kita pesan Nabi yang teramat penting itu yang bila pada waktu itu jadi dituliskan niscaya kita tidak akan tersesat selama-lamanya ?&lt;br /&gt;Bila tidak, maka kita semua adalah umat yang tersesat !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita semua mengikhlaskan diri kita untuk mengkaji agama ini. Insya Allah kita akan diberi petunjuk kepada ajaran Islam yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Zaenal A. Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-1363497641999340505?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/1363497641999340505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=1363497641999340505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/1363497641999340505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/1363497641999340505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/02/umat-tersesatkah-kita.html' title='Umat Tersesatkah Kita ?'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715637912749179078.post-8231253300219713845</id><published>2007-02-13T18:53:00.000-08:00</published><updated>2007-02-13T20:27:58.220-08:00</updated><title type='text'>Mengkritisi Isu Konflik Sektarian dan Sect-Cleansing di Irak</title><content type='html'>Situs Eramuslim pada tanggal 10 Januari 2007  mengutip pernyataan Syaikh Yusuf Qardhawi: “Apa yang kalian ketahui tentang peristiwa yang menimpa saudara-saudara Muslim kita di Irak? Di sana ratusan ribu kaum Muslim Sunni dibunuh, sebagaimana saya mendengarkan langsung dari utusan Irak yang bertemu saya beberapa waktu lalu. Semua saluran kita untuk membantu kaum Muslim Sunni di Irak diputus sehingga kita tidak bisa membantu menolong mereka dari ancaman kematian.” Menurut Qaradhawi, “andai saja pemimpin Syiah Ali Khamenei mau mengatakan kepada para pengikutnya, “Hentikan pembunuhan atas Muslim Sunni…” niscaya pembunuhan itu akan selesai.” Pernyataan tersebut diungkapkan Syaikh Qardhawi dalam pertemuannya dengan berbagai tokoh Islam di rumah dinas Metua MPR Dr. Hidayat Nurwahid pada 9 Januari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Ahmad D. Bashori dalam artikelnya yang dimuat Republika (17 Januari 2007), pernyataan Syaikh Qardhawi tersebut bukan yang pertama kalinya. Dalam berbagai kesempatan Ulama Qatar tersebut juga pernah menyampaikan hal yang sama saat mengisi program rutin Aljazirah pada acara 'Syariah dan Kehidupan' Ahad, 7 Januari 2007 lalu dan saat khutbah Jum'at (5 Januari 2007) di Masjid Umar bin Khattab, Doha. Apa yang dikemukakan Syaikh Qardhawi berangkat dari adanya fakta (atau berita) yang sampai kepada beliau bahwa di Irak telah terjadi sect-cleansing atau pemusnahan (pengikut) madzhab yaitu pembunuhan besar-besaran atas kaum Sunni Irak yang dilakukan oleh kaum Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kritik atas “fakta” sect-cleansing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pernyataan Syaikh Qardhawi. Pertama, pernyataannya mengesankan bahwa kaum Muslim Sunni adalah satu-satunya korban kekerasan yang terjadi di Irak. Padahal faktanya korban kekerasan di Irak yang menurut laporan resmi Pemerintah Irak -sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia- jumlahnya mencapai lebih dari 12 ribu orang itu tidak hanya terdiri dari kaum Sunni tetapi juga kaum Syi’ah. Kementerian Kesehatan Irak memperkirakan jumlah korban sipil yang tewas hingga November 2006 lebih dari 100.000 orang. Sementara jurnal medis The Lancet pada 11 Oktober 2006 membuat laporan yang menyebutkan jumlah kematian penduduk sipil Irak pascainvasi AS tahun 2003 mencapai lebih dari 650.000 orang. Meski tidak ada kesepakatan jumlah korban sipil yang tewas di Irak, tetapi semua pihak sepakat bahwa para korban itu adalah rakyat Irak yang terdiri dari Syi’ah dan Sunni, Arab dan Kurdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita –sekedar untuk menyebut beberapa contoh- bagaimana ratusan nyawa kaum Syi’ah melayang pada hari peringatan Asyura di Karbala dan Baghdad pada bulan Maret 2004. Teror yang sama juga terjadi pada Januari 2006 yang menelan korban tidak kurang dari 350 orang kaum Syi’ah. Juga teror yang merenggut hampir 1000 peziarah Syi’ah di Kazhimain. Belum lagi peristiwa pemboman yang meluluh-lantakkan masjid kubah emas tempat disemayamkannya dua dari duabelas imam suci kaum Syi’ah, dan peristiwa-peristiwa pembunuhan yang hampir setiap hari terjadi semakin memperpanjang deretan kekerasan dan pembunuhan yang menimpa kaum Syi’ah Irak. Bahkan Jalal Talabani, presiden Irak yang juga seorang Sunni, dalam wawancaranya dengan koran Al-Hayat terbitan London mengemukakan fakta bahwa dalam kurun waktu antara tanggal 1 Januari 2006 hingga 20 November 2006, jumlah warga Irak yang tewas dalam berbagai insiden mencapai 20.101 orang. Dan dari jumlah itu, sebanyak 15.522 orang atau 77 % adalah warga Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, secara tidak langsung Syaikh Qardhawi telah membenarkan tuduhan bahwa kaum Syi’ahlah yang membunuh saudaranya kaum Sunni. Hal ini dapat secara mudah terbaca dari kata-kata Beliau : “....andai saja pemimpin Syi’ah Ali Khamenei mau mengatakan kepada para pengikutnya, ‘Hentikan pembunuhan atas Muslim Sunni…’ niscaya pembunuhan itu akan selesai”. Atau seperti yang ditulis Ahmad D. Bashori:  “...Bila tidak berbuat sesuatu terhadap apa yang terjadi para ayatullah dan pemimpin Iran secara umum berarti mengamini tuduhan banyak pihak selama ini bahwa mereka punya andil mendanai malapetaka kemanusiaan yang menimpa kaum Sunni Irak sekarang ini.” Sebenarnya sejak kerusuhan melanda Irak pasca invasi AS pada Maret 2003 hingga kini tidak jelas siapa sebenarnya pelaku pembunuhan dan teror di Irak. Adalah media massa Barat dan Arab yang kerap menuding milisi Syi’ah seperti Tentara Badar dan Tentara Al-Mahdi berada dibalik teror terhadap kaum Sunni. Sementara pemerintah Irak dan Iran menyebut kelompok ekstrim takfiri, loyalis Partai Baath, dan agen-agen Asing (baca: CIA dan Mossad) yang kesemuanya tidak terkait dengan satu madzhab apapun sebagai pelaku atau dalang teror terhadap warga Irak tersebut. (Sebagai catatan, jama’ah takfiri adalah jama’ah yang mudah mengkafirkan orang di luar jama’ahnya dan kelompok ini sama sekali tidak identik dengan Ahlussunnah atau Syi’ah). Jadi, apa yang disebut sebagai sect cleansing terhadap kaum Sunni di Irak yang dilakukan kaum Syi’ah sepenuhnya tidak faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sikap Pemimpin Syi’ah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari pernyataan Syaikh Yusuf Qardhawi terkesan bahwa pemimin Syi’ah Ayatullah Ali Khamene’i berdiam diri atas terjadinya berbagai pembunuhan terhadap kaum Sunni di Irak. Padahal dalam berbagai kesempatan pemimpin tertinggi Iran itu berulang kali mengutuk berbagai peristiwa teror yang menyengsarakan rakyat Irak dengan tanpa membeda-bedakan latar belakang madzhabnya. Harapan Syaikh Qardhawi agar Ayatullah Khamene’i meminta kaum Syi’ah untuk menghentikan pembunuhan terhadap kaum Sunni sangat tidak masuk akal, karena dalam pandangan Ali Khamene’i pelaku pembunuhan terhadap kaum Sunni bukanlah kaum Syi’ah seperti halnya pelaku pembunuhan terhadap kaum Syi’ah bukanlah kaum Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum agresor yang kejam dan bengis itu sekali lagi membuktikan bahwa mereka tidak menghargai nyawa dan kehormatan tempat suci. Mereka hanya mengandalkan taktik menebar kepanikan dan pembantaian.” Demikian pernyataan Ali Khamene’i dalam mengutuk peristiwa pemboman Masjid Syi’ah di Samarra pada 22 Februari 2006 yang lalu yang telah menewaskan lebih dari 50 orang serta melukai puluhan lainnya. Situs IRIB Melayu melaporkan bahwa Ali Khamene’i juga mengimbau warga Irak untuk meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap niat musuh untuk memecah barisan persatuan umat Islam. Selain itu, Rahbar juga mengeluarkan fatwa haram atas segala bentuk serangan terhadap masjid-masjid milik kaum Sunni menyusul serangan atas 168 mesjid Sunni yang oleh media barat disebut-sebut sebagai balas dendan kaum Syi’ah atas pemboman mesjid Kubah Emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dalam pernyataannya yang dirilis pada Kamis 18 November 2004 Wali faqih Iran ini mengutuk keras pembantaian kaum Sunni Fallujah oleh tentara agresor AS. Beliau mengatakan: “...tragedi yang menimpa Irak, termasuk dalam bentuk pembunuhan terhadap ribuan anak kecil, kaum perempuan, dan warga sipil lainnya, serta pengeksekusian terhadap para korban luka, pembumi-hangusan rumah-rumah, masjid, dan tempat-tempat peribadatan lainnya, dan penistaan terhadap kehormatan rumah tangga, sekarang ini telah sampai pada taraf yang sangat merisaukan setiap manusia Muslim dan orang yang memiliki rasa kemanusiaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah isu sektarian Sunni-Syi’ah yang makin dihembuskan oleh pihak penjajah yang ingin memecah belah umat Islam, ada baiknya kita simak pesan haji Ayatullah Ali Kahemene’i berkenaan dengan persatuan umat seperti yang dimuat Situs Islam Alternatif:&lt;br /&gt;“...Hari ini, semua tindakan yang dapat memicu perselisihan di dunia Islam adalah dosa yang akan abadi dalam sejarah.  Mereka yang sengaja mengkafirkan saudara-saudara muslimnya dengan alasan sepele. Mereka yang dengan anggapan batilnya menghina kesucian madzhab-madzhab Islam. Mereka yang mengkhianati pengorbanan para pemuda Lebanon yang telah menghadiahkan kebanggaan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mengklaim adanya bulan sabit Syiah hanya untuk menyenangkan hati AS dan kaum Zionis. Mereka yang berusaha menjatuhkan pemerintahan muslim di Irak yang dibentuk oleh rakyat dengan cara menebarkan ketidak-amanan dan pembunuhan sesama muslim. Mereka yang dari berbagai sisi menekan pemerintahan Hamas yang dicintai dan didukung oleh rakyat Palestina, sadar atau tidak, adalah para pendosa yang kejahatannya akan terus diingat oleh sejarah dan generasi-generasi mendatang. Mereka akan dikenal sebagai para pengkhianat dan antek-antek musuh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konspirasi CIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terbongkarnya kebohongan AS tentang adanya senjata pemusnah masal di Irak, diperlukan alasan lain bagi mempertahankan pendudukan AS atas Irak. Maka isu adanya konflik sektarian yang memuncak pada adanya sect cleansing menjadi amunisi baru bagi pemerintahan George W. Bush untuk tetap bercokol di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang beredar di internet akhir-akhir ini menyebutkan adanya sebuah buku yang berjudul A Plan to Divide and Destroy the Theology yang terbit di AS. Buku ini berisi wawancara Dr. Michael Brant, mantan anggota penting CIA yang membidangi masalah Syi’ah dan telah lama bertugas di bagian ini tetapi kemudian dipecat karena korupsi dan penyelewengan jabatan. Dr. Brant –tampaknya dalam rangka balas dendam atas pemecatan dirinya- telah mengungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dia mengatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk melancarkan berbagai aktifitas anti Syiah. Dari sekian banyak program CIA yang diungkapkannya, salah-satu diantaranya adalah membenturkan Syi’ah dengan Sunni sehingga terjadi permusuhan satu sama lain tidak hanya di kalangan awamnya tetapi juga di kalangan ulamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya apa yang terjadi di Irak saat ini adalah hasil dari sebuah konspirasi. Ketika tidak ada peluang untuk membenturkan kaum Sunni dan Syi’ah secara ideologis karena fakta historis bahwa mereka sudah hidup berdampingan dengan rukun  selama ratusan tahun, maka dilakukanlah teror terhadap mereka dan dikesankan mereka saling membunuh satu sama lain. &lt;br /&gt;Mengakhiri opini singkat ini penulis setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa isu adanya konflik sektarian dan sectcleansing di Irak sebenarnya sengaja dihembuskan oleh pihak penjajah yang dalam hal ini AS dengan sekutu baratnya dan kaum Zionis Israel yang berupaya melemahkan umat Islam dengan jalan mengadu domba satu dengan lainnya. Sayangnya ada sebagian umat Islam, bahkan termasuk kalangan ulamanya, yang termakan politik adu domba ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Zaenal A. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------ooo0ooo-----&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715637912749179078-8231253300219713845?l=kian-santang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kian-santang.blogspot.com/feeds/8231253300219713845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5715637912749179078&amp;postID=8231253300219713845' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8231253300219713845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715637912749179078/posts/default/8231253300219713845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kian-santang.blogspot.com/2007/02/mengkritisi-isu-konflik-sektarian-dan.html' title='Mengkritisi Isu Konflik Sektarian dan Sect-Cleansing di Irak'/><author><name>Kian Santang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10226869610204771246</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
