Wednesday, April 18, 2007

"Kota Suci" di Indonesia



The holy city atau kota suci bagi umat Islam lazim disematkan kepada tiga kota di dunia yaitu Mekah al-Mukaromah, Madinah al-Munawaroh, dan Yerusalem al-Quds. Umat Islam –apapun madzhabnya- mengakui kesucian ketiga kota tersebut. Mengapa disebut kota suci? Biasanya jawaban yang lumrah untuk pertanyaan di atas adalah karena di Mekah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, dan di Yerusalem ada Masjid al-Aqsha. Jadi kesucian ketiga kota tersebut adalah karena adanya masjid-masjid itu. Kalau pertanyaannya kita lanjutkan, mengapa dengan adanya masjid-masjid itu kota-kota tersebut menjadi kota suci? Jawabannya adalah karena ketiga masjid tersebut terkait erat dengan perjuangan dan dakwah seorang manusia suci dalam menyebarkan agama yang suci ini. Manusia suci itu adalah Muhammad, Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam), dan agama suci itu adalah Islam. Tanpa diakitkan dengan Rasulullah, sang manusia suci itu, mustahil masjid-masjid itu dikenal sebagai masjid suci, dan mustahil pulalah ketiga kota itu menjadi kota-kota suci yang menjadi tempat tujuan ziarah kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia.

Bagi muslim Syi’ah, Rasulullah (saaw) bukan satu-satunya manusia suci, kendati tidak diragukan lagi bahwa Beliau adalah manusia bahkan makhluk tersuci. Masih ada 13 manusia suci lainnya yang kesuciannya mutlak sebagaimana kesucian Rasulullah. Mereka adalah Fatimah Azzahra binti Rasulullah dan 12 Imam penerus Rasulullah (shalawatullah 'alaihim wasallam). Perjuangan dan dakwah para manusia suci tersebut tidak terbatas pada kota-kota Mekah dan Madinah saja, tetapi juga Najaf, Karbala, Kazhimain, Samarra, dan bahkan Masyhad. Di kota-kota itu akan kita temukan jejak-jejak perjuangan mereka baik berupa masjid ataupun makam. Itulah sebabnya, kaum Syi’ah tidak hanya memiliki tiga kota suci, tetapi banyak kota suci.

Kaum Syi’ah sangat menghormati para manusia suci tersebut, sehingga orang-orang yang berkaitan erat dengan perjuangan mereka dan dikenal memiliki ketakwaan dan maqom spiritual yang tinggi, juga sering disebut orang suci. Sayyidah Zainab, Sayyidah Sukainah, Abu Fazhl al-Abbas dan para sahabat Imam Husain yang gugur di Karbala, adalah contohnya. Sayyidah Fatimah ma’shumah yang merupakan cucu Imam Ja’far Shadiq adalah contoh lain di mana kota suci Qum dikaitkan dengan makam beliau yang terletak di sana.

Adakah “kota suci” di Indonesia ? Ada, dan bahkan banyak, kalau kriteria “kota suci” kaum Syi’ah diterapkan di Indonesia oleh umat islam Indonesia seperti saya. Umat Islam Indonesia mengenal para waliyullah penyebar agama Islam di Nusantara sebagai orang-orang suci. Di antaranya adalah wali songo. Bila kota dimana terdapat makam para wali kita sebut sebagai kota suci, maka kita akan mempunyai banyak kota suci di Indonesia seperti kota suci Cirebon, dimana terdapat makam Syaikh (atau Sayyid ?) Syarif Hidayatullah, kota suci Serang di mana terdapat makam Syaikh Maulana Yusuf, kota suci Ampel, Gresik, Kudus, Bonang, dan Muria tempat disemayamkannya para waliyullah Sunan Ampel, Maulana malik Ibrahim, Sunan Kudus, Sunan Bonang, dan Sunan Muria, juga Banda Aceh dimana terdapat makam Sultan Malik al-Salih, raja sekaligus penyebar Islam di Samudra Pasai.

Bagi saya, orang suci tidak harus selalu ulama atau penyebar agama, seorang pejuang yang syahid di jalan Allah juga layak disebut orang suci dan kota di mana tanahnya dijadikan tempat peristirahatan terakhir para syahid itu juga layak disebut kota suci. Maka, bagi saya, hampir tidak ada kota di Indonesia yang tidak berhak dijuluki kota suci, karena Indonesia adalah negeri yang penuh dengan perjuangan yang setiap generasi selalu melahirkan para pejuang yang syahid di jalan Allah, selama berabad-abad, di setiap kota dan daerah, tercatat ataupun tidak oleh sejarah.

(Tulisan pendek ini saya dedikasikan untuk arwah suci Cut Nyak Dien, pahlawan Aceh yang dibuang Belanda ke kota Sumedang, Jawa Barat. Di Sumedang, beliau yang dijuluki masyarakat setempat sebagai “Nyi Prabu Sebrang” tidak lagi memanggul senjata tetapi mendarma-baktikan sisa hidupnya untuk mengajar al-Qur’an dan ajaran suci al-Islam bagi masyarakat Sumedang. Image: Makam Cut Nyak Dien, di Desa Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.)

Zaenal A. Muslim

1 comment:

Mochamad Sopian said...

assalamualaikum kang zaenal ('a' na arief sanes pemaen persib ?he..he. )
nepangkeun abdi ope (add di friendster: ms_ansori@yahoo.co.uk) pecinta ahlul bayt alias syi'ah di bandung) salam kenal kang punten tos wawantunan ninggalan blogna!