Friday, September 14, 2007

Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as) 1

Bismihi ta'ala

Tulisan ini adalah kiriman dari seorang kawan, sebut saja namanya Muhammad. Saya tidak tahu jatidiri penulis yang sebenarnya, jadi untuk sementara saya nisbatkan kepada kawan saya itu. Tapi -saya yakin- siapapun nama penulisnya, dia adalah "Muhammad".

Ulama Sunni Bicara tentang 12 Imam Ahlul Bayt (as)

Telah lewat disebutkan bahwa Nabi saww telah memberi berita gembira akan kedatangan dua belas imam dan khalifah yang akan memimpin umat Islam, dan telah kita saksikan pula bagaimana kerancuan penafsiran ulama Ahlusunah tentangnya.

Dari sekian banyak tafsiran terhadap hadis-hadis tentang adanya dua belas imam yang jumlahnya sangat banyak dan sahih itu hanya tafsiran pengikut ahlulbait-lah yang sesuai dan tepat, sebab:

Pertama: Hanya tafsiran Syiah yang sesuai dalam jumlah sebagaimana yang disebut dalam hadis-hadis tersebut.
Kedua: Adanya kesinambungan dan kebersambungan mata rantai kepemimpinan, sementara dalam tafsiran-tafsiran lain kita melihat adanya keterputusan atau bahkan pemaksaan.
Ketiga: Kelayakan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nama-nama yang disebutkan dalam penafsiran lain.
Kempat: Tafsiran Syiah didukung oleh riwayat-riwayat lain yang menyebut nama-nama mereka satu persatu.

Dan yang juga perlu kita ketahui bersama bahwa para imam ahlulbait a s adalah pribadi-pribadi yang telah dikenal dan diakui keunggulan dan kelebihannya baik oleh mereka yang simpatik dan mengakui keimamahan mereka maupun oleh lawan dan mereka yang tidak mengakui imamah mereka. Para imam ahlulbait a s bukan pribadi-pribadi yang asing di kalangan masyarakat Islam umumnya dan kalangan ulama khususnya.
Kesaksian ulama Islam dari berbagai mazhab dan aliran adalah bukti nyata kelebihan dan imamah mereka.

Di bawah ini kami sebutkan data ringkas para Imam suci AhlulBait as. 1

Imam Pertama: Ali bin Abi Thalib as

Ayah: Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf.
Ibu: Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.
Tempat atau tanggal lahir: Mekah al-Mukarramah (di dalam Ka'bah) pada hari Jumat tanggal tiga belas bulan Rajab, tiga puluh tahun sebelum kenabian.
Wafat: Beliau syahid dikota Kufah pada tanggal dua puluh satu bulan Ramadhan tahun empat puluh H. dalam usia enam puluh tiga tahun setelah dipukul dengan pedang oleh Abdurrahman bin Muljam dan dikebumikan di Kufah.

Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Ali a s

Para Ulama menegaskan bahwa tiada seorang dari sahabat Nabi saww yang memiliki keutamaan yang disebut dalam hadis-hadis Nabi saww yang sahih lebih dari Ali a s.
Dalam kesempatan ini saya tidak bermaksud menyebut hadis-hadis tentang keutamaan beliau, sebab hal itu membutuhkan berjilid-jilid kitab, namun saya hanya bermaksud menyebut sekelumit keutamaan yang masyhur yang telah disebut dalam hadis-hadis Nabi saww.
Imam Ali as adalah pribadi pertama yang beriman dan memeluk Islam setelah istri Nabi saww Khadijah as. Kedudukan beliau di sisi Nabi saww bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa as bahkan beliau adalah bagaikan jiwa Nabi sendiri seperti ditegaskan dalam ayat al-Mubahalah.
Imam Ali adalah Wali setiap mukmin dan mukminah sepeninggal Nabi saww.
Beliau adalah Washi dan Khalifah Nabi Muhammad saww, pewaris dan pengemban amanat Risalah.
Beliau adalah ash-Shiddiq al-Akbar dan Faruq yang memilah antara hak dan batil, kecintaan kepadanya adalah tanda keimanan dan kebencian kepadanya adalah bukti kemunafikan, membencinya berarti membenci Allah dan Rasul-Nya, mencacinya berarti mencaci Allah dan Rasul-Nya dan memeranginya berarti memerangi Allah dan Rasul-Nya.
Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali
Pribadi agung yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Sahabat Nabi saww terpandai dan pintu kota ilmu Nabi saww penjelas apa yang diperselisihkan oleh umat sepeninggal Nabi saww.
Pribadi yang paling berjasa dalam menegakkan agama Islam dan pembelaannya dalam berbagai pertempuran melawan kekafiran tidak dapat dipungkiri; di Badr, Uhud, Khaibar, Hunain dan lain sebagainya.

Di bawah ini kami kemukakan kemampuan Imam Ali a.s. sebagaimana yang dikuatkan oleh nash-nash hadis yang sahih.

Rasulullah saww. berkata, "Perumpamaan Ali bagi kamu sekalian adalah ibarat Ka’bah….”
(Jalaluddin Al-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, jilid I, halaman 96; Ibnu ‘Asakir dari hadis Abu Bakar, Utsman, Aisyah, dll. Hadis ini di-takhrij pula oleh Al-Kanaji dalam Al-Kifayah, dan Al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib.

Apabila Ka'bah bisa menyatukan kiblat umat saat mereka menghadap kepada Allah SWT dalam shalat atau ketika menunaikan rukun-rukun haji dan ‘umrah, maka demikian pulalah yang dilakukan oleh Ali dan ajarannya yang diambil oleh banyak orang di Dunia Islam.

Imam Ali adalah jalan lurus (Shirath A I-Mustaqim), yang darinya umat menimba ilmu Ilahi dan pengetahuan dalam menentukan syariat sesudah Rasulullah saww., tanpa ada orang lain yang memilikinya.

Rasulullah saww. mengatakan, "Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas bagi umatku sesudahku, tentang agama yang untuk itu aku diutus. Mencintainya adalah iman, dan membencinya adalah kemunafikan." (Hadis ini di-takhrij oleh Abu Na'im dalam Hilyat Al-Auliya’, dan diriwayatkan oleh Al-Dailami dalam Firdaus Al-Akhbar; AI-Hamawaini dalam AlFara’id, dll.)

Rasulullah Saaw. mengatakan pula, "Aku adalah gudang ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya.... " (Hadis ini di-takhrij oleh Ahmad bin Hanbal, dan Al-Tirmidzi dalam jami’ Al-Shahih-nya. Dikutip dari Muhammad Al-Ghumari, Fath AI-Muluk Al’Aliy bi Shihhat bob Madinat Al’ilm 'Ali, cetakan kedua, 1969).
Ali persis Rasulullah saww. dalam menegakkan keadilan di tengah manusia. Telapak tangannya sama dengan telapak tangan beliau. Rasulullah saww. mengatakan, “Wahai Abu Bakar, tanganku dan tangan Ali, dalam menegakkan keadilan, adalah sama.” (Hadis ini di-takhrij oleh Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’; Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Al-Kabir-nya, dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Manaqib-nya. Dikutip dari Maqam Amir Al-Mu’minin, halaman 12.)

Rasulullah mengatakan bahwa Ali a.s. adalah sama dengan diri beliau. Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad-nya, meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Khanthab, katanya, “Rasulullah saww. berkata kepada utusan Bani Tsaqif ketika menghadap kepada beliau, 'Anda boleh memilih, menyerah atau saya akan kirim seorang laki-laki yang seperti aku untuk memerangi Anda sekalian, menawan anak-isteri Anda, dan merampas harta Anda (kemudian beliau berpaling kepada Ali, lalu memegang tangannya), lalu berkata, ’inilah orang yang saya katakan itu. Inilah orang yang saya katakan itu. (Hadis ini di-takhrij oleh Ibnu Hanbal dalam Al-Manaqib, dan Abu Na’im dalam Hilyat; Al-Tirmidzi, dll)

Imam Ali a.s. adalah orang yang paling tahu secara lengkap masalah-masalah hukum sesudah Rasulullah saww. Anas bin Malik mengatakan, “Rasulullah saww. berkata, “Yang paling tahu tentang hukum di antara umatku, adalah Ali” (Lihat Al-Riyadh .A1-Nadhrah,jilid II, hal. 198. Juga Al-Kanaji Al Syafi’i, Al-Kifayah; Ibn Al-Shabagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, dan Al-Baladzuri, Ansab Al-Asyraf. Dikutip melalui Maqam Amir AlMu'minin, hal 32.)

Hadis tersebut di atas mengisyaratkan bahwa, Imam Ali a.s. adalah orang yang paling cakap dalam mengurus persoalan umat dan memutuskan persengketaan mereka ketimbang orang lain.

Rasulullah saww. berkata, “Ali bersama kebenaran (haq), dan kebenaran (haq) bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga dikembalikan ke telaga (Al-Haudh) di hari Kiamat.” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Kabir, jilid IV, hal. 321; Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa Al-Siyasah; Ibn Sa’ad, Kunz Al-'Ummal; Al-Zamakhsyari, Rabi’ Al-Abrar; Al-Hamawaini, Al-Farald, dll. Dikutip dari 'Ali wa Al-Washiyyah, hal. 113.)


Sepanjang Imam Ali a.s. adalah pemelihara kebenaran yang dengan itu Allah SWT memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, maka keduanya (Ali dan kebenaran) tidak bisa dipisahkan. Rasulullah Saaw. mengajak umatnya untuk mengikuti manhaj-nya dan berpijak secara teguh pada langkahnya agar selamat dari kesesatan dan tidak mengikuti jalan-jalan lainnya, sehingga menyimpang dari jalan Allah SWT. Rasulullah saww. mengatakan, “Akan muncul sesudahku fitnah. Kalau masa itu sudah tiba, maka ikutilah Ali bin Abi Thalib. Sebab, dia adalah orang pertama yang melihatku dan bertemu denganku di hari Kiamat. Dia merupakan bagian dari diriku di langit yang tinggi, dan dia adalah pembeda yang haq dari yang bathil.” (Lihat Al-Kanaji AI-Syafi'i, Al-Kifayah, dan Al-Hafizh dalam 'Amali-nya, dll. Untuk referensi lebih jauh, baca Najmuddin Al-Askari, ‘Ali wa Al-Washiyyah, hal. 167.)

Adapun tentang keimanan Imam Ali a.s. Rasulullah saww. mengatakan, “Kalau seandainya langit dan bumi ini merupakan dua tempat yang berada di satu tangan, dan keimanan Ali berada di tangan yang lain, niscaya (timbangan) iman Ali lebih berat (daripada langit dan bumi).” (Hadis ini di-takhrij oleh Al-Dailami dari Ibnu ‘Umar. Lihat Kanz Al-Ummal, jilid VI, hal. 156, dan Riyadh Al-Nadhrah, jilid II, hal. 226. di-takhrij dari Umar ibn Al-Khaththab. Dinukil dari Maqam Amir Al- Mu’minin hal. 15.)
Itulah beberapa keistimewaan Imam All a.s. sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saww.

Dan selain yang kami sebut masih banyak keutamaan lain yang dapat Anda jumpai dalam kitab-kitab ulama Islam yang berbicara tentang keutamaan Imam Ali a s.
Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang Ahlul-Bait dan keutamaan Ali bin Abi Thalib a s. Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku berkata: “Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang memiliki fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanadnya yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib.”

Menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi’ah. Begitu anggapan umum waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi’ahan seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat. Ahlus-Sunnah akan menyebut dengan urutan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seterusnya. Sedangkan Syi’ah akan memulai urutan sahabat itu dari Ali. Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hambal menanyai ayahnya, “Bagaimana pendapat Anda tentang tafdhil (urutan keutamaan) sahabat?” Ahmad bin Hambal menjawab, “Dalam- khilafah: Abu Bakar, Umar, Utsman.”
“Lalu bagaimana dengan Ali?” tanya Abdullah.
“Wahai anakku,”• kata Ahmad bin Hambal, “Ali bin Abi Thalib termasuk ahlul-bait dan orang tidak dapat diperbandingkan dengan mereka!”

Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, “Hai Abu Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis -Ali pembagi neraka?”
Ahmad :Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi s.a.w. pernah berkata kepada “Tidak mencintaimu kecuali mukmin, dan tidak membencimu kecuali munafik.”
Orang-orang :Betul (nabi berkata begitu).
Ahmad :Di mana orang mukmin menetap?
Orang-orang :Di surga.
Ahmad :Di mana orang munafik menetap?
Orang-orang :Di neraka.
Ahmad :Kalau begitu, Ali adalah pembagi neraka.

Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi’ah kepadanya. Bukankah Syi’ah adalah mazhab yang mengikuti ahlul-bait - dengan Ali sebagai rujukannya. Lagi pula Ahmad bin Hambal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi’ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah Abdurrahman bin Shalih, seorang Syi’ah. Ahmad bin Hambal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, “Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata - jangan mencintainya? Abdurrahman bin Shalih adalah tsiqat (orang yang dapat dipercaya).”

Tuduhan Syi’ah terhadap Ahmad bin Hambal ini untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan Ahmad bin Hambal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi'i. Beliau beserta tiga ratus orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Seorang demi seorang dipancung di depan Khalifah. Imam Syafi’i selamat, setelah ia mengucapkan salam kepada Harun Al-Rasyid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, karena riwayat mihnah Imam Syafi’i ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi’i ialah bahwa ia Syi’ah.

Imam Kedua: Imam Hasan bin Ali as

Ayah : Imam Ali a s.
Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada malam pertengahan bulan Ramadhan tahun dua H.
Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Shafar tahun 50 H dalam usia 48 tahun dan dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ Madinah.

Imam Ketiga: Imam Husain a s

Ayah: Ali bin Abi Thalib a s.
Ibu: Fatimah az-Zahra' putri Rasulullah saww.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal tiga bulan Ramadhan tahun ketiga H.
Syahadah: beliau syahid di padang Karbala pada tanggal sepuluh bulan Muharram dalam usia lima puluh delapan tahun dan dikebumikan di Karbala.

Sekilas Tentang Keutamaan Imam Hasan dan Imam Husain a s

Beliau berdua adalah penghulu penghuni surga, paling dicintai Rasulullah saww.
Keduanya adalah Imam, baik berkuasa ataupun tidak. Keduanya adalah sebaik-baik manusia ayah dan ibunya serta kakek dan neneknya.
Barangsiapa mengganggu Hasan dan Husain berarti ia mengganggu Nabi saww.
Ibnu Hajar dalam Shawaiq-nya menyebut beb erapa riwayat tentang keutamaan Imam Hasan dan Husain as, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya.
Nabi saww bersabda,

“Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda penghuni surga.” 2
Nabi saww bersabda,
"Sesungguhnya al-Hasan dan al-Husain adalah buah hatiku dan dunia.3
Nabi saww bersabda:
”Keduanya adalah putraku dan putra putriku. Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya dan cintai yang mencintai keduanya”4

Imam Keempat: Imam Ali Zainal Abidin a s 5

Ayah: Imam Husain a s.
Ibu: Syah Zinan putri Yazdarjud—raja Persia—dan ada yang mengatakan namanya: Syahr Banu.
Tempat atau tanggal lahir: Madinah al-Munawwarah pada tanggal lima bulan Syakban tahun 38 H.
Wafat: Di Madinah pada tanggal 25 bulan Muharram tahun 95 H dalam uisa 57 tahun; dua tahun di masa hidup kakek beliau Imam Ali a s sepuluh tahun bersama paman beliau Imam Hasan dan sebelas tahun di masa ayah beliau Imam Husain a s. Beliau dikebumikan di pemakaman al-Baqi’ bersama Imam Hasan a s.
Beliau meninggalkan sebelas orang anak laki-laki dan empat perempuan, Ibnu Hajar mengatakan: "Dan yang mewarisi ketekunan ibadah, ilmu dan kezuhudan adalah Abu Ja`far Muhammad al-Baqir.6
Sekilas Tentang Keutamaan Imam Ali Zainal Abidin a s

Ibnu Hajar berkata “Ia adalah pelanjut pewaris ayahnya dalam ilmu, kezuhudan, dan ibadah, beliau apabila berwudhu pucat wajah beliau dan ketika ditanya beliau menjawab: Tidakkah kalian tahu di hadapan siapakah aku hendak berdiri?”
Disebutkan dalam sejarah bahwa ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik melaksanakan ibadah haji, ia berusaha untuk mencium hajar aswad namun kerumunan para jemaah haji menghalanginya dan mereka pun tidak menghiraukan kehadiran sang Khalifah, lalu ia beristirahat di puncak gunung sambil menanti berkurangnya jumlah para jemaah haji di sekitar Ka’bah. Namun tiba-tiba ia dikejutkan

oleh kehadiran seseorang yang penuh wibawa berjalan menuju hajar aswad dan kemudian orang-orang pun minggir dan memberinya jalan sehingga ia dengan mudah mencium hajar aswad. Hisyam merasa malu dan marah ketika ditanya oleh pcndukungnya: "Siapakah dia? Ia menjawab—seakan tidak mengenalnya: Aku tidak mengenalnya. Kemudian Farazdaq—seorang penyair besar di zamannyamempermalukan Hisyam dengan menjawab “Tapi saya mengenalnya,” lalu ia menggubah bait-bait syairnya yang masyhur mengungkap keutamaan putra Imam Husain a s tersebut dan keluarga besar ahlulbait a s dan ia menegaskan bahwa kepura-puraan Anda tidak mengenalnya tidak sedikitpun mengurangi keagungan dan kemuliaannya, sebab ia telah dikenal oleh semua kalangan baik kalangan Arab maupun non Arab.
Dan ketika bait-bait itu didengar oleh Hisyam ia marah dan memenjarakan Farazdaq di penjara Usfaan. 7

Kesaksian Para Ulama

Adapun kesaksian para Ulama tentang keagungan kepribadian Imam Ali Zainal Abidin adalah banyak sekali, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian darinya.
Ibnu Sa'ad berkata tentang beliau as: Ia tsiqah terpercaya, banyak hadis (riwayat darinya), tinggi agung dan wara’. Ibnu Uyainah menukil Zuhri berkata “Aku tidak pernah menyaksikan seorang dari suku Quraisy yang lebih mulia dari Ali bin al-Husain. 8
Ibnu Uyainah juga menukil dari Zuhri bahwa ia berkata “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih faqih darinya.”
Imam Malik juga berkata “Tiada di kalangan ahlulbait Rasulullah saww seseorang seperti Ali bin al-Husain. 9
Sa`id bin al-Musayyib berkata “Aku tidak melihat seseorang yang lebih wara’ darinya.10
Nafi' bin Jubair berkata kepada beliau: “Sesungguhnya Anda adalah penghulu umat manusia dan yang paling afdhal”.11
Dan telah lewat pernyataan Ibnu Hajar bahwa Imam Zainal Abidin a s adalah yang mewarisi ayahnya dalam ilmu, kezuhudan dan ibadah.
Dan ketika berita wafat beliau sampai kepada Umar bin Abdul Aziz ia berkata: “Pergilah lentera agama, keindahan Islam dan penghias para penyembah.”12
Abu Zuharah—salah seorang ulama besar al-Azhar—berkata: “Ia, Zainul Abidin adalah seorang faqih sebagaimana beliau juga seorang muhadits, beliau memiliki kemiripan dengan kakek beliau Ali bin Abi Thalib dalam kemampuan penguasaan masalah fiqih dari perbagai sisinya dan pengembangan masalah-masalahnya.”13

Imam Kelima: Imam Muhammad al-Baqir as

Ayah: Imam Ali Zainal Abidin a s.
Ibu: Fatimah putri Imam Hasan bin Ali a s.
Tempat dan tanggal lahir: Madinah pada awal bulan Rajab tahun 57 H. tiga tahun sebelum syahadah kakeknya; Imam Husain as.
Wafat: Di Madinah pada tanggal tujuh bulan Zulqa’dah tahun 114 H setelah diracun—sebagaimana ayah beliau—dalam usia lima puluh tujuh tahun dan meninggalkan enam orang anak, yang paling afdhal dan sempurna adalah Ja`far ash-Shadiq oleh karenanya beliau adalah khalifah dan washi (pengemban wasiat) ayahnya, demikian dikatakan Ibnu Hajar.
Beliau a s dikebumikan dipemakaman al-Baqi’ dalam satu gubbah bersama Imam Hasan dan Abbas.

Sekelumit Tentang Keutamaan Imam Muhammad al-Baqir a s

Para Ulama meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdillah al-Anshari r a, seperti dikisahkan oleh Zubair bin Muhammad bin Muslim alMakki, ia berkata: “Kami berada di sisi Jabir bin Abdillah r a lalu Ali bin Husain datang bersama Muhammad—putra beliau, ketika itu ia masih kanak-kanak, kemudian Ali berkata kepada putra beliau; ‘Ciumlah kepala pamanmu!’ lalu Muhammad mendekat kepada Jabir dan mencium kepalanya. Kemudian Jabir berkata: ‘Siapakah dia? (dan ketika itu ia sudah tidak melihat/buta). Lalu Ali berkata: ‘Dia adalah putraku.’ Maka Jabir memeluknya dan berkata: ‘Muhammad! Muhammad Rasulullah saww mengucapkan salam atasmu.’”
Maka para hadirin bertanya: “Bagaimana hal itu terjadi wahai Abu Abdillah?” Ia menjawab: “Saya berada di sisi Rasulullah saww dan Husain berada di pangkuannya, ia bergurau dengannya, lalu beliau bersabda: "Hai Jabir! putraku ini akan memiliki anak yang jika pada hari kiamat penyeru akan menyerukan: ‘Hendaknya penghulu para penghamba (Sayyidu Sajidiin) maka bangkitlah Ali bin Husain, dan Ali bin Husain akan dikeruniai seorang putra bernama Muhammad. Hai Jabir! jika kamu menemuinya maka sampaikan salam dariku dan jika kamu menemui masanya maka ketahuilah bahwa hidupmu setelahnya hanya sembentar.’”
Zubair bin Muhammad berkata: “Maka Jabir r a tidak hidup setelahnya kecuali tiga hari.14
Imam Muhammdan bin Ali a s digelari dengan “al-Baqir” karena beliau telah mampu mengeluarkanrahasia-rahasia ilmu dan hukum-hukum dari tempat persembunyiannya. Kata al-Baqir berasal dari kata kata kerja Baqara yang artinya membelah, baqara al-ardha artinya: (membelah bumi dan mengeluarkan isi dan kandungannya).

Kesaksian Para Ulama

Para ulama begitu mengagungkan Imam al-Baqir a s, Atha' alMakki—salah seorang tokoh tabi’in—berkata: “Aku tidak melihat para ulama begitu kecil di hadapan seseorang sebagaimana mereka di hadapan Abu Ja’far Muhammad putra Ali bin al-Husain, aku melihat al-Hakam bin Uyainah—dengan keagungannya di kalangan masyarakat—ia di hadapannya (al-Baqir ) seakan ia seorang bocah di hadapan gurunya! 15

Kesaksian serupa juga disampaikan para Ulama seperti Muhammad bin al-Munkadir, Abu Nu’aim, Ibnu Sa'ad, an-Nawawi, Ibnu Ammad al-Hanbali, Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy, Ibnu Khallikan dan Ibnu Shabban asy-Syafi'i. 16

Al-Munnawi berkata: “Dan beliau sangat mendalam dalam maqam orang-orang al-Arifin yang lisan para pensifatnya tidak mampu menguraikannya, beliau memiliki kalimat (untaian pernyataan) yang banyak tentang suluk dan pengetahuan (ma'arif) para pensifatnya tidak akan mampu menceritakannya.”17

Dalam kitab Hilyah al-Awliya' disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Ibnu Umar tentang sebuah masalah dan ia tidak mengetahui jawabannya, ia berkata kepada penanya tersebut: “Pergilah kepada anak kecil itu sambil menunjuk kepada al-Baqir—dan tanyakan kepadanya lalu beritahukan kepadaku jawabannya.” Kemudian ia pergi dan bertanya dan Imam alBaqir menjawab lalu penanya itu memberitahukan jawabannya kepada Ibnu Umar, maka Ia berkata: “Sesungguhnya mereka adalah ahlulbait yang mendapatkan kepahaman (dari Allah).”18

(bersambung)

19 comments:

Muhibbin said...

Umat Muslim wajib mencintai para tokoh-tokoh tersebut. Namun bukan berarti harus mengkultuskan mereka sampai hampir menyamai derajat ketuhanan.
kepada para syiah rafidhah, tolong jangan racuni negeri ini dengan tipu muslihat dan taqiyah yang sesat

ageng said...
This comment has been removed by the author.
ageng said...
This comment has been removed by the author.
ageng said...

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat."

(H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533, juga terdapat di dalam kitab-kitab induk hadis yang lain)

Mihibbin > Sebodoh bodohnya umat Islam, mereka tahu mana KHALIQ Sang Pencipta dan mana MAKHLUQ ciptaanNya. Justru yang harus dikhawatirkan adalah orang yang menganjurkan untuk mencintai beliau para maksumin as. Sementara dirinya lebih memilih untuk menjalankan aktivitas beragamanya TIDAK MERUJUK dari Ahlulbait/Ittrah Nabi saww.

Padahal mencintai bermakna segala perilaku dan akhlaqnya adalah mereferensikan kepada Rasulullah saww melalui periwayatan dari para maksumin, bukan periwayatan dari tetangganya..

Salam
^_^

elfizonanwar said...

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.

Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu KELUARGA RUMAHTANGGA RASULULLAH Berarti kel Saidina Muhammad SAW yg seharusnya, kedua orang tua beliau, tapai keduanya belum Muslim dan sudah meninggal, diri saidina Muhammad SAW sendiri, atau saudara kandungnya (tapi beliau anak tunggal), isteri-isterinya, anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, sayangnya anak beliau yang lelaki tak ada yang sampai besar, tidak meninggalkan anak keturunan.

Keturunan Bunda Fatimah, Hasan, Husein dan lainnya yg perempuan ya tidak lagi masuk ahlul bait krn. nasabnya Saidina Ali bin Abi Thalib. Krn Al Quran hanya mengenal nasab dari laki-laki kecuali Isa bin Maryam (QS. 33:4-5)

ageng said...

Tulisan saudara elfizonanwar tidak disertakan dalil-dalil yang menyertainya, khususnya asbabun nuzul berkenaan dengan QS. Al Ahzab: 33 tersebut, yakni berkenaan dengan Kisah Ahlul Kisa'.

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: "Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ". Yang artinya: "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya." (QS 33/33).

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab: "Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)". (Ma’ani l`Akhbar).

Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).

Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlu l`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : "Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…".

Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnyamu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya):

"Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir". (Al-Nahl 44).

bersambung..

ageng said...
This comment has been removed by the author.
ageng said...

Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlu l`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : "Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…".

Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnyamu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya):

"Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir". (Al-Nahl 44).

bersambung....

ageng said...

"Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (Al-Nahl 64).

"Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya". (QS 59/7).

"Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…". (QS 4/59).

Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : "Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’". (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : "Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda : ‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’". (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335; Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, "Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,". Kemudian Ummu Salamah berkata: "Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?". Beliau bersabda, "Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan". (HR Al-Turmudzi 2:319).

Anas bin Malik telah berkata : "Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’". (HR Al-Turmudzi 2 : 29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.

ageng said...
This comment has been removed by the author.
ageng said...
This comment has been removed by the author.
Aki Adnani said...

Bicara soal tonjol-menonjolkan tokoh kesayangannya sudah lama terjadi sejak zaman sebelum atau ketika berlangsung masa hidup Rasulullah, dan tentunya berlangsung hingga kini. Dan berujung kepada kultus. Dibuktikan bahwa seseorang tidak akan senang bila tokoh kesayangannya tidak dipuji orang lain sebagaimana ia memujinya. Padahal boleh jadi yng mungkin adalah istilah: tiada gading yang tak retak, alias setiap pribadi ada saja kelemahan atau kekurangan. Bahkan Rasulullah sendiri berulang kali mendapat tegoran dari Allah. Bila Ahlul bayt adalah istri-istri nabi saja, atau terbatas kepada Rasulullah, Fatimah, Ali Hasan dan Husein biar sajalah, tokh mereka sudah tiada lagi, demikian pula para sahabat yg konon dijamin atau yg tidak dijamin masuk surga. Yg harus kita siasati adalah perbuatan kita sekarang ini. Mau mencontoh ke para sahabat ataukah keturunan ahlul bayt, semuan keterangan kita peroleh berasal dari kitab-kitab yg telah tertambal sulam, sebagaimana gelindingan bola salju, boleh jadi yang orisinalnya telah banyak tertutup atau boleh jadi hilang.Ingat umur agama semenjak Islam tanpa nabinya sudah berumur selitar 1400 tahun lho. Yang simpel kita ambil dari Alquran QS2:112. Peragaan syariatnya ikuti yg kita bisa, tanpa lupa untuk selalu mencari dan terus mencari ilmu.

Aki Adnani said...

Bicara soal tonjol-menonjolkan tokoh kesayangannya sudah lama terjadi sejak zaman sebelum atau ketika berlangsung masa hidup Rasulullah, dan tentunya berlangsung hingga kini. Dan berujung kepada kultus. Dibuktikan bahwa seseorang tidak akan senang bila tokoh kesayangannya tidak dipuji orang lain sebagaimana ia memujinya. Padahal boleh jadi yng mungkin adalah istilah: tiada gading yang tak retak, alias setiap pribadi ada saja kelemahan atau kekurangan. Bahkan Rasulullah sendiri berulang kali mendapat tegoran dari Allah. Bila Ahlul bayt adalah istri-istri nabi saja, atau terbatas kepada Rasulullah, Fatimah, Ali Hasan dan Husein biar sajalah, tokh mereka sudah tiada lagi, demikian pula para sahabat yg konon dijamin atau yg tidak dijamin masuk surga. Yg harus kita siasati adalah perbuatan kita sekarang ini. Mau mencontoh ke para sahabat ataukah keturunan ahlul bayt, semuan keterangan kita peroleh berasal dari kitab-kitab yg telah tertambal sulam, sebagaimana gelindingan bola salju, boleh jadi yang orisinalnya telah banyak tertutup atau boleh jadi hilang.Ingat umur agama semenjak Islam tanpa nabinya sudah berumur selitar 1400 tahun lho. Yang simpel kita ambil dari Alquran QS2:112. Peragaan syariatnya ikuti yg kita bisa, tanpa lupa untuk selalu mencari dan terus mencari ilmu.

Anonymous said...

Coba cari hadis al kisa dan hubungannya dgn quran surat al kautsar. Disitulah jawabannya

Anonymous said...

Benar banget.

Anonymous said...

Contoh tegorannya spt apa mas ? Mmg mas tahu drmn nabi ditegor Allah ? Yg bener aja mas.

Anonymous said...

buah tak akan jatuh jauh dr pohonnya. negara islam mana sih sahabat amrik dan israel ? negara islam mana yg di embargo 35 thn amrik dan konco2 nya ? itulah gambarannya.

Anonymous said...

nggak jelas.

Anonymous said...

nggak jelas.